Nilai tukar rupiah memiliki peluang untuk menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan hari ini (12/2). Penguatan tersebut didorong oleh berita mengenai penyelidikan kriminal yang dilakukan oleh Jaksa Federal AS terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell.
“Pembukaan penyelidikan kriminal atas Powell oleh Trump menyebabkan penurunan yang cukup signifikan pada indeks dolar AS, sehingga rupiah berpotensi menguat,” ujar Analis Doo Financial Futures Lukman Leong kepada sumber lokal, Senin (12/2).
Namun, Lukman menekankan bahwa indeks dolar AS masih mengalami fluktuasi. Di sisi domestik, investor juga sedang menantikan pengumuman data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis hari ini.
“Rupiah diperkirakan akan berada di kisaran Rp 16.750 per dolar AS hingga Rp 16.900 per dolar AS,” kata Lukman.
Meski ada prediksi penguatan, nilai tukar rupiah pada pagi hari ini masih dibuka melemah. Berdasarkan data Bloomberg pagi ini, rupiah dibuka pada level Rp 16.840 per dolar AS, turun 21 poin atau 0,12% dari penutupan sebelumnya.
Senior Economist KB Valbury Sekuritas Fikri C Permana juga memproyeksikan hal serupa. “Kemungkinan besar rupiah akan menguat ke level Rp 16.800 per dolar AS,” ujarnya.
Fikri menjelaskan bahwa ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed semakin terbuka, dengan kemungkinan penurunan lebih dari dua kali 25 basis poin pada tahun 2026. Selain itu, data penjualan mobil dan motor domestik AS pada akhir 2025 juga menunjukkan peningkatan.
Di sisi domestik, Fikri menyebutkan bahwa ekspektasi masuknya dana asing ke Surat Berharga Negara (SBN) semakin positif. “Hal ini terjadi karena strategi penerbitan SBN secara masif di awal tahun yang kemungkinan akan dilakukan oleh pemerintah,” ujar Fikri.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Nilai Tukar Rupiah
- Perkembangan Eksternal
- Penyelidikan kriminal terhadap Ketua The Fed, Jerome Powell, memberikan dampak negatif terhadap indeks dolar AS. Hal ini membuat rupiah memiliki peluang untuk menguat.
Ekspektasi penurunan suku bunga acuan The Fed pada tahun 2026 menjadi faktor pendukung bagi penguatan rupiah.
Perkembangan Internal
- Investor sedang menantikan data penjualan ritel Indonesia yang akan dirilis hari ini.
- Strategi penerbitan SBN secara masif di awal tahun meningkatkan minat investor asing terhadap instrumen keuangan Indonesia.
Prediksi Pergerakan Rupiah
- Prediksi dari Analis
- Lukman Leong memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp 16.750 hingga Rp 16.900 per dolar AS.
Fikri C Permana memprediksi penguatan rupiah ke level Rp 16.800 per dolar AS.
Kondisi Awal Perdagangan
- Pagi ini, rupiah dibuka melemah dengan harga Rp 16.840 per dolar AS.
Perkembangan Terkini
- Data Ekonomi Internasional
- Peningkatan penjualan mobil dan motor domestik AS pada akhir 2025 menjadi indikator positif yang dapat memengaruhi sentimen pasar.
Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed memicu harapan akan kebijakan moneter yang lebih longgar.
Strategi Pemerintah
- Pemerintah mungkin melakukan strategi front loading dalam penerbitan SBN untuk menarik dana asing.
Dengan berbagai faktor yang saling memengaruhi, nilai tukar rupiah hari ini tetap menjadi fokus utama para analis dan investor. Perkembangan eksternal dan internal akan terus diawasi untuk menentukan arah pergerakan rupiah dalam waktu dekat.



