Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 4 Februari 2026
Trending
  • Membangun Ekonomi Hijau, OJK dan ADB Kuatkan Pasar Obligasi ASEAN+3 di Yogyakarta
  • Ashmore (AMOR) Bagikan Dividen Rp28,6 Miliar Selasa Dengan Aksi Buyback
  • Luas panen padi dan jagung Jabar 2025 mencapai 916.798 hektar
  • Harga Emas Pegadaian Selasa 3 Februari 2026: Antam Naik, Galeri 24 dan UBS Turun
  • IHSG melorot 4,88% di Awal Pekan, Seluruh Sektor Tertekan Meski Asing Lakukan Pembelian Bersih
  • Waspada! 10 Kesalahan Finansial yang Bisa Kosongkan Rekeningmu
  • Menanti Pemulihan IHSG Setelah Kepedulian Prabowo, Danantara, dan Polri
  • Sering Garap Proyek? Ini Trik Kelola Uang ala Gen Z untuk Bebas Krisis Finansial
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Beban Berat Mengejar Pertumbuhan 6% di Tengah Tekanan Fiskal, Rupiah, dan Pasar Modal
Ekonomi

Beban Berat Mengejar Pertumbuhan 6% di Tengah Tekanan Fiskal, Rupiah, dan Pasar Modal

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Tantangan dan Optimisme dalam Prospek Ekonomi Indonesia



Indonesia menghadapi berbagai tantangan dalam perekonomiannya pada tahun 2026. Beberapa faktor utama yang menjadi perhatian adalah pelebaran defisit anggaran, melemahnya nilai tukar rupiah, serta kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) yang belum menunjukkan kekuatan signifikan. Ketiga hal ini berpotensi menghambat pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.

Di sisi lain, dominasi China dalam rantai pasok atau supply chain mulai melemah. Hal ini memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya dalam perdagangan global. Namun, impor bahan baku masih mengalami penurunan, sementara tren indeks manufaktur tetap berada di level ekspansi. Selain itu, lonjakan inflasi juga menjadi catatan penting terkait prospek ekonomi nasional.

Pemerintah tetap optimistis bahwa target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4% akan tercapai. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan menyebutkan target lebih tinggi, yaitu sekitar 6%. Namun, angka tersebut hanya tercapai ketika Indonesia masih menikmati booming komoditas beberapa tahun lalu.

Menurut Purbaya, dinamika pasar saham merupakan hal yang wajar, terutama di tengah masa transisi kepemimpinan di sektor keuangan. Ia juga memastikan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat.

“Biar aja sih, habis naik turun-naik turun tuh, kan ada pergantian baru lagi kan? Pergantian ketua OJK-nya, mungkin market masih menunggu,” ujar Purbaya.

Dia menjelaskan bahwa pasar masih merespons ketidakpastian terkait penetapan Ketua Otoritas Jasa Keuangan (OJK) definitif. Saat ini, posisi tersebut masih bersifat sementara. “Ini kan masih sementara kan, siapa ketua OJK-nya, mungkin masih menunggu ketidakpastian itu,” tambahnya.

Purbaya optimistis bahwa seiring dengan proses penunjukan Ketua OJK definitif dan berlanjutnya reformasi sektor keuangan, kepercayaan pasar akan kembali menguat dan mendorong pemulihan IHSG dalam waktu dekat. Kendati demikian, ia menegaskan bahwa secara fundamental kondisi ekonomi nasional tetap solid dan tidak mengalami perubahan negatif.

Manufaktur sebagai Kunci Pertumbuhan

Di tempat terpisah, Kementerian Keuangan melihat Indeks Manufaktur (PMI) Januari 2026 yang mencapai 52,6 dari 51,2 pada Desember 2025 menunjukkan penguatan permintaan domestik sekaligus kenaikan output produksi.

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Febrio Kacaribu menekankan bahwa fundamental industri nasional tetap terjaga meskipun masih ada gangguan rantai pasok global serta pelemahan pesanan ekspor. Di sisi lain, optimisme pelaku usaha meningkat ke level tertinggi dalam sepuluh bulan terakhir.

“Perkembangan ini menjadi sinyal optimis, sekaligus menegaskan ketahanan serta daya saing eksternal Indonesia di tengah berbagai tantangan domestik maupun global,” ujarnya.

