Kehidupan di Balik Ruang Liminal yang Menakutkan
Dari sebuah cerita horor internet menjadi video yang menimbulkan rasa takut, hingga film yang menggemparkan box office, Backrooms telah meninggalkan kesan mendalam bagi banyak orang. Film ini bahkan disutradarai oleh seorang sutradara muda berusia 20 tahun, Kane Parsons, yang menjadi sutradara termuda dalam sejarah yang filmnya menduduki peringkat No. 1. Berbagai tanggapan terhadap misteri dari Backrooms juga bervariasi. Beberapa orang puas dengan misteri yang tidak terungkap dan lebih memilih membiarkan rahasia-rahasia itu terungkap secara perlahan. Sementara itu, ada pula yang sangat penasaran dan ingin tahu semua hal.
Kehidupan di balik ruang liminal ini memiliki daya tarik tersendiri. Meskipun genre ini bukan yang pertama dan satu-satunya, ada beberapa film yang bertema serupa yang wajib kamu tonton.
1. Pulse (2001)
Pulse adalah film horor asli Jepang yang dirilis pada 2001. Versi Amerika dari film ini dirilis pada tahun 2006 dengan judul yang sama. Namun, versi Amerika dianggap buruk dan menjadi salah satu remake film terburuk sepanjang masa. Sementara itu, Pulse asli Jepang adalah film horor fiksi ilmiah klasik yang memanfaatkan ide horor liminal dengan cara yang sangat menarik. Roh-roh jahat dari dunia lain memanfaatkan kekuatan internet untuk meyakinkan warga Tokyo agar bunuh diri. Tiga individu—yang masing-masing telah melihat orang-orang terdekat mereka menghilang—akhirnya berkumpul untuk mengungkap penyebab hal tersebut dan apakah mereka bisa menghentikannya.
Meskipun terdengar lebih mirip film thriller teknologi ketimbang Backrooms, kengerian liminal dalam film Pulse ini terletak pada bagaimana para korbannya terjebak di ruang yang meresahkan antara dunia nyata dan alam baka. Horor liminal bukan hanya tentang gedung perkantoran yang menyeramkan atau pusat perbelanjaan yang terbengkalai, tetapi juga tentang terjebak di ambang batas dunia kehidupan dan kematian. Pulse pun dianggap berhasil menangkap hal itu.
2. Vivarium (2020)
Jika kamu beranggapan bahwa konsep Backrooms hanya tentang lorong-lorong berdinding kuning yang tak berujung dan kantor-kantor kosong bergaya tahun 70-an yang bermandikan cahaya lampu neon yang berkedip-kedip, maka kamu salah. Terkadang ada juga konsep yang diceritakan lewat luar ruangan. Salah satu area luar ruangan di Backrooms adalah perumahan yang tampak generik dan tidak mencolok di lingkungan yang identik dengan rumah-rumah yang selaras. Perumahan ini sangat membosankan dan tidak bernyawa. Setiap rumah punya warna yang sama, atap yang sama, fitur yang sama, dan sebagainya. Nah, tentu saja, hal ini bisa menjadi hal yang mengganggu.
Jika aspek horor liminal itu membuat bulu kuduk kamu merinding, Vivarium adalah film yang tepat nih, buat kamu tonton. Sebagai salah satu film horor terbaik dan juga salah satu film fiksi ilmiah terbaik tahun 2020, Vivarium dibintangi oleh Jesse Eisenberg dan Imogen Poots sebagai Tom dan Gemma. Mereka adalah pasangan yang ingin membeli rumah. Namun, Tom dan Gemma terjebak di sebuah perumahan menyeramkan—bernama Yonder. Perumahan ini diisi dengan rumah-rumah yang identik tanpa ciri khas atau karakter yang menonjol. Setelah diperlihatkan salah satu rumah, mereka pun gak bisa pergi dari perumahan tersebut. Setiap kali mereka berusaha kabur, mereka selalu kembali ke rumah itu.
3. Come True (2021)
Salah satu dari beberapa film horor beranggaran rendah yang kurang mendapat perhatian adalah Come True. Film ini mengisahkan tentang seorang gadis remaja bernama Sarah (diperankan Julia Sarah Stone) yang kurang tidur karena depresi dengan keluarganya yang gak harmonis. Misalkan dia bisa tidur, dia pasti selalu mimpi buruk dengan terjebak di labirin dan dikejar oleh seorang laki-laki yang bersembunyi di balik bayangan. Laki-laki itu punya sorot mata yang bercahaya. Nah, untuk mengatasi insomnianya dan juga mendapatkan penghasilan, Sarah pun menjadi subjek penelitian untuk sebuah studi tentang masalah tidur.
