Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 15 April 2026
Trending
  • Mengapa Bayi Lebih Dulu Memanggil Papa Daripada Mama?
  • Persebaya Tidak Incar Hasil Imbang, Tekanan di GBK Ada di Persija
  • Lokasi Parkir dan Rute Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng Jakpus
  • Hardjuno Perkenalkan Model Perlindungan Hukum Tripartit untuk Lindungi 64 Juta UMKM Digital
  • Shin Tae-yong Pujikan Pacuan Kuda Indonesia
  • Daftar Peringkat META Resmi Senjata dan Aksesori Sailor Piece Roblox
  • 40 Catatan dan Soal Seni Musik Kelas 7 Kurikulum Merdeka 2026
  • Harga Emas Galeri 24, Antam dan UBS Turun di Pegadaian 7 April 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Hermina (HEAL) Naikkan Pendapatan Meski Laba Turun di 2025
Ekonomi

Hermina (HEAL) Naikkan Pendapatan Meski Laba Turun di 2025

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover3 April 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kinerja Keuangan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) pada Tahun 2025



PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) mencatatkan kinerja pendapatan bersih yang meningkat di tengah penurunan laba bersih sepanjang tahun 2025. Berdasarkan laporan keuangannya, pendapatan HEAL mencapai Rp 7,13 triliun pada tahun 2025, meningkat 6,19% secara tahunan (year on year/yoy) dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 6,71 triliun.

Rinciannya, pendapatan dari rumah sakit rawat inap mencapai Rp 4,31 triliun, rawat jalan sebesar Rp 2,59 triliun dan pendapatan dari segmen non rumah sakit sebesar Rp 213,71 miliar. Sejalan dengan kenaikan pendapatan bersih, beban pokok pendapatan juga meningkat 10,23% yoy menjadi Rp 4,72 triliun, dari Rp 4,28 triliun pada tahun sebelumnya.

Alhasil, laba bruto HEAL justru turun tipis 0,89% yoy menjadi Rp 2,41 triliun pada 2025, dibandingkan Rp 2,44 triliun pada 2024. Di sisi lain, beban usaha tercatat naik 5,26% yoy menjadi Rp 1,47 triliun, dari Rp 1,40 triliun. Sementara itu, penghasilan lain-lain neto naik menjadi Rp 25,69 miliar dari sebelumnya Rp 21,49 miliar.

Dengan demikian, laba usaha HEAL turun 8,62% yoy menjadi Rp 967,04 miliar, dari Rp 1,06 triliun pada 2024. Tekanan terhadap laba juga datang dari sisi pembiayaan. Biaya keuangan dan administrasi bank naik cukup signifikan 33,13% yoy menjadi Rp 238,44 miliar, dari Rp 179,10 miliar pada tahun sebelumnya. Adapun penghasilan keuangan turun menjadi Rp 26,28 miliar, dari Rp 28,03 miliar.

Kondisi tersebut membuat laba sebelum beban pajak penghasilan HEAL turun 16,78% yoy menjadi Rp 754,88 miliar pada 2025, dari Rp 907,15 miliar pada 2024. Setelah dikurangi pajak, laba neto tahun berjalan HEAL tercatat sebesar Rp 548,96 miliar, turun 20,34% yoy dari Rp 689,13 miliar pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk alias laba bersih turun 19,85% yoy menjadi Rp 429,55 miliar, dibandingkan Rp 535,94 miliar pada 2024. Sejalan dengan penurunan laba, laba per saham HEAL juga turun menjadi Rp 28,40 per saham, dari Rp 36,11 per saham pada tahun sebelumnya.

Fase Ekspansi Bisnis dan Pengaruhnya terhadap Laba

Direktur Utama HEAL, Yulisar Khiat, menjelaskan bahwa kenaikan pendapatan di tengah penurunan laba bersih merupakan dampak yang lazim terjadi pada fase ekspansi bisnis. Tahun lalu perusahaan membuka empat rumah sakit di Ibu Kota Nusantara, PIK 2, Ciawi dan Aceh. “Kami perlu menambah biaya operasional untuk mendukung keempat rumah sakit tersebut. Sebab dokter, perawat, back office team, dan lainnya semuanya meningkat. Ini yang membuat laba bersih turun sementara,” ucap Yulisar.

