Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 24 Maret 2026
Trending
  • Samsung A05s Kamera 50MP, Harga Rp2 Juta di Lebaran 2026
  • Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik
  • Hasil FP2 Moto3 Veda Ega Pratama di P12 Jelang Kualifikasi MotoGP Brasil 2026
  • 10 rumah modern dengan tumbuhan dalam ruangan, menginspirasi!
  • Berita Duka: Chuck Norris Meninggal, Legenda Film Bruce Lee dan The Expendables 2
  • Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?
  • Ubedilah Badrun Beberkan 3 Kemungkinan Pelaku di Balik Kasus Andrie Yunus
  • Harga minyak naik, B50 harus dipercepat implementasinya
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Gembala yang Tidak Terlihat
Nasional

Gembala yang Tidak Terlihat

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover29 Desember 2025Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Keindahan dan Keunikan Patung Yesus di Sibea-bea

Di kawasan Danau Toba, terdapat satu objek wisata yang menarik perhatian banyak orang: Patung Yesus tertinggi di dunia. Lokasinya berada di Sibea-bea, Kabupaten Samosir. Wisata ini juga dikenal dengan nama Bukit Sibea-bea atau Pantai Sibea-bea.

Saya mengunjungi lokasi tersebut pada hari Natal 25 Desember lalu. Pada hari itu juga terjadi penyelesaian kisruh di Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Kedua belah pihak sepakat untuk islah, meskipun lokasi islahnya tidak berada di Sibea-bea, melainkan di Pondok Pesantren “Bintang Sembilan” Lirboyo, Kediri.

Setelah pulang dari Sibea-bea, saya menghubungi Sudung Situmorang, sosok yang memprakarsai pembuatan patung Yesus tersebut. Saya memberikan pujian tinggi kepada dirinya, bukan hanya karena tingginya patung, tetapi juga kualitas keseluruhan objek wisata ini yang setara dengan bintang lima. Bandingkan dengan objek wisata lain di sekitar Danau Toba yang umumnya hanya kelas lokal, bahkan sangat lokal.

Saya telah mengunjungi berbagai objek wisata di kawasan Danau Toba. Dari semua sisinya. Itu tidak mudah karena Danau Toba memiliki panjang lebih dari 100 km dan lebar lebih dari 30 km. Saya sudah memutari danau tersebut, baik di bibir danau maupun agak menjauh dari danau. Namun, tidak semua bibir danau terhubung dengan jalan. Misalnya, bibir danau di Kabupaten Dairi tidak tersambung dengan bibir danau di Kabupaten Samosir. Tujuh kabupaten di Sumatera Utara memiliki bibir Danau Toba yang begitu luas.

Objek wisata Patung Yesus Sibea-bea ditata dengan kualitas tinggi. Selera desainnya sangat internasional. Jenis tanaman dan pilihan bunga sangat tepat. Anda harus ke sana, bahkan jika Anda bukan Kristen atau Katolik.

Masalah utamanya adalah akses menuju Bukit Sibea-bea yang cukup sulit. Semua jalur terasa jauh. Saya berangkat dari Sidikalang, setelah merayakan Natal di ibu kota Dairi. Dari Sidikalang, hanya butuh dua jam perjalanan mobil. Namun, dari Medan ke Sidikalang saya harus menempuh perjalanan selama lima jam. Meski bisa lewat Medan-Siantar (yang sudah ada tol), dari Siantar ke Toba harus melewati jalan sempit dan padat, lalu naik kapal ke Pulau Samosir.

Di Pulau Samosir, saya naik mobil selama dua jam menuju ujung lain pulau Samosir: Tano Ponggol. Di kelurahan Siogong-ogong, sudah ada jembatan baru yang indah dan tinggi di atas air Danau Toba. Lalu, saya melanjutkan perjalanan menuju Bukit Sibea-bea.

“Rumah saya hanya 100 meter dari patung itu,” ujar Sudung, pensiunan kepala Kejaksaan Tinggi Jakarta. Saat ini, Sudung menjabat sebagai komisaris utama salah satu anak perusahaan Pertamina.