Selain itu, perkembangan PMI sejalan dengan berbagai indikator ekonomi domestik lainnya seperti Indeks Penjualan Riil yang tumbuh 4,4% (YoY). Hal ini didorong oleh meningkatnya penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.

Di sisi lain, pertumbuhan penjualan kendaraan bermotor sebesar 17,9% (YoY) serta penjualan listrik 4,8% khususnya di segmen bisnis pada akhir tahun, juga dilihat sebagai peningkatan aktivitas konsumsi. Sejalan dengan hal tersebut, indikator lain seperti neraca perdagangan juga dinilai menunjukkan kinerja positif. BPS melaporkan ekspor Januari-Desember 2025 mencapai US$282,91 miliar. Kendati tumbuh 6,15% dari tahun sebelumnya, realisasi itu tercatat di bawah target pemerintah yakni US$294,45 miliar.

Sampai dengan akhir tahun lalu, tren surplus tetap berlanjut sejak Mei 2020. Pada 2025, neraca dagang Indonesia membukukan surplus sebesar US$41,05 miliar.

Pemerintah Perlu Realistis?

Sementara itu, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M. Rizal Taufikurrahman menilai target pertumbuhan ekonomi pada APBN 2026 sebesar 5,4% masih masuk akal. Akan tetapi, mendorong pertumbuhan ekonomi hingga ke 6%, seperti yang kerap disampaikan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa, lebih tepat disebut sebagai ambisi politik-ekonomi, bukan proyeksi yang sepenuhnya ditopang oleh kondisi fundamental saat ini.

“Tekanan yang muncul di fiskal, moneter, dan pasar keuangan sejak awal tahun justru menunjukkan bahwa ruang akselerasi pertumbuhan relatif sempit,” terangnya.

Rizal lalu memerinci satu per satu tekanan kepada perekonomian di awal tahun ini. Dari sisi fiskal, pelebaran defisit APBN menandakan bahwa kapasitas fiskal sudah bekerja keras hanya untuk menjaga ekonomi tetap bergerak.

Dalam situasi seperti ini, lanjutnya, fiskal lebih berfungsi sebagai peredam perlambatan, bukan mesin pendorong pertumbuhan tinggi.

“Ketika ruang fiskal terbatas, belanja produktif berisiko tertahan, sementara beban pembiayaan justru meningkat. Ini membuat dorongan fiskal ke pertumbuhan tambahan menjadi tidak besar,” ujarnya.

Kemudian dari sisi moneter dan pasar keuangan, Rizal memandang bahwa pelemahan nilai tukar dan gejolak di pasar modal mencerminkan sentimen risiko yang masih rapuh. Kondisi itu akhirnya membatasi ruang kebijakan moneter untuk lebih akomodatif, sehingga transmisi ke kredit dan investasi berjalan lambat. Dampaknya, sektor swasta diperkirakan cenderung masih menunda ekspansi ketika stabilitas pasar keuangan belum benar-benar pulih.

Meski demikian, Rizal melihat adanya perbaikan persepsi pelaku usaha dan pulihnya permintaan domestik. Hal itu terlihat dari indeks produktivitas mencapai level 52,6 pada Januari 2026 atau naik dari Desember 2025 yaitu 51,2.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ashmore (AMOR) Bagikan Dividen Rp28,6 Miliar Selasa Dengan Aksi Buyback

4 Februari 2026

Luas panen padi dan jagung Jabar 2025 mencapai 916.798 hektar

4 Februari 2026

Harga Emas Pegadaian Selasa 3 Februari 2026: Antam Naik, Galeri 24 dan UBS Turun

4 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Membangun Ekonomi Hijau, OJK dan ADB Kuatkan Pasar Obligasi ASEAN+3 di Yogyakarta

4 Februari 2026

Ashmore (AMOR) Bagikan Dividen Rp28,6 Miliar Selasa Dengan Aksi Buyback

4 Februari 2026

Luas panen padi dan jagung Jabar 2025 mencapai 916.798 hektar

4 Februari 2026

Harga Emas Pegadaian Selasa 3 Februari 2026: Antam Naik, Galeri 24 dan UBS Turun

4 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?