Prediksi LPEM UI: BI Perlu Pertahankan BI-Rate di 4,75 Persen
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM UI) menyatakan bahwa Bank Indonesia (BI) sebaiknya mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen. Keputusan ini diambil dalam konteks inflasi yang cenderung berada pada batas atas target Bank Indonesia dan potensi kenaikan di akhir tahun akibat faktor musiman seperti libur akhir tahun.
Menurut ekonom LPEM UI, Teuku Riefky, inflasi November 2025 tercatat sebesar 2,72 persen year on year, turun dari 2,86 persen pada bulan sebelumnya. Namun, ia mengingatkan bahwa tekanan inflasi masih bisa meningkat seiring dengan adanya faktor musiman.
Dari sisi eksternal, kombinasi penurunan suku bunga oleh The Fed dan keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga kebijakan telah mendorong masuknya aliran modal asing ke Indonesia. Hal ini berdampak pada penguatan nilai tukar rupiah sebesar 0,11 persen (month to month) dalam 30 hari terakhir. Meski demikian, pergerakan nilai tukar masih cenderung fluktuatif.
LPEM UI menilai bahwa pemotongan suku bunga oleh BI berisiko memicu naiknya tekanan inflasi dan berpotensi mendorong pelemahan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, mereka berpandangan bahwa BI perlu menahan suku bunga acuannya di 4,75 persen pada Rapat Dewan Gubernur terakhir di 2025.
Pada Rapat Dewan Gubernur November lalu, BI memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan jangka pendek pada stabilisasi nilai tukar rupiah dan untuk menarik investasi asing sebagai antisipasi terhadap meningkatnya ketidakpastian global.
BI sendiri telah memangkas suku bunga acuan sebanyak 150 basis poin sejak September 2024 hingga November 2025. Dalam konferensi pers daring pada Rabu, 19 November 2025, Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan:
“Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada tanggal 18 dan 19 November 2025 memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 4,75 persen,” ujarnya. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di level 3,75 persen dan suku bunga lending facility di level 5,5 persen.
Tantangan dan Strategi BI dalam Menghadapi Inflasi dan Fluktuasi Nilai Tukar
BI menghadapi tantangan signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Inflasi yang cenderung berada di batas atas target menjadi salah satu faktor utama yang harus diperhatikan. Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah juga menjadi isu penting yang perlu dikelola dengan baik.
Strategi BI dalam mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen dirasa tepat untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi. Langkah ini juga bertujuan untuk menjaga daya tarik investasi asing serta menjaga kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Beberapa langkah yang dilakukan BI antara lain:
* Stabilisasi nilai tukar: Memastikan rupiah tidak mengalami pelemahan signifikan terhadap mata uang asing.
* Menarik investasi asing: Dengan menjaga suku bunga yang relatif stabil, BI berharap dapat menarik lebih banyak aliran modal asing.
* Mengendalikan inflasi: Melalui kebijakan moneter yang hati-hati, BI berupaya agar inflasi tetap berada dalam kendali.
Kebijakan Moneter dan Dampaknya terhadap Perekonomian
Kebijakan moneter BI memiliki dampak yang luas terhadap perekonomian Indonesia. Dengan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, BI memberikan kesempatan bagi sektor swasta untuk berkembang tanpa menghadapi tekanan biaya pinjaman yang terlalu tinggi.
Namun, kebijakan ini juga membawa risiko. Jika inflasi meningkat secara signifikan, BI mungkin akan menghadapi tekanan untuk menaikkan suku bunga. Hal ini bisa memengaruhi pertumbuhan ekonomi dan daya beli masyarakat.
Selain itu, fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus-menerus bisa mengganggu perdagangan internasional dan menimbulkan ketidakpastian bagi pelaku usaha. Oleh karena itu, BI perlu terus memantau situasi ekonomi secara real-time dan siap melakukan penyesuaian jika diperlukan.
Peran LPEM UI dalam Memberikan Rekomendasi Kebijakan
LPEM UI berperan penting dalam memberikan rekomendasi kebijakan kepada Bank Indonesia. Dengan data dan analisis yang akurat, lembaga ini membantu BI dalam mengambil keputusan yang tepat dan berkelanjutan.
Rekomendasi yang diberikan oleh LPEM UI mencerminkan pemahaman mendalam tentang dinamika ekonomi domestik dan internasional. Dengan mengacu pada indikator ekonomi yang relevan, LPEM UI membantu BI dalam merancang kebijakan yang efektif dan berdampak positif bagi seluruh pihak.
Kesimpulan
Dalam rangka menjaga stabilitas ekonomi dan menghadapi tantangan inflasi serta fluktuasi nilai tukar, Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Dengan dukungan dari lembaga seperti LPEM UI, BI dapat mengambil keputusan yang tepat dan berbasis data. Hal ini akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.