Sudung pernah sekolah SD di Sibea-bea. Sebelum berangkat sekolah, ia harus melepaskan 10 sapi milik ayahnya ke padang rumput. Tanpa baju, celana, dan alas kaki. Sorenya, ia harus mencari sapi itu ke sana kemari. Sapi tidak berkoloni, begitu dilepaskan mereka memencar berjauhan.

Ia lantas masuk SMA Katolik Santo Mikhael Pangururan. Masuk asrama. Kini Pangururan menjadi ibu kota Kabupaten Samosir. Sudung sekeluarga memang Katolik. Namun, ketika kuliah hukum di Unkris Jakarta, ia bergabung dengan teman-temannya di Protestan. Apalagi istrinya juga Kristen.

Itu tidak menjadi hambatan ketika Sudung ingin agar patung Yesus tersebut bisa diresmikan oleh pemimpin tertinggi Katolik dunia, Sri Paus. Yakni saat Paus Fransiskus berkunjung ke Indonesia tahun lalu.

Sudung menghubungi uskup di Medan, Uskup Cornelius Sipayung. Uskup lantas mengurus semuanya ke Kedutaan Besar Vatikan di Jakarta. Bahkan, Uskup Sipayung diam-diam melakukan perjalanan ke Sibea-bea. Mengecek langsung. Jangan sampai tidak sesuai dengan usulan. Bahkan sampai tiga kali ke Sibea-bea.

Akhirnya Sri Paus berkenan memberkati patung tersebut. Tentu tidak di Sibea-bea. Sudung diminta membuat miniaturnya. Ukuran 90 cm. Dibawa ke Jakarta. Diberkati di Jakarta. Patung yang diberkati tersebut kini dipasang di depan patung tertinggi di dunia itu.

Ketika saya berfoto di depan patung tertinggi, yang diberkati tampak sangat kecil di latar depannya. Lihat sendiri foto yang menyertai tulisan ini.

“Miniatur itu dibuat di Ambarawa, Jateng,” ujar Sudung.

Di proyek Sibea-bea ini, Sudung dibantu oleh seorang arsitek yang juga marga Situmorang: Daulat Situmorang. Masih keluarga Sudung. Lihatlah cara Daulat menata kawasan ini. Patung sendiri hanya salah satu daya tarik. Penataan lingkungannya, sampai pantai Tobanya, sangat indah. Menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah latar belakang Danau Toba beserta bukit-gunung di sekitarnya.

Setengah jam sebelum sampai ke patung ini pun Anda sudah mendapatkan pemandangan yang menakjubkan. Jalan berliku. Tebing dan jurang. Danau yang terlihat jauh di bawah sana. Semuanya indah. Serasa di Swiss.

Untuk mencapai patung itu, Anda harus menuruni gunung dengan jalan berliku dari ketinggian 1.800 meter ke ketinggian 1.100 meter.

Akhirnya, Sudung bisa membawa miniatur patung Yesusnya ke hadapan Sri Paus. Ia hadir sendiri di acara pemberkatan itu. Ia merasa sangat berbahagia.

Saat saya ke Sibea-bea kemarin senja sudah hampir tiba. Tapi pengunjung masih sangat banyak.

Toba kini memiliki sajian wisata yang sekelas dengan nama besar danau itu sendiri. Baru sekarang ini bisa begitu. Berkat satu orang yang bernama Sudung, si penggembala sapi.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik

24 Maret 2026

Ekonomi Pasca Lebaran: Peluang Tumbuh atau Hanya Peningkatan Sementara?

24 Maret 2026

Harga minyak naik, B50 harus dipercepat implementasinya

24 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Samsung A05s Kamera 50MP, Harga Rp2 Juta di Lebaran 2026

24 Maret 2026

Mitos vs Fakta: Pria Lebih Sabar Menghadapi Macet Saat Mudik

24 Maret 2026

Hasil FP2 Moto3 Veda Ega Pratama di P12 Jelang Kualifikasi MotoGP Brasil 2026

24 Maret 2026

10 rumah modern dengan tumbuhan dalam ruangan, menginspirasi!

24 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?