Gelombang Protes Nasional di Iran dengan Korban Jiwa yang Mengkhawatirkan
Gelombang protes nasional yang sedang terjadi di Iran kini menjadi perhatian dunia setelah laporan mengungkapkan jumlah korban jiwa yang sangat besar. Menurut laporan dari Human Rights Activists News Agency (HRANA), sebuah kelompok aktivis berbasis di Amerika Serikat, jumlah korban tewas hingga Rabu pagi (14/1) mencapai setidaknya 2.571 orang. Angka ini jauh melampaui catatan korban kerusuhan dalam beberapa dekade terakhir, bahkan membangkitkan ingatan akan kekacauan Revolusi 1979.
Dari total korban tersebut, sebanyak 2.403 orang adalah demonstran, sementara 147 lainnya berasal dari pihak pemerintah. Selain itu, 12 anak-anak dan sembilan warga sipil yang tidak ikut dalam protes juga turut menjadi korban. Saat ini, lebih dari 18.100 orang telah ditahan oleh otoritas setempat.
Skylar Thompson dari HRANA menyampaikan keherannya terhadap lonjakan angka korban ini kepada Associated Press (AP). Menurutnya, jumlah korban kali ini mencapai empat kali lipat dari korban protes Mahsa Amini tahun 2022, meskipun protes baru berlangsung selama dua minggu.
Setelah sempat memutus akses komunikasi secara total, otoritas Iran mulai mengizinkan panggilan telepon ke luar negeri pada Selasa (13/1). Melalui sambungan telepon, para saksi mata di Teheran menceritakan suasana kota yang mencekam dengan penjagaan aparat yang sangat ketat. Di pusat kota, gedung-gedung pemerintah tampak hangus terbakar dan mesin ATM hancur. Polisi anti-huru hara mengenakan helm, perisai, hingga senapan berjaga di persimpangan jalan, didampingi petugas berpakaian preman.
Meski toko-toko mulai buka, suasana tetap sepi karena warga khawatir akan kemungkinan serangan dari Amerika Serikat. “Pengiriman pesan teks masih terputus, dan akses internet hanya terbatas pada situs-situs lokal yang disetujui pemerintah,” ujar seorang saksi yang meminta anonim karena alasan keamanan.
Pernyataan Trump dan Reaksi Pihak Iran
Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan keras melalui platform Truth Social miliknya. Ia menulis: “Para Patriot Iran, TERUSLAH PROTES – KUASAI INSTITUSI KALIAN!!!” serta menyatakan bahwa ia telah membatalkan semua pertemuan dengan pejabat Iran sampai pembunuhan demonstran yang tidak masuk akal ini BERHENTI.
Namun, beberapa jam setelah unggahannya, Trump tampak sedikit melunak saat berbicara kepada wartawan. Ia menyatakan masih menunggu laporan akurat sebelum bertindak. “Menurut saya mereka telah berperilaku buruk, tetapi itu belum dikonfirmasi,” ungkap Trump mengenai pasukan keamanan Iran.
Pihak Iran langsung bereaksi keras terhadap pernyataan Trump. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menuding balik AS dan Israel sebagai dalang kekacauan. “Kami menyatakan nama-nama pembunuh utama rakyat Iran: 1. Trump 2. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.”
Tanggapan Pemerintah dan Upaya Komunikasi
Di tengah penindakan keras, televisi pemerintah Iran secara resmi mengakui adanya kematian massal dengan menyebutkan bahwa negara memiliki “banyak martir.” Di sisi lain, pemerintah juga mengumumkan layanan kamar mayat gratis, sebuah langkah yang dicurigai aktivis sebagai upaya merespons laporan adanya biaya tinggi bagi keluarga yang ingin mengambil jenazah korban.
Pemerintah juga mulai memburu terminal internet satelit Starlink. Warga di Teheran utara melaporkan adanya penggerebekan ke apartemen-apartemen yang memiliki antena satelit. Meski begitu, para aktivis memastikan bahwa layanan Starlink tetap diupayakan masuk untuk membantu komunikasi warga.
“Kami dapat mengkonfirmasi bahwa langganan gratis untuk terminal Starlink berfungsi sepenuhnya. Kami mengujinya menggunakan terminal Starlink yang baru diaktifkan di Iran,” tegas Mehdi Yahyanejad, aktivis di Los Angeles, kepada Associated Press.
Awal Mula Protes
Protes yang pecah sejak akhir Desember ini awalnya dipicu oleh kemerosotan ekonomi, namun dengan cepat berubah menjadi gerakan politik yang menargetkan rezim teokrasi dan Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei. Kini, situasi di Iran terus memanas dan menjadi sorotan internasional.