Untuk tahun 2026, Yulisar menuturkan bahwa tantangan sekaligus peluang utama HEAL berkaitan dengan perubahan kebijakan di sektor kesehatan, seperti standardisasi kelas KRIS, tarif coding baru INA-DRG, serta coordination of benefit. Meski demikian, HEAL mengaku telah menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan tersebut. Lalu tantangan lainnya ialah persiapan Rumah Sakit berbasis kompetensi dengan minimal kompetensi madya dengan pemenuhan alat penunjang kesehatan dan penambahan dokter-dokter spesialis dan sub spesialis.

Di tengah berbagai tantangan dan peluang tersebut, HEAL tetap membidik pertumbuhan pendapatan double digit pada 2026, dengan target pertumbuhan laba bersih yang tetap sehat. Untuk mencapai target itu, HEAL akan mulai memfokuskan strategi pada peningkatan jumlah pasien eksekutif. Selain itu, HEAL juga akan memperkuat pengendalian biaya, terutama untuk obat-obatan, melalui digitalisasi layanan farmasi.

Analisis dari MNC Sekuritas

Research Analyst MNC Sekuritas, Rudy Setiawan, menilai kinerja HEAL masih menunjukkan sejumlah indikator operasional yang solid. Menurut dia, HEAL tetap mampu mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 6% yoy menjadi sekitar Rp 7,1 triliun. HEAL juga mencatatkan pemulihan yang cukup tajam pada paruh kedua 2025, tercermin dari jumlah pasien rawat inap yang melonjak 18% pada semester II-2025, setelah cenderung stagnan pada semester I-2025.

Rudy juga menyoroti tingkat hunian tempat tidur (bed occupancy rate/BOR) yang mencapai 73%, yang menurutnya masih berada pada level sehat untuk menopang operasional rumah sakit. Sementara penurunan laba disebabkan oleh dua faktor utama. Pertama, biaya ekspansi, seiring penambahan rumah sakit baru dan kenaikan gaji tenaga medis seperti dokter dan perawat. Kedua, tekanan dari daya beli masyarakat dan dinamika di sektor asuransi kesehatan, yang sempat memengaruhi permintaan pada awal tahun.

Meskipun laba tertekan biaya ekspansi, pertumbuhan jumlah pasien yang signifikan di akhir tahun 2025 memberikan sinyal positif untuk kinerja tahun 2026. “Penurunan laba saat ini adalah ‘biaya’ yang harus dibayar perusahaan untuk tumbuh lebih besar di masa depan,” tulis Rudy dalam risetnya.

Secara teknikal, MNC Sekuritas melihat posisi HEAL masih berada di fase downtrendnya dan masih disertai dengan munculnya tekanan jual. MACD masih menyempit di area negatif dan rawan deadcross, serta indikator Stochastic yang masih rawan terkoreksi di area netral. Saat ini, rekomendasi untuk saham HEAL ialah wait and see dengan level support di level Rp 1.210 dan resistance Rp 1.275 per saham.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Shin Tae-yong Pujikan Pacuan Kuda Indonesia

15 April 2026

11 cara kaya ala miliarder dengan uang yang tepat

15 April 2026

Limbah Jadi Energi: Tim Teknik USU Dorong Kemandirian Ekonomi Desa Tadukan Raga dengan Kompor Biomassa

14 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mengapa Bayi Lebih Dulu Memanggil Papa Daripada Mama?

15 April 2026

Persebaya Tidak Incar Hasil Imbang, Tekanan di GBK Ada di Persija

15 April 2026

Lokasi Parkir dan Rute Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng Jakpus

15 April 2026

Hardjuno Perkenalkan Model Perlindungan Hukum Tripartit untuk Lindungi 64 Juta UMKM Digital

15 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?