Perhatian Toyota terhadap Gejolak Politik di Venezuela
Peristiwa politik yang terjadi di Venezuela akhir-akhir ini menarik perhatian perusahaan otomotif ternama, Toyota. Situasi tersebut berpotensi memengaruhi ekspor kendaraan Toyota ke negara tersebut, termasuk masalah logistik dan rantai pasok.
Toyota sedang memantau dampak geopolitik Venezuela terhadap operasional bisnisnya, khususnya dalam hal ekspor mobil. Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Nandi Julyanto, mengatakan bahwa hingga saat ini komunikasi dengan pihak Venezuela masih berjalan normal.
“Tapi so far, sampai dengan kemarin, kami sudah komunikasi dengan Venezuela, everything oke,” ujar Nandi di Bandung, Kamis (8/1/2026). Ia juga menyebutkan bahwa isu utama yang perlu diperhatikan adalah kebijakan impor suatu negara.
Menurut Nandi, tantangan yang perlu dicermati ke depan bukan hanya kondisi politik di Venezuela, melainkan juga kebijakan perdagangan yang dapat berubah seiring dinamika global. Dalam situasi seperti ini, perusahaan harus siap menghadapi berbagai kemungkinan.

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur TMMIN, Bob Azzam, menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap dampak geopolitik terhadap rantai pasok dan logistik industri otomotif. Menurutnya, perkembangan geopolitik ini yang harus kita waspadai karena terkait dengan supply chain dan logistik.
Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi geopolitik yang tidak stabil, biaya logistik berpotensi meningkat signifikan. Contoh yang disampaikan oleh Bob adalah krisis di Timur Tengah yang sebelumnya mengganggu jalur pelayaran global. “Biasanya, kalau ada gonjang ganjing, biaya logistik itu akan naik, ya. Seperti waktu krisis Timur Tengah sehingga tidak bisa menggunakan terusan Suez, sehingga arus logistik itu memutar sampai ke Tanjung Harapan. Itu juga membuat harga logistik menjadi dua kali itu lebih mahal,” katanya.
Selain logistik, Bob juga menyoroti ketergantungan industri otomotif global terhadap rantai pasok lintas negara. Menurutnya, saat ini tidak ada lagi industri yang bisa berdiri sendiri tanpa dukungan negara lain, termasuk pada sektor otomotif.
Ia memberi contoh material kritis pada baterai kendaraan elektrifikasi yang berasal dari berbagai negara di dunia, mulai dari China, Ukraina, kawasan ASEAN, hingga Amerika Selatan. “Jadi, sekali terjadi ketegangan, arus barang itu terganggu, otomatis supply chain juga akan terganggu. Jadi, itu yang harus kita perhatikan.”
Bob menambahkan bahwa industri otomotif sejatinya dirancang untuk perdagangan multilateral. Namun, kondisi dunia yang semakin terfragmentasi berpotensi memengaruhi kelancaran logistik dan rantai pasok global. “Apalagi model-model yang terbaru, elektrifikasi, itu banyak menggunakan material-material seperti magnetik, baterai, yang terus terang kita masih banyak bergantung kepada impor, itu yang harus kita waspadai,” tutupnya.
Data Ekspor Toyota ke Venezuela
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), sepanjang Januari-November 2025 Toyota telah mengirimkan ribuan unit mobil ke Venezuela. Pada periode tersebut, Toyota mengirimkan dua model yakni Yaris Cross dan Wigo.
Yaris Cross tersalurkan sebanyak 1.008 unit ke Venezuela, sedangkan Wigo mencapai 5.971 unit. Dengan demikian, ekspor mobil Toyota ke Venezuela tercatat cukup tinggi, meskipun situasi politik di sana tetap menjadi perhatian serius bagi perusahaan.



