Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 21 Februari 2026
Trending
  • Johann Zarco Ungkap Rahasia Sukses Rookie MotoGP 2026, Diogo Moreira
  • 5 fakta penting dan rute tol Jakarta–Subang untuk perjalanan ke Jawa Barat
  • 7 rekomendasi baju koko lokal terbaik untuk Lebaran, nyaman dan modis
  • Persib vs Ratchaburi FC, Tantangan Berat Maung Menuju 8 Besar ACL 2
  • Daftar Lengkap Dana Desa 2026 Kabupaten Ketapang, 71 Desa Terima Lebih dari Rp370 Juta
  • Kekejaman Brigadir Rizka, Hancurkan Hati Suami dengan Pembunuhan dan Penipuan Uang
  • Mengenal Net Buy Asing dan Dampaknya pada IHSG
  • Harga Toyota Alphard G 2012 Bekas, MPV Keluarga Murah
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»6 Fakta Menarik Owa Kalimantan, Sang Akrobat Hutan Borneo
Ragam

6 Fakta Menarik Owa Kalimantan, Sang Akrobat Hutan Borneo

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover27 Desember 2025Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Di tengah hutan tropis Kalimantan yang lembap dan penuh kehidupan, terdengar suara nyanyian yang memecah kesunyian pagi. Suara ini bukan berasal dari burung, melainkan panggilan khas dari owa kalimantan (
Hylobates albibarbis
), primata lincah yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di pucuk-pucuk pohon. Mereka adalah bagian penting dari ekosistem hutan hujan basah, khususnya hutan rawa gambut yang menjadi rumah favorit mereka.

Sayangnya, nyanyian indah yang biasanya mengisi udara kini mulai terdengar semakin jarang. Populasi owa kalimantan terus menurun dalam beberapa dekade terakhir, membawa spesies endemik ini ke ambang kepunahan. Ancaman deforestasi yang masif membuat ruang hidup mereka semakin sempit. Inilah kisah tentang primata istimewa yang berjuang untuk bertahan di tengah modernitas yang terus menggerus habitat alaminya.

Janggut putih jadi ciri khasnya yang paling menonjol



Jika kamu melihat primata ini, hal pertama yang mungkin menarik perhatian adalah “jenggot” putih tebal yang kontras dengan wajah hitam dan bulu cokelat keabu-abuan. Ciri fisik inilah yang menjadi asal-usul nama ilmiahnya, albibarbis, yang berasal dari bahasa Latin “albus” (putih) dan “barba” (janggut). Sangat deskriptif, kan?

Meski sering disebut Owa Kelabu, nama owa kalimantan Janggut Putih lebih spesifik merujuk pada spesies ini. Dulu, mereka sempat dianggap sebagai subspesies dari Owa Lincah (Hylobates agilis) yang ada di Sumatra, namun penelitian DNA modern berhasil membuktikan bahwa mereka adalah spesies yang berbeda dan unik. Jadi, jangan sampai tertukar, ya!

Owa kalimantan adalah primata monogami



Di dunia satwa, tidak banyak yang menerapkan gaya hidup monogami. Namun, owa kalimantan adalah salah satu pengecualian. Mereka hidup dalam kelompok keluarga kecil yang biasanya terdiri dari satu pasangan jantan dan betina dewasa beserta satu hingga empat anak mereka yang belum mandiri. Ikatan pasangan ini sangat kuat dan bisa berlangsung seumur hidup.

Keluarga kecil ini sangat teritorial, mereka akan mempertahankan wilayahnya yang berkisar antara 30 hingga 47 hektare. Saat anak-anaknya beranjak dewasa, sekitar usia empat tahun atau lebih, mereka akan didorong oleh induk yang berjenis kelamin sama untuk meninggalkan kelompok dan memulai keluarga baru. Proses ini memastikan kelangsungan hidup spesies sambil menjaga keseimbangan sumber daya di wilayah mereka.

Mereka berkomunikasi lewat nyanyian merdu setiap pagi



Salah satu hal paling magis dari owa kalimantan adalah “konser” pagi mereka. Setiap fajar menyingsing, pasangan owa akan menyanyikan duet merdu yang bisa terdengar hingga jarak dua kilometer. Vokal utama dalam duet ini adalah sang betina yang mengeluarkan “great call”, yaitu serangkaian nada melengking yang kompleks, sementara sang jantan akan menimpali dengan “coda” atau jawaban singkat.

