Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Tuesday, 27 October 2026
Trending
  • Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar
  • Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga
  • DPRD NTT sebut ekonomi warga picu menjamurnya pengecer BBM
  • Bahaya Air Sabun untuk Wiper: Awas Kaca Mobil Rusak!
  • Kisah Awal Buya Hamka: Pencarian Jati Diri Sang Ulama Besar
  • Jadwal Pelni KM Tilongkabila hingga 26 November: Rute Bitung-Benoa & Singgahannya
  • Minta dipeluk permintaan terakhir Kamaruddin Simanjuntak sebelum meninggal, 2 tahun cuci darah
  • Gledson Paixao siap unjuk gigi bersama Persebaya Surabaya, waspadai ledakan PSM Makassar!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ancaman Impor Baja China Ancam Produksi Dalam Negeri Hingga 2026
Nasional

Ancaman Impor Baja China Ancam Produksi Dalam Negeri Hingga 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 December 2025No Comments4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Industri baja nasional masih menghadapi tantangan berat pada 2026. Asosiasi Industri Baja Indonesia (IISIA) menyatakan bahwa pemulihan konsumsi domestik belum terjadi secara signifikan, sementara impor baja murah masih mendominasi pasar dalam negeri.

Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara menjelaskan bahwa hingga 2026, tekanan impor diperkirakan tetap tinggi dan bisa mencapai sekitar 55% dari kebutuhan nasional. Kondisi ini membuat utilisasi pabrik baja domestik berpotensi bertahan di kisaran 50%.

“Memasuki 2026, industri baja nasional masih berada dalam kondisi yang menantang. Konsumsi domestik belum pulih sepenuhnya, sektor konstruksi masih lemah, serta dominasi produk impor khususnya dari Tiongkok yang terus menekan utilisasi pabrik dalam negeri,” ujar Harry.

Menurut IISIA, tanpa intervensi kebijakan yang kuat dan konsisten, ruang pemulihan industri baja akan sangat terbatas. Risiko stagnasi bahkan penurunan utilisasi, margin, dan output produksi masih membayangi pelaku industri.

Selama tahun 2025, tekanan terhadap industri baja nasional semakin berat dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga triwulan III 2025, volume impor baja tercatat mencapai 4,83 juta ton, naik 15,6% dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar 4,18 juta ton. Lonjakan impor tersebut terutama berasal dari Tiongkok, didorong oleh perbedaan harga yang sangat lebar akibat kebijakan subsidi di negara asal.

Harry menjelaskan bahwa derasnya impor berdampak langsung pada kinerja industri dalam negeri. Utilisasi pabrik baja nasional saat ini hanya berada di kisaran 52%, jauh di bawah tingkat ideal industri sekitar 80%.

“Penurunan harga Hot Rolled Coil (HRC) asal Tiongkok menjadi indikator paling jelas. Dari US$ 858 per ton pada 2022, kini turun menjadi sekitar US$ 549 per ton hingga triwulan III 2025. Pangsa impor HRC Tiongkok pun melonjak dari 8% menjadi sekitar 32%,” katanya.

Tekanan berkepanjangan tersebut turut meningkatkan risiko terhadap keberlanjutan industri dan penyerapan tenaga kerja. IISIA mencatat penutupan pabrik PT Ispat Indo pada Agustus 2025 sebagai sinyal nyata melemahnya industri, di tengah utilisasi yang rendah dan tekanan biaya yang tinggi.

Meski prospek 2026 masih berat, IISIA melihat adanya potensi katalis pertumbuhan dari sektor-sektor tertentu. Industri otomotif, alat berat, dan perkapalan dinilai dapat menjadi sumber diversifikasi pasar bagi produsen baja nasional.

“Peluang dari sektor-sektor tersebut tetap ada, namun hanya bisa dimanfaatkan apabila produsen baja domestik mampu menyediakan produk dengan spesifikasi, kualitas, dan volume yang sesuai dengan kebutuhan industri hilir,” ujar Harry.

Ia menegaskan bahwa prospek industri baja dalam 12–18 bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh efektivitas kebijakan pemerintah, terutama dalam mengendalikan impor, memperkuat instrumen pengamanan perdagangan, serta mendorong sinergi hulu–hilir.

IISIA menilai langkah paling mendesak adalah pengendalian impor yang selaras dengan ketersediaan produksi dalam negeri. Impor perlu dibuka secara selektif dan terukur, hanya untuk produk yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Untuk produk yang sudah tersedia secara lokal, pemerintah didorong memperkuat hambatan masuk melalui trade remedies, penegakan SNI wajib, dan implementasi kebijakan P3DN secara konsisten.

Selain itu, penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri besi dan baja dinilai krusial untuk menekan biaya energi dan meningkatkan daya saing. Dalam jangka menengah, IISIA juga mendorong penyusunan roadmap kebutuhan material nasional tiga hingga lima tahun ke depan guna mendukung substitusi impor yang terencana.

Di sisi lain, industri baja nasional juga dihadapkan pada tantangan baru berupa penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa yang akan berlaku penuh pada 2026. Meski porsi ekspor baja Indonesia ke Eropa masih relatif kecil, trennya meningkat signifikan dari 5,6% pada 2024 menjadi sekitar 13,1% hingga triwulan III 2025.

“CBAM bukan hanya isu ekspor ke Eropa, tetapi sinyal percepatan transformasi menuju industri baja rendah karbon. Ini akan memengaruhi daya saing kita dalam rantai pasok global,” kata Harry.

Untuk merespons hal tersebut, IISIA bersama pelaku industri mendorong peningkatan kapasitas pengukuran dan pelaporan emisi, penyusunan peta jalan dekarbonisasi yang realistis, serta advokasi kebijakan agar transisi menuju baja hijau didukung insentif fiskal, pembiayaan terjangkau, dan ketersediaan energi bersih yang kompetitif.

“Dengan kombinasi pengamanan pasar domestik, penguatan sinergi hulu–hilir, dan transformasi menuju industri baja hijau, kami berharap industri baja nasional dapat bertahan, meningkatkan utilisasi, dan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang,” tutupnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga

26 October 2026

Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar

26 October 2026

Jadwal Pelni KM Tilongkabila hingga 26 November: Rute Bitung-Benoa & Singgahannya

26 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Klasemen Persebaya Surabaya melorot! Tavares bongkar 2 kesalahan jelang lawan PSM Makassar

26 October 2026

Dua tahun Prabowo-Gibran, Kemenpora percepat transformasi dan ukir prestasi olahraga

26 October 2026

DPRD NTT sebut ekonomi warga picu menjamurnya pengecer BBM

26 October 2026

Bahaya Air Sabun untuk Wiper: Awas Kaca Mobil Rusak!

26 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?