Indonesiadiscover.com, JAKARTA — Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyampaikan kekhawatiran terhadap kemungkinan perlambatan ekonomi pada pertengahan 2026. Hal ini disebabkan oleh kurangnya momentum pendorong pertumbuhan yang signifikan.
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menilai bahwa prospek perekonomian nasional tahun ini perlu dihadapi dengan optimisme yang tetap waspada. Ia menjelaskan bahwa ada potensi lonjakan ekonomi pada awal tahun karena adanya berbagai faktor musiman seperti tahun baru, Imlek, Ramadhan, dan Lebaran. Namun, risiko perlambatan bisa muncul setelah periode tersebut.
“Karena 2026 tidak memiliki satu-satunya pendorong (one-off booster), maka konsumsi domestik, investasi, dan ekspor berbasis hilirisasi harus menjadi mesin utama,” ujar Shinta kepada media.
Konsumsi Domestik sebagai Jangkar Pertumbuhan
Shinta menekankan pentingnya menjaga konsumsi domestik sebagai jangkar pertumbuhan ekonomi. Ia menilai bahwa pemulihan dan penguatan kelas menengah sangat diperlukan agar efek pengganda konsumsi kembali terasa. Jika daya beli kelas menengah dan bawah tidak terjaga, maka kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap PDB akan sulit diperluas.
Investasi sebagai Pengungkit Utama
Investasi juga dianggap sebagai pengungkit utama pertumbuhan ekonomi melalui kualitas dan dampaknya terhadap penciptaan lapangan kerja formal. Dunia usaha memandang bahwa keberlanjutan deregulasi, kepastian hukum, penurunan biaya berusaha, serta efektivitas transmisi kebijakan fiskal dan moneter ke sektor produktif dengan multiplier tinggi akan sangat menentukan.
Ekspor sebagai Mesin Pertumbuhan Bernilai Tambah
Selain itu, Shinta menyoroti pentingnya memperkuat ekspor sebagai mesin pertumbuhan bernilai tambah melalui hilirisasi yang lebih terarah dan diversifikasi pasar. Dunia usaha melihat peluang ekspor hanya bisa dimanfaatkan jika daya saing domestik terus dibenahi, terutama terkait logistik, energi, pembiayaan, dan kepastian regulasi.
Penguatan Sektor Padat Karya
Penguatan sektor padat karya juga menjadi penting agar pertumbuhan tidak hanya tercermin dalam angka PDB, tetapi juga dalam penciptaan lapangan kerja dan penguatan daya beli.
Pembenahan Struktural yang Konsisten
Shinta menekankan bahwa pembenahan struktural yang konsisten lebih penting daripada mengandalkan stimulus jangka pendek. Dengan demikian, pihaknya optimistis target pertumbuhan ekonomi dapat dicapai secara sehat dan berkelanjutan.
Target Pertumbuhan Ekonomi 6%
Berdasarkan catatan, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan berbagai upaya untuk mendorong pertumbuhan ekonomi 2026 ke arah 6%, meskipun target APBN hanya 5,4%. Namun, tantangan di depan tidak semudah yang diperkirakan.
Purbaya menyebutkan bahwa pemerintah akan fokus pada tiga hal untuk memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Tiga hal tersebut adalah memacu belanja pemerintah, koordinasi fiskal dan moneter yang lebih erat dengan Bank Indonesia (BI), serta mengurai satu per satu hambatan usaha.
“Yang penting adalah ke depan dengan kebijakan yang semakin sinkron antara kami dengan bank sentral, ekonomi kita akan tumbuh lebih baik dari sekarang. Tahun 2026 harusnya pertumbuhan 6%, seperti yang saya bilang sebelum-sebelumnya tidak terlalu sulit untuk dicapai,” ujarnya kepada wartawan di kantor Kemenkeu, Jakarta.



