Aplikasi Pemindai Produk Meningkatkan Kesadaran Konsumen di Denmark
Di tengah ketegangan diplomatik antara Denmark dan Amerika Serikat (AS), warga Denmark semakin memanfaatkan aplikasi ponsel untuk memboikot produk asal negara tersebut. Langkah ini muncul sebagai bentuk protes terhadap kebijakan Presiden AS, Donald Trump, khususnya terkait ancamannya terhadap Denmark atas isu Greenland.
Aplikasi yang digunakan oleh warga Denmark memungkinkan pengguna memindai kode batang (barcode) untuk mengidentifikasi asal suatu produk. Jika barang berasal dari AS, akan ditandai dengan simbol silang merah, sementara alternatif dari negara lain diberi tanda centang hijau. Gerakan ini cepat mendapat dukungan luas, mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Kopenhagen dan Washington.
Aplikasi UdenUSA Puncaki App Store Denmark
Aplikasi UdenUSA (NonUSA) menempati posisi teratas di App Store Denmark setelah melonjak dari peringkat keenam. Bahkan, aplikasi ini berhasil mengungguli beberapa aplikasi populer seperti chatbot AI. Pengguna dapat memindai barcode untuk mengetahui asal negara suatu produk. Barang asal AS ditandai dengan simbol silang merah, sedangkan alternatif dari negara lain diberi tanda centang hijau.
Salah satu produk yang disorot adalah Diet Coke, minuman favorit Presiden AS Donald Trump, yang menerima tanda silang merah dan disarankan untuk dikembalikan ke rak. Aplikasi serupa bernama Made O’Meter juga tengah naik daun di kawasan Nordik, menempati peringkat kelima setelah mengalami lonjakan pengguna hingga 1.400 persen sejak Trump menyinggung isu Greenland dalam pidatonya di World Economic Forum (WEF) di Davos.
Pengembang UdenUSA, Jonas Pipper, menjelaskan bahwa aplikasinya dirancang sebagai alat dalam perang dagang konsumen yang membantu warga Denmark menyuarakan ketidaksetujuan terhadap kebijakan AS. “Kami ingin masyarakat biasa memiliki cara untuk menunjukkan pesan politik mereka melalui pilihan belanja,” ujar Pipper.
Boikot Produk AS Dipicu Pernyataan Trump Soal Pembelian Greenland
Gelombang boikot terhadap produk AS di Denmark dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump pada awal Januari 2026, yang kembali menyatakan keinginannya membeli Greenland dari Denmark dengan alasan keamanan nasional menghadapi China dan Rusia. Pernyataan itu memicu kemarahan publik di Denmark, yang merasa didominasi secara politis dan ekonomi oleh Washington.
Sebagai bentuk protes, banyak warga beralih menggunakan aplikasi pemindai produk seperti UdenUSA untuk menghindari barang asal AS, termasuk merek populer seperti Coca-Cola yang didistribusikan oleh Carlsberg di Denmark. Gerakan boikot ini juga meluas ke pembatalan perjalanan wisata ke AS serta penghentian langganan layanan streaming seperti Netflix, meski dampak ekonominya relatif kecil mengingat impor makanan asal AS hanya mencakup sekitar 1 persen dari konsumsi Denmark.
Menariknya, kecaman terhadap Trump tidak hanya datang dari publik, tetapi juga dari kalangan politik. Partai Rakyat Denmark yang dikenal pro-Trump pun ikut mengkritik keras. Anggota Parlemen Eropa dari partai tersebut, Anders Vistisen, bahkan mengucapkan kata kasar kepada Trump di Parlemen Eropa, hingga mendapat teguran resmi.
Aplikasi Boikot Jadi Sarana Ekspresi Kemarahan Warga Terhadap Kebijakan Trump
Meski gerakan boikot produk AS di Denmark dinilai sulit diterapkan karena banyak barang asal AS diproduksi secara lokal, aplikasi seperti UdenUSA dan Made O’Meter tetap menjadi sarana penting bagi warga untuk mengekspresikan ketidakpuasan terhadap kebijakan Presiden Donald Trump. Aplikasi tersebut memberikan transparansi kepada konsumen soal asal produk dan dianggap sebagai saluran simbolis untuk menyuarakan protes publik.
Pencipta Made O’Meter dari perusahaan pemasaran InboundCPH, Ian Rosenfeldt, mengatakan bahwa sejak Trump kembali mengangkat isu pembelian Greenland, jumlah unggahan foto produk di versi aplikasi dan peramban telah mencapai sekitar 20 ribu. Sementara itu, UdenUSA tengah disiapkan untuk versi bahasa Jerman dan Inggris serta peluncuran di sistem Android, sedangkan Made O’Meter sudah tersedia lintas platform.
Ekonom dari Danske Bank, Louise Agstrø Hansen, menilai dampak boikot terhadap sektor makanan relatif kecil, namun akademisi Pelle Guldborg Hansen dari Roskilde University berpendapat bahwa emosi publik berperan besar. “Banyak orang merasa marah dan ingin melakukan sesuatu, sekecil apa pun,” ujarnya.



