Destinasi Wisata di Pulau Alor, NTT yang Menarik untuk Dikunjungi
Pulau Alor, yang terletak di Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi salah satu destinasi wisata favorit bagi para penggemar alam dan budaya. Di pulau ini, wisatawan dapat menikmati keindahan pantai, laut yang bersih, serta budaya lokal yang unik dan eksotis.
Salah satu daya tarik utama Kepulauan Alor adalah alam bawah laut yang mempesona, membuatnya cocok sebagai spot menyelam. Selain itu, wisatawan juga bisa mengenal sisi lain dari Alor melalui kehadiran masyarakat suku Abui di Desa Takpala, yang masih hidup secara tradisional tanpa listrik.
Meski jaraknya cukup jauh dari ibu kota, perjalanan ke Alor akan terasa sepadan dengan pengalaman yang diberikan oleh Bumi Kenari ini. Untuk memaksimalkan liburan, penting untuk menyusun itinerary atau rencana perjalanan terlebih dahulu.
Berikut adalah rekomendasi itinerary seharian di Alor yang bisa menjadi referensi:
1. Pilih Transportasi yang Sesuai di Alor
Untuk mencapai Alor, wisatawan dapat memilih penerbangan transit. Salah satunya adalah dengan naik pesawat selama tiga jam menuju Bandara El Tari di Kupang, lalu transit sekitar dua jam sebelum dilanjutkan dengan penerbangan satu jam lagi menuju Bandara Mali di Alor. Semua penerbangan menuju Bandara Mali hanya tersedia pada waktu dini hari.
Sebaiknya pilih penerbangan dengan durasi paling singkat agar pagi harinya kamu sudah bisa sampai di Alor. Sementara itu, cara tercepat untuk berkeliling Alor adalah dengan menyewa mobil yang tersedia di bandara. Harga sewanya mulai dari Rp 500.000 per hari, namun kamu masih bisa bernegosiasi.
Menurut informasi dari warga lokal Alor, sangat sulit menemukan tempat penyewaan sepeda motor di daerah ini. Mereka tidak mau menyewakan sepeda motor kecuali jika sudah kenal.
2. Melihat Dugong di Teluk Kabola
Pagi hari sekitar pukul 08.00 Wita menjadi waktu yang pas untuk melihat dugong di Teluk Kabola. Saat ini, Mawar, dugong jantan penghuni Teluk Kabola di kawasan SAP (Suaka Alam Perairan) Selat Pantar, bisa ditemui.
Untuk sampai ke lokasi ini, kamu harus mencapai Pantai Mali terlebih dulu, yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari Bandara Mali. Barulah dilanjutkan dengan menaiki perahu bersama nelayan lokal.
Tarif untuk masuk ke area ini adalah Rp 100.000 per orang untuk masyarakat lokal, sedangkan untuk masyarakat luar Alor dan wisatawan mancanegara mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 200.000 per orang. Selama berada di laut, wisatawan dilarang menyentuh dugong karena bisa menarik badan kita ke laut.
Selain itu, kamu juga tidak diperkenankan menggunakan flash saat mengambil foto Mawar, dan jangan bertindak agresif selama di atas kapal.
3. Makan Siang Sambil Menikmati Panorama Bakau di Celyn Cafe
Setelah menghabiskan waktu sekitar satu jam bersama Mawar, kamu bisa makan siang dengan masakan rumahan di Celyn Kafe. Di depannya tersaji pemandangan hutan bakau ditambah deburan ombak yang menenangkan.
Jaraknya cukup dekat, hanya satu kilometer saja dari Pantai Mali. Harganya relatif terjangkau, seperti paket nasi ayam geprek dan sayur bunga pepaya dibanderol mulai Rp 25.000 per porsi. Namun, jika memesan menu ikan laut, kamu harus siap merogoh kocek mulai dari Rp 50.000 sampai dengan Rp 400.000.
4. Mengunjungi Desa Adat Takpala
Setelah makan siang, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Desa Adat Takpala, yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Celyn Cafe. Perjalanan bisa ditempuh sekitar 20 menit menggunakan mobil.
Desa Adat Takpala merupakan kampung tradisional di Kecamatan Alor Tengah Utara, Kabupaten Alor, yang dihuni oleh masyarakat suku Abui. Masyarakat di kampung ini masih mempertahankan kehidupan tanpa listrik di seluruh area permukimannya.
Biasanya, tamu yang masuk ke area desa akan disambut oleh tarian lego-lego, dan diajak menari bersama. Jika tertarik, kamu juga bisa mencoba pakaian adatnya dengan membayar Rp 100.000, atau membeli hasil kerajinan masyarakat setempat, berupa kain tenun, gelang, kalung, dan cendera mata lainnya yang dijajakan di Desa Takpala.

5. Makan Malam di Mama Resto
Sore hari, kamu bisa singgah sekaligus makan malam di Mama Resto, yang berjarak sekitar 12 kilometer atau 20 menit perjalanan dari Desa Adat Takpala. Lokasinya ada di tepi pantai dengan nuansa tradisional dan bangunan kayu.
Pengunjung dianjurkan datang saat sore hari, jadi bisa bersantap sambil menikmati matahari terbenam dan deburan ombak. Kamu bisa memesan cumi saos lemon, ikan kuah asam mama, ikan bakar sambal dabu-dabu, fuyunghai, dan masih banyak lagi pilihan olahan seafood lainnya.
Alor Menariknya lagi, kamu bisa memilih sendiri ikan yang ingin dimasak, atau meminta petugas restoran untuk memilihnya. “Kita di sini bayarnya tergantung berat ikannya, ada yang pilih ikan sendiri, dan ada yang minta kami memilihkan buat mereka,” kata kasir Mama Resto, Bella.
Setelah beraktivitas seharian, saatnya beristirahat di penginapan. Salah satu pilihan akomodasi adalah Tamala Homestay yang berjarak sekitar 14 kilometer dari Bandara Mali, atau hanya satu kilometer dari Mama Resto.
Penginapan ini menawarkan tiga jenis pilihan kamar, mulai dari Standard Room yang diisi dua tempat tidur dan dibanderol mulai Rp 275.000 per malam. Ada juga Superior Room seharga mulai Rp 400.000 per malam, dan Deluxe Room seharga mulai Rp 600.000 per malam. Meski cukup jauh dari kehidupan perkotaan, namun penginapan ini menawarkan suasana ladang sayur yang asri. Suasana ini akan terasa menyegarkan saat pagi tiba.



