Isolasi Warga Akibat Proyek RS Mitra Plumbon di Jatinangor
Sebuah keluarga di Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, kini mengalami isolasi akibat akses jalan menuju rumah mereka ditutup sebagai bagian dari proyek pembangunan Rumah Sakit Mitra Plumbon. Hal ini menyebabkan satu Kepala Keluarga (KK), yaitu Ustaz Dadan (52 tahun) dan keluarganya, terjebak dalam situasi sulit.
Pihak Camat Jatinangor, Herman Suwandi, telah berkomunikasi dengan pihak Rumah Sakit Mitra Plumbon untuk mencari solusi agar warga tidak mengalami kerugian. Menurutnya, penutupan akses jalan dilakukan sebagai bentuk pengamanan aset. Namun, hal ini justru menyebabkan keluarga Ustaz Dadan terisolasi sejak sekitar sepekan terakhir.
Selain itu, kondisi lingkungan juga semakin gelap pada malam hari karena tidak ada penerangan yang memadai. “Saya sudah berkomunikasi dengan pihak RS Mitra Plumbon untuk memberikan akses jalan kepada keluarga yang masih belum dibebaskan rumahnya, agar kondusif,” ujar Herman saat ditemui di ruang kerjanya.
Herman menegaskan bahwa pihak rumah sakit harus terus melakukan negosiasi dengan Ustaz Dadan untuk mencapai kesepakatan bersama. Ia juga menyampaikan bahwa pihaknya akan berkomunikasi langsung dengan Ustaz Dadan untuk membahas masalah ini lebih lanjut.
“Jika tidak segera terselesaikan, investasi di Sumedang akan terganggu, dan kami pun akan selalu mengedepankan kepentingan masyarakat. Intinya masyarakat tidak boleh dirugikan, tidak boleh dilanggar haknya,” tambahnya.
Perizinan Pembangunan Masih Dalam Proses
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Sumedang memastikan bahwa pembangunan Rumah Sakit Mitra Plumbon di wilayah Kampung Dangdeur RT012, Desa Mekargalih, Kecamatan Jatinangor, belum mengantongi perizinan resmi dari DPMPTSP. Hal ini disampaikan oleh Kepala DPMPTSP Sumedang, Kemal Idris, setelah adanya dampak penutupan lahan yang menyebabkan Ustaz Dadan sekeluarga terisolir.
Menurut Kemal, proses perizinan masih berlangsung dan pihak DPMPTSP akan terus memantau perkembangan proyek tersebut. Ia juga menekankan pentingnya koordinasi antara pihak pengembang dan masyarakat agar tidak ada konflik yang terjadi.
Tantangan dalam Proses Negosiasi
Pihak Rumah Sakit Mitra Plumbon hingga berita ini ditulis belum memberikan keterangan resmi terkait permasalahan ini, meski Tribun Jabar sudah menghubungi mereka sejak Rabu (7/1/2026) petang. Hal ini menunjukkan bahwa proses negosiasi antara pihak rumah sakit dan Ustaz Dadan masih dalam tahap awal.
Beberapa isu yang muncul antara lain:
- Persoalan izin pembangunan yang belum sepenuhnya lengkap.
- Keberadaan tembok dan pagar seng tinggi yang menjadi penghalang akses jalan.
- Kondisi lingkungan yang tidak layak bagi warga yang terisolasi.
Masalah ini tidak hanya menyangkut kepentingan individu, tetapi juga berdampak pada stabilitas sosial dan ekonomi di wilayah tersebut. Oleh karena itu, diperlukan komitmen dari semua pihak untuk mencari solusi yang adil dan berkelanjutan.
Langkah yang Harus Dilakukan
Untuk menghindari konflik yang lebih besar, beberapa langkah penting perlu diambil:
- Pihak rumah sakit harus segera memberikan akses jalan sementara kepada warga yang terisolasi.
- Proses negosiasi antara pihak pengembang dan masyarakat harus dilakukan secara transparan dan terbuka.
- DPMPTSP harus mempercepat proses pemberian izin agar proyek dapat berjalan sesuai aturan.
- Pemerintah setempat perlu terus memantau situasi dan memberikan dukungan kepada warga yang terkena dampak.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan bisa menciptakan keseimbangan antara pembangunan infrastruktur dan perlindungan hak-hak warga.



