Peran Penting Mustasyar dalam Kesepakatan Muktamar NU
Pertemuan penting antara para tokoh dan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) telah menghasilkan kesepakatan yang menunjukkan komitmen untuk menyelenggarakan Muktamar NU secara bersama-sama. Hal ini dilakukan setelah adanya diskusi intensif antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar.
Pertemuan tersebut berlangsung di Pondok Pesantren Lirboyo, Kota Kediri, Jawa Timur, pada hari Kamis. Dalam pertemuan ini, para masyayikh, mustasyar, serta pimpinan PBNU sepakat untuk menjalankan Muktamar dengan kerja sama penuh antara Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
Penjelasan dari KH Ma’ruf Amin
KH Ma’ruf Amin, Mustasyar PBNU, menyampaikan bahwa pertemuan ini berakhir dengan hasil yang positif. Ia menyebut bahwa kesepakatan ini akan segera diwujudkan melalui penyelenggaraan Muktamar yang tidak hanya satu pihak, tetapi dilakukan bersama-sama oleh Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.
“Kesepakatan ini adalah langkah penting untuk membentuk kepanitiaan yang dapat menyelenggarakan Muktamar secara bersama,” ujar KH Ma’ruf Amin seusai rapat.
Ia juga menambahkan bahwa dalam pertemuan sebelumnya yang dihadiri oleh jajaran PWNU dan PCNU, aspirasi serupa muncul. Para peserta menilai bahwa penyelenggaraan Muktamar menjadi solusi untuk mengatasi dinamika internal organisasi.
“Para mustasyar dan kiai sepuh hanya memfasilitasi agar semua pihak bergerak menuju tujuan yang sama, yaitu menghilangkan konflik dengan menyelenggarakan Muktamar,” tambahnya.
Tanggapan dari Gus Yahya
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyampaikan rasa syukur atas kesepakatan yang dicapai. Ia mengucapkan terima kasih kepada para sesepuh ulama dan mustasyar PBNU yang telah memberikan bimbingan hingga tercapainya kesepakatan ini.
“Tidak ada ungkapan selain syukur alhamdulillah dan terima kasih ke para sesepuh ulama dan mustasyar yang membimbing semua sehingga hari ini disepakati secara penuh bahwa selanjutnya akan diselenggarakan muktamar yang normal,” katanya.
Gus Yahya menegaskan bahwa Muktamar ke-35 NU nantinya akan dipimpin oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama dengan dirinya sendiri sebagai Ketua Umum PBNU. Ia menilai bahwa hasil kesepakatan ini merupakan bentuk cinta terhadap jamiyah NU, sehingga keputusan diambil dan menjadi berkah bagi seluruh anggota organisasi.
Proses Lanjutan Setelah Kesepakatan
Setelah kesepakatan ini, lanjut Gus Yahya, akan dilakukan langkah teknis untuk mempersiapkan pelaksanaan Muktamar. Pihaknya berkomitmen untuk melakukan persiapan yang matang agar Muktamar berjalan lancar dan sesuai harapan.
Rapat konsultasi yang diinisiasi oleh Syuriyah PBNU ini turut dihadiri oleh Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar beserta jajaran Syuriyah PBNU, seperti KH Abdullah Kafabihi, KH Mu’adz Thohir, KH Imam Buchori, KH Idris Hamid, Muhammad Nuh, Gus Muhib, dan Gus Yazid.
Selain itu, hadir pula sejumlah tokoh NU lainnya, antara lain Gus Afifuddin Dimyati, Gus Moqsith Ghozali, Gus Latif, Gus Sarmidi Husna, Gus Tajul Mafakhir, Gus Athoillah Anwar, dan Gus Nadzif.
Dari unsur Tanfidziyah PBNU, hadir Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf bersama Amin Said Husni. Sementara itu, jajaran Mustasyar PBNU yang hadir antara lain KH Ma’ruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Nurul Huda Djazuli, KH Abdullah Ubab Maimoen, dan KH Machasin.