Nyanyian ini bukan sekadar unjuk kebolehan vokal. Menurut New England Primate Conservancy, panggilan duet ini memiliki fungsi ganda yang sangat penting. Pertama, sebagai cara untuk memperkuat ikatan antara pasangan. Kedua, sebagai deklarasi kepemilikan wilayah kepada kelompok owa lain di sekitarnya, semacam pesan “area ini sudah ada yang punya, ya!”.

Gerakannya sangat lincah bak akrobat di pepohonan



Owa kalimantan adalah primata arboreal, artinya mereka menghabiskan hampir seluruh hidupnya di atas pohon dan sangat jarang turun ke tanah. Untuk berpindah dari satu dahan ke dahan lain, mereka menggunakan teknik gerakan yang disebut brachiation. Ini adalah gaya berayun dengan lengan yang sangat panjang dan kuat, membuat mereka terlihat seperti akrobat profesional di udara.

Dengan lengan yang 1,5 kali lebih panjang dari kakinya, mereka mampu melompat antar pohon dengan jarak lebih dari 10 meter dalam sekali ayunan. Kecepatannya pun luar biasa, bisa mencapai 55 km/jam. Kemampuan inilah yang membuat mereka sangat efisien dalam menjelajahi kanopi hutan untuk mencari makanan sekaligus menghindari predator seperti macan dahan, elang, dan ular sanca.

Pola makannya membantu menjaga kesehatan hutan



Sebagai primata frugivora, makanan utama owa kalimantan adalah buah-buahan yang matang dan kaya gula, terutama buah ara yang menyumbang sekitar 25% dari total menu mereka. Namun, saat buah sulit ditemukan, mereka tidak segan menyantap daun muda, bunga, atau serangga sebagai makanan alternatif. Gigi taring mereka yang panjang sangat berguna untuk menembus kulit buah yang tebal.

Peran mereka di alam lebih dari sekadar pemakan buah. Dilansir New England Primate Conservancy, owa kalimantan adalah penyebar biji yang sangat efektif. Setelah memakan buah, bijinya akan dikeluarkan bersama kotoran di lokasi yang jauh dari pohon induk. Proses ini membantu regenerasi hutan secara alami dan menjaga keanekaragaman hayati tumbuhan. Jadi, kesehatan populasi owa berbanding lurus dengan kesehatan hutan itu sendiri.

Statusnya kini terancam punah akibat ulah manusia



Ini adalah fakta paling menyedihkan. International Union for Conservation of Nature (IUCN) telah mengklasifikasikan owa kalimantan sebagai spesies Terancam Punah (Endangered). Populasinya diperkirakan telah berkurang lebih dari 50% hanya dalam kurun waktu 30 tahun terakhir, dan tren ini diprediksi akan terus berlanjut.

Ancaman terbesar datang dari hilangnya habitat. Deforestasi besar-besaran untuk perkebunan kelapa sawit, penebangan liar, aktivitas pertambangan, dan kebakaran hutan menjadi penyebab utamanya. Hutan Kalimantan yang menjadi rumah mereka hilang dengan laju 1% setiap tahunnya antara 1973 hingga 2017. Selain itu, perburuan liar untuk perdagangan hewan peliharaan ilegal juga turut memperparah kondisi mereka.

Keberadaan owa kalimantan adalah cerminan dari kondisi hutan kita. Suara nyanyian mereka yang semakin lirih adalah pengingat bagi kita semua bahwa ada kehidupan berharga yang bergantung pada kelestarian alam. Melindungi mereka berarti melindungi seluruh ekosistem hutan Borneo untuk generasi yang akan datang.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Johann Zarco Ungkap Rahasia Sukses Rookie MotoGP 2026, Diogo Moreira

21 Februari 2026

Harga Toyota Alphard G 2012 Bekas, MPV Keluarga Murah

21 Februari 2026

Harga Mitsubishi Mirage 2013 Bekas Semakin Murah, Cek Disini

21 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Johann Zarco Ungkap Rahasia Sukses Rookie MotoGP 2026, Diogo Moreira

21 Februari 2026

5 fakta penting dan rute tol Jakarta–Subang untuk perjalanan ke Jawa Barat

21 Februari 2026

7 rekomendasi baju koko lokal terbaik untuk Lebaran, nyaman dan modis

21 Februari 2026

Persib vs Ratchaburi FC, Tantangan Berat Maung Menuju 8 Besar ACL 2

21 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?