Bursa saham Amerika Serikat (AS) pada hari Selasa (2/6/2026) dibuka dengan penurunan setelah mencatatkan rekor-rekor tinggi dalam beberapa sesi terakhir. Meski demikian, optimisme terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) tetap menjadi pendorong utama sentimen pasar.
Pada pembukaan perdagangan, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebesar 166 poin atau 0,33% ke level 50.912,84. Sementara itu, indeks S&P 500 melemah 4,6 poin atau 0,06% ke posisi 7.595,4 dan Nasdaq Composite turun 56,7 poin atau 0,21% ke level 27.030,07.
Salah satu perusahaan yang menjadi sorotan adalah Hewlett Packard Enterprise (HPE), yang melonjak sekitar 28% pada perdagangan premarket setelah mempercepat target keuangan jangka panjangnya dua tahun lebih cepat dari rencana semula. Sentimen positif juga mengangkat saham perusahaan teknologi lain yang terkait dengan infrastruktur AI. Contohnya, saham Dell Technologies naik 2,3%, sedangkan Super Micro Computer menguat 4,6%.
Di sisi lain, saham Alphabet turun hampir 2,8% setelah perusahaan induk Google tersebut mengumumkan rencana untuk mengumpulkan dana ekuitas senilai US$80 miliar, termasuk investasi dari Berkshire Hathaway, guna mendanai ekspansi besar-besaran infrastruktur AI.
Ryan Detrick, Chief Market Strategist Carson Group menyatakan bahwa langkah tersebut menunjukkan permintaan yang tinggi terhadap teknologi AI. “Setiap hari tampaknya ada perusahaan yang memberikan sinyal kuat bahwa gelombang AI masih hidup dan berkembang,” ujarnya.
Reli AI Masih Menjadi Penggerak Utama
Pada perdagangan Senin (1/6), indeks S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan selama delapan sesi beruntun dan ditutup di level rekor. Reli ini didorong oleh antusiasme terhadap AI, termasuk setelah Nvidia meluncurkan prosesor baru yang membawa kemampuan AI langsung ke komputer pribadi. Saham Nvidia sendiri sebelumnya melonjak lebih dari 6% dan terus menjadi salah satu motor utama penguatan sektor teknologi.
Sementara itu, saham Marvell Technology melonjak lebih dari 19% setelah CEO Nvidia, Jensen Huang, menyebut perusahaan tersebut berpotensi menjadi “perusahaan bernilai US$1 triliun berikutnya” dalam konferensi Computex di Taipei. Pada Maret lalu, Nvidia juga diketahui telah menginvestasikan dana sekitar US$2 miliar ke Marvell.
Geopolitik Masih Jadi Risiko
Di luar sentimen AI, investor tetap mengawasi perkembangan konflik Timur Tengah. Harapan akan perdamaian antara AS dan Iran serta potensi dibukanya kembali Selat Hormuz sempat mendukung pasar. Namun, ketidakpastian yang masih berlangsung membuat investor tetap waspada.
Lebanon pada Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hezbollah dan Israel, yang dinilai dapat menjadi langkah awal menuju deeskalasi konflik yang lebih luas. Menurut Detrick, pasar saat ini lebih fokus pada pertumbuhan sektor teknologi dibandingkan perkembangan geopolitik. “Timur Tengah memang penting, tetapi pasar saat ini lebih memperhatikan pertumbuhan luar biasa yang terus terjadi di sektor teknologi dan AI,” katanya.
Investor Menanti Data Tenaga Kerja AS
Pelaku pasar juga menantikan data lowongan pekerjaan AS yang dirilis Selasa waktu setempat, menjelang laporan ketenagakerjaan bulanan yang akan diumumkan pada Jumat. Selain itu, investor akan mencermati pernyataan Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, untuk mencari petunjuk arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Saat ini, pasar uang semakin mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga pada 2026 dan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika tekanan inflasi terus meningkat.
Saham Lain yang Menjadi Sorotan
Selain HPE dan Marvell, beberapa saham lain juga mencatat pergerakan signifikan:
- Microchip Technology naik 9,3% setelah memberikan proyeksi pendapatan pusat data yang lebih optimistis.
- Philip Morris International turun hampir 1% setelah memangkas proyeksi laba tahunan.
- Generac Holdings melonjak 9% usai menandatangani kontrak penyediaan generator cadangan untuk operator pusat data hyperscale.



