Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 19 Mei 2026
Trending
  • Orang yang Sering Mematikan Suara Ponselnya Punya 7 Kebiasaan Ini, Menurut Psikologi
  • Analisis Mengungkap Potensi Pemborosan Dana Negara dalam Investasi Saham GOTO
  • Detik-detik Bahroni Baku Tembak Saat Ditangkap, Eksekutor Arya Supena Tewas
  • Rekam Jejak Maryati, Kepala SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC MPR RI, Pendidikan Mengkilap
  • Pemecatan Lima Pemain AC Milan di Bursa Transfer Liga Italia, Daftar Jual Allegri Membikin Heboh
  • Mengenal Kapal Perang, Simbol Kekuatan Militer Tempo Dulu
  • Prediksi skor PSIM vs Madura United 17 Mei 2026: Laga sengit penuh tekanan!
  • Wisata alam Candali, liburan seru dan terjangkau di Bogor
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Istana: Indonesia Tak Tarik Pasukan TNI dari UNIFIL, Lanjut Evaluasi
Ekonomi

Istana: Indonesia Tak Tarik Pasukan TNI dari UNIFIL, Lanjut Evaluasi

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 April 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pemerintah Indonesia Tidak Berencana Menarik Pasukan TNI dari UNIFIL



Istana Kepresidenan menyatakan bahwa tidak ada rencana untuk menarik pasukan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL). Sekretaris Kabinet (Seskab) Letnan Kolonel TNI Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang melakukan evaluasi menyeluruh terkait gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi tersebut.

Teddy mengungkapkan bahwa proses evaluasi dilakukan secara internal maupun eksternal, dengan tujuan memastikan perlindungan maksimal bagi prajurit yang bertugas di lapangan. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat untuk menarik pasukan TNI dari UNIFIL.

“Tidak ada arah untuk ke situ (menarik TNI dari UNIFIL). Evaluasi tetap berjalan, evaluasi ke dalam dan ke luar,” ujar Teddy kepada wartawan di ruang media Istana Jakarta pada Jumat (10/4).

Menurut Teddy, penugasan prajurit TNI dalam misi perdamaian merupakan komitmen Indonesia sebagai bagian dari amanat konstitusi untuk ikut menjaga ketertiban dunia. Hal ini menjadi dasar keberlanjutan misi TNI di UNIFIL meskipun terjadi dinamika konflik yang meningkat.

Desakan untuk Evaluasi Keberadaan Pasukan TNI

Desakan untuk menarik TNI dari wilayah Lebanon Selatan mulai muncul setelah tiga prajurit TNI yang merupakan bagian dari misi perdamaian di Lebanon gugur. Seruan ini datang dari berbagai pihak, termasuk politikus hingga mantan Presiden.

Presiden Ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Ahmad Muzani adalah beberapa tokoh yang meminta evaluasi keberadaan pasukan TNI di Lebanon. SBY bahkan mendesak PBB untuk menghentikan misi penjaga perdamaian di Lebanon Selatan (UNIFIL).

Tiga prajurit yang gugur adalah Praka Farizal Rhomadhon, Kapten (Inf) Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan. Praka Farizal meninggal akibat tembakan artileri di sekitar posisi kontingen Indonesia di dekat Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3). Sehari kemudian, Kapten Zulmi dan Sertu Muhammad Ichwan gugur usai konvoi yang mereka kawal diserang.

“Seharusnya PBB, New York segera mengambil keputusan dan langkah yang tegas untuk menghentikan penugasan UNIFIL,” kata SBY dalam pernyataannya yang diunggah di media sosial.

Opsi Penarikan Pasukan Terbuka Secara Hukum

Sejumlah pakar pertahanan dan militer menilai opsi penarikan pasukan terbuka secara hukum. Penarikan perlu dilakukan jika situasi sudah sangat membahayakan prajurit TNI yang bertugas. “Tapi tetap ada mekanismenya,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lesperssi), Rizal Darma Putra.

Penempatan pasukan UNIFIL merupakan bagian dari mandat yang telah ditetapkan oleh Dewan Keamanan PBB usai invasi Israel ke Lebanon pada 1978. Payung hukumnya adalah Resolusi Nomor 425 dan 426 DK PBB.

Pengamat militer, Connie Rahakundini Bakrie, menjelaskan bahwa berdasarkan Resolusi DK PBB 1701, tugas UNIFIL adalah misi penjaga perdamaian, bukan operasi tempur. Menurutnya, UNIFIL tidak dirancang untuk menghadapi konflik bersenjata aktif.

“Secara hukum internasional, misi ini tidak ditujukan untuk zona konflik aktif. Peacekeeper harus netral dan sangat bergantung pada situasi di lapangan,” ujar Connie melalui pesan suara.

Connie menjelaskan bahwa tidak ada klausul otomatis yang mewajibkan penghentian misi ketika situasi memburuk. Namun, Dewan Keamanan PBB memiliki kewenangan untuk mengevaluasi, mengubah, atau bahkan mengakhiri mandat jika eskalasi konflik meningkat.

Hak Negara Kontributor Pasukan

Terkait keselamatan personel, negara kontributor pasukan—termasuk Indonesia—memiliki hak untuk menarik pasukan secara sepihak jika risiko dianggap terlalu tinggi. “Ini praktik yang cukup umum dalam misi perdamaian,” ujarnya.

Penarikan pasukan perdamaian dari wilayah konflik juga bukan hal yang baru. Connie mencontohkan, Belgia pernah menarik pasukan perdamaian dari Rwanda (UNAMIR) setelah adanya korban jatuh dari pihak mereka. PBB juga pernah menarik misi perdamaian di Mali (MINUSMA) dan Bosnia (UNPROFOR) akibat eskalasi konflik.

Menurut Connie, kondisi di Lebanon saat ini sudah menjadi peringatan serius karena konflik Israel–Hizbullah semakin mendekati perang terbuka. “Reposisi UNIFIL penting untuk menjamin perlindungan personel,” ujarnya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Analisis Mengungkap Potensi Pemborosan Dana Negara dalam Investasi Saham GOTO

19 Mei 2026

Didik Rachbini Kritik Tuntutan 18 Tahun Nadiem, Bongkar Perangkap Politik

18 Mei 2026

Kapal Perang Canggih Belanda Berlabuh di Surabaya, Kuatkan Maritim dan Ekonomi

18 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Orang yang Sering Mematikan Suara Ponselnya Punya 7 Kebiasaan Ini, Menurut Psikologi

19 Mei 2026

Analisis Mengungkap Potensi Pemborosan Dana Negara dalam Investasi Saham GOTO

19 Mei 2026

Detik-detik Bahroni Baku Tembak Saat Ditangkap, Eksekutor Arya Supena Tewas

19 Mei 2026

Rekam Jejak Maryati, Kepala SMAN 1 Pontianak Tolak Tanding Ulang LCC MPR RI, Pendidikan Mengkilap

19 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?