Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 20 Maret 2026
Trending
  • Penghasilan US$ 3,9 Miliar, Capaian Operasional PGN Tahun 2025
  • Target Persib di kandang Borneo FC tidak terlalu tinggi
  • 3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang
  • Rusdi Masse Bergabung dengan PSI, Mulai Kuasai Basis Lama NasDem di Ajatappareng
  • Soal PTS Bahasa Indonesia Kelas 2 SD Semester 2 Kurikulum Merdeka dan Jawaban
  • Revisi DHE SDA Belum Dirilis, Ekonom Khawatir Pemerintah Masih Hitung Risiko bagi Eksportir
  • Polda Bengkulu Tanggapi Tuduhan Kriminalisasi ART Refpin yang Cubit Anak Anggota DPRD
  • THR Dikenakan Pajak, Buruh Minta Perusahaan Beri Keadilan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Kinerja Indeks Saham Lapis Kedua Melesat Awal 2026, Cek Prospek dan Rekomendasinya
Ekonomi

Kinerja Indeks Saham Lapis Kedua Melesat Awal 2026, Cek Prospek dan Rekomendasinya

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover15 Januari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Tren Positif Saham Lapis Kedua di Awal Tahun 2026



Pada awal tahun 2026, tren positif kinerja saham-saham lapis kedua atau second liner masih terus berlanjut. Ada kemungkinan bahwa saham-saham tersebut akan kembali menjadi penggerak pasar pada tahun ini. Dengan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks kumpulan saham-saham lapis kedua, yaitu IDX SMC Composite, tumbuh sebesar 7,59% sejak awal tahun atau year to date (ytd) ke level 541,504 hingga Jumat (9/1/2026).

Kinerja indeks ini mengungguli Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik sebesar 3,35% ytd maupun indeks LQ45 yang tumbuh sebesar 2,53% ytd pada periode yang sama. Hal ini menunjukkan bahwa saham-saham lapis kedua sedang dalam fase penguatan yang cukup signifikan.

Fase Risk On Mode dan Rotasi Investor

Menurut Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI), Muhammad Wafi, laju positif pergerakan indeks saham-saham lapis kedua cukup dipengaruhi oleh kondisi pasar yang sedang dalam fase risk on mode. Fase ini merupakan saat investor menunjukkan toleransi risiko yang lebih tinggi, sehingga mereka cenderung lebih berani masuk ke saham yang lebih berisiko.

Dalam fase ini, para investor aktif melakukan rotasi dari saham-saham blue chip atau LQ45 ke saham-saham lapis kedua yang valuasinya masih tergolong laggard. “Secara fundamental, langkah ini valid sebagai upaya mengejar ketertinggalan valuasi (catch up valuation),” ujar dia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menambahkan bahwa tren kenaikan harga komoditas, terutama nikel dan emas, turut menjadi sentimen positif yang membuat saham-saham lapis kedua di sektor tersebut mengalami reli pada awal 2026. Di sisi lain, Pengamat Pasar Modal dan Founder Republik Investor Hendra Wardana menyampaikan bahwa penguatan IHSG yang bahkan sempat kembali menyentuh rekor all time high di level 9.000 telah membawa dampak positif bagi indeks-indeks turunannya, termasuk IDX SMC Composite.

Sentimen January Effect dan Ekspektasi Ekonomi Baru

Selain itu, pasar masih mampu mencatat net buy sekitar Rp 1,62 triliun dalam sepekan terakhir yang menjadi sinyal bahwa minat investor global terhadap pasar saham nasional belum surut. Meskipun sentimen January Effect terlihat tidak lagi sekuat beberapa tahun lalu, secara psikologis January Effect masih terasa, terutama pada saham-saham lapis kedua dan saham berbasis komoditas.

“Awal tahun biasanya diwarnai oleh reposisi portofolio institusi, optimisme terhadap outlook ekonomi baru, serta ekspektasi kebijakan moneter yang lebih akomodatif, sehingga hal ini membuat Januari sering kali jadi bulan yang positif,” ungkap Hendra.

Potensi Pemulihan dan Strategi Investasi

Secara umum, tren positif kinerja indeks saham lapis kedua masih bisa berlanjut selama 2026 berjalan, dengan pola pergerakan yang lebih selektif dan disertai dengan potensi rotasi sektoral. Sentimen utama yang dapat memengaruhi kinerja IDX SMC Composite yaitu ekspektasi penurunan suku bunga acuan global. Hal ini akan memberi dampak positif bagi emiten-emiten yang sedang aktif mencari pendanaan, mengingat adanya potensi berkurangnya beban cost of fund.

Di samping itu, isu yang bersifat korporasi seperti merger atau akuisisi, terutama di sektor industri berbasis komoditas, juga bisa menjadi katalis positif tambahan bagi indeks saham-saham lapis kedua.

Saham-saham Lapis Kedua yang Menarik Perhatian

Saham-saham lapis kedua yang berpeluang menjadi unggulan tahun ini adalah emiten yang punya narasi pemulihan kinerja dan arus kas operasional yang positif, khususnya di sektor penunjang migas, perkebunan atau crude palm oil (CPO), dan ritel menengah. “Secara fundamental, investor institusi bakal cenderung mencari saham mid-cap yang rutin membagi dividen,” tutur Wafi.

Beberapa saham lapis kedua yang menurut Wafi dapat dipertimbangkan oleh investor pada tahun ini antara lain PT Elnusa Tbk (ELSA), PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), dan PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) dengan target harga masing-masing di level Rp 580 per saham, Rp 1.650 per saham, dan Rp 1.050 per saham.

Persiapan untuk Masa Depan

Hendra menyebut bahwa selama konflik geopolitik global tidak berkembang menjadi krisis sistemik, maka IHSG beserta indeks turunannya termasuk IDX SMC Composite relatif lebih tahan banting.

Terlepas dari itu, pendekatan akumulasi bertahap dan manajemen risiko tetap menjadi kunci agar investor dapat menikmati peluang pada awal tahun tanpa terjebak euforia yang berlebihan. “Strategi investor yang paling relevan untuk memaksimalkan peluang keuntungan adalah tetap disiplin pada kombinasi momentum dan selektivitas sektor,” tandas dia.

ELSA Chart

by TradingView

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penghasilan US$ 3,9 Miliar, Capaian Operasional PGN Tahun 2025

20 Maret 2026

3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang

19 Maret 2026

Revisi DHE SDA Belum Dirilis, Ekonom Khawatir Pemerintah Masih Hitung Risiko bagi Eksportir

19 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Penghasilan US$ 3,9 Miliar, Capaian Operasional PGN Tahun 2025

20 Maret 2026

Target Persib di kandang Borneo FC tidak terlalu tinggi

19 Maret 2026

3 Hal yang Harus Dihindari Generasi Sandwich Agar Terhindar dari Utang

19 Maret 2026

Rusdi Masse Bergabung dengan PSI, Mulai Kuasai Basis Lama NasDem di Ajatappareng

19 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?