Sayangnya, mimpi buruk Sarah malah semakin buruk. Para peneliti yang terlibat dalam studi tidur tersebut ternyata punya niat jahat kepadanya. Sarah pun semakin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara terjaga dan bermimpi, karena apa yang ia anggap sebagai dunia nyata perlahan mirip seperti nuansa surealis dan aneh yang sama seperti mimpi buruknya. Lengkap dengan kemunculan laki-laki bayangan bermata menyala tersebut.
Come True kurang mendapat perhatian saat dirilis. Rating yang dikasih penonton juga cuma 58 persen di Rotten Tomatoes. Hal ini menunjukkan bahwa banyak dari penonton yang gak terkesan dengan film tersebut. Namun, para kritikus justru menyukainya. Kritikus memuji tentang perasaan gelisah yang terjadi saat bermimpi dalam menciptakan pengalaman horor yang berkesan. Mungkin alur cerita Come True belum dimengerti banget sama penonton di tahun itu. Apalagi genre horor liminal belum sepopuler sekarang. Nah, mungkin film ini lebih dihargai oleh para penonton saat ini berkat kesuksesan Backrooms.
4. Skinamarink (2022)
Backrooms punya kesan yang sangat baik karena berhasil memainkan konsep-konsep yang sudah dikenal banyak orang dan dianggap menyeramkan. Sebagian besar dibuat di sekitar ruang liminal yang pernah dihuni orang pada suatu waktu. Meskipun gak semua orang pernah bekerja di gedung perkantoran yang berkarpet jelek dan berbau apak, tapi ada pengalaman universal bagi seorang anak yang takut ketika lampu kamarnya dimatikan saat malam hari. Nah, itulah yang menjadi fokus pada cerita film Skinamarink.
Faktanya, Skinamarink adalah film yang menggambarkan banyak pengalaman mengganggu yang dialami banyak dari kita saat masih anak-anak. Yap, film ini bikin kamu merinding sih. Skinamarink menggambarkan dua anak kecil yang terbangun di tengah malam dan gak menemukan orangtua mereka di rumah. Gak hanya itu, pintu dan jendela rumah mereka menghilang dan membuat mereka terjebak hingga gak bisa keluar dari rumah. Ada pula hilangnya barang-barang lain yang menunjukkan adanya kekuatan jahat di rumah tersebut.
Para kritikus memuji film Skinamarink karena berhasil bikin merinding. Film ini juga dianggap mahir memanfaatkan pengalaman masa kecil kita tentang ketakutan di malam hari. Namun, alur film ini lambat. Yap, sama dengan film Backroom.
5. Exit 8 (2025)
Dalam poin sebelum, kita menyinggung sebuah film yang diadaptasi dari sebuah game yang mengutip konten YouTube Backrooms asli sebagai inspirasinya. Game tersebut adalah The Exit 8 (2023), sebuah game horor psikologis yang menempatkan pemainnya di serangkaian koridor di stasiun kereta bawah tanah Jepang. Pemain diharuskan menemukan hal-hal yang tampak gak wajar, serta pada laki-laki misterius yang berjalan di stasiun. Nah, jika berhasil menemukan “anomali” ini, maka kamu bisa melaju ke level berikutnya. Namun, jika kamu gagal, kamu akan terjebak di stasiun selamanya. Pengembang game ini adalah Kotake Create. Ia menyebut Backrooms sebagai salah satu inspirasi di balik game tersebut.
Pada tahun 2025, The Exit 8 diadaptasi menjadi film layar lebar berjudul Exit 8. Film ini mengikuti premis dasar yang sama dari game-nya. Seorang laki-laki yang dikenal sebagai The Lost Man (diperankan Kazunari Ninomiya) mengambil peran yang dimainkan pemain dalam permainan. Ia terjebak di stasiun kereta bawah tanah yang tampaknya gak berkesudahan dan harus menemukan anomali yang memungkinkannya melewati setiap pintu keluar. Ia harus mencapai pintu keluar kedelapan dan terakhir.
Bisa dibilang, film Exit 8 sukses dalam menerjemahkan permainan ke dalam sinematik. Yap, dengan rating Certified Fresh yang mengesankan sebesar 93 persen dari Rotten Tomatoes, film ini mendapat ulasan terbaik dalam daftar ini. Rupanya, lebih tinggi dari Backrooms.
Dari film yang berdasarkan pada game yang secara langsung terinspirasi oleh serial YouTube Backrooms, hingga film yang dirilis sebelum Kane Parsons lahir, genre horor liminal sudah ada dalam banyak versi. Nah, 5 contohnya yang sudah kita bahas wajib banget nih, kamu tonton. Tertarik?



