Perjalanan Semarang-Jogja dengan Motor
Saat malam tiba, teman saya mengatakan, “Kita mesti berangkat pagi, supaya nggak kejebak macet.” Ia mulai memasukkan pakaian ke ransel. Besok pagi, kami akan berangkat ke Jogja menggunakan motor dari Semarang. Jika melihat maps, perjalanan ini memakan waktu sekitar 2 jam 20 menit.
Sayangnya, perjalanan jauh ini hanya mengandalkan satu pengemudi motor karena saya tidak bisa mengendarai motor sama sekali. Penyesalan terbesar saya adalah tidak nekat belajar motor setelah sempat mengalami kecelakaan. Rasanya cukup merepotkan punya teman seperti dia yang tidak bisa bergantian saling membonceng. Semarang-Jogja, tidak dekat. Melewati jalan raya besar, banyak mobil truk, berlalu-lalang.
Dalam hati, nyali saya menciut sekali. Saya merapatkan banyak doa sedari malam sebelum menutup mata. Percaya atau tidak, ini adalah perjalanan naik motor terpanjang seumur hidup saya. Di usia 30-an awal ini, tidak pernah mengalami naik motor lebih dari satu jam setengah.
Tetapi, benar adanya. Semarang-Jogja bila tidak menggunakan motor, malah berputar. Harus ke stasiun Tawang lalu naik kereta. Memakan waktu, biaya dan selama di Jogja mobilitas akan ribet, banyak keluar ongkos buat ojol. Bisa membengkak pengeluaran.
Sedangkan niatan saya awalnya seminggu saja di Jawa Tengah. Setelahnya pulang dan sibuk melamar pekerjaan. Setelah dipertimbangkan, sembilan hari di Semarang dan Jogja tidak ada salahnya. Sambil tetap menghemat pengeluaran.
Pertama Kali Motoran Semarang-Jogja, Gimana Rasanya?
Pengalaman yang menarik sekali, nano-nano. Sepanjang jalan menjaga fokus terhadap google maps, menahan pegal kaki dan menikmati keindahan alam disertai berdoa memohon keselamatan. Bagi sebagian orang yang sering touring, mungkin pernyataan saya ini rada hiperbola ya.
Dua jam lebih bukan perkara jauh banget. Tetapi bagi saya, luar biasa jauh. Syukurlah teman yang membonceng sudah piawai mengendarai roda dua. Membaca maps yang kadang bikin bingung, bisa diskusi pas lampu merah menyala. Syukurlah, cuaca mendukung, tidak turun hujan dan nggak begitu panas.
Tiba di Jogja Jelajah Dua Pasar
Sebagai dua orang traveller yang tertarik sama pasar setiap Kota. Tujuan kami saat ke Jogja, ke Alun-alun lalu ke pasar. Saat menyalakan maps untuk ke arah alun-alun, rupanya kurang teliti.
Kami berhenti di alun-alun kidul. Banyak penjual menu sarapan, tetapi nampak biasa saja, belum ada yang menggugah selera. Entah karena kami kecapean di motor atau memang tidak dapat menu khas yang wah.
Setelah melipir ke toilet umum, kemudian motor kembali melaju dan kali ini maps mengarah ke pasar Ngasem. Dari alun-alun ke pasar, tidak begitu jauh hanya sekitar lima menit menggunakan kendaraan roda dua.
Alamat lengkap pasar Ngasem: Jl. Polowijan No.11, Patehan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55133. Setiba di depan gapura pasar Ngasem, kami tertegun. Pagi itu suasana pasar sangat krodit sekali. Pasar dipenuhi oleh para pembeli dan kebanyakan wisatawan nih.
Berbagai makanan legend antri sangat panjang. Membuat saya enggan untuk ikutan antri. Akhirnya, melepas lelah kami memutuskan membeli kue apem legendaris. Tentu tidak bebas dari kata antri. Setelah mengantri agak lama akhirnya kami membawa kue apem. Mencari tempat duduk lesehan lalu mencicip kue apem yang katanya legendaris.
Akan tetapi, saya dan teman sepakat kalau rasa apem nya biasa saja. Mohon maaf ini pendapat kami pribadi tentu tidak mewakili jutaan pembeli. Bagi kami rasanya biasa saja. Kami heran kenapa bisa selaris itu? “Mungkin emang selera kita aja yang nggak masuk.” Kalimat pamungkas, close case.
Selama di pasar Ngasem, kami menjelajah ke semua sudut. Melihat ada apa saja yang di jual. Setiap sudut ramai oleh pengunjung. Luar biasa padahal bukan weekend, baru hari Rabu lho.
Belanja Tas dan Berburu Batik di Pasar Beringharjo
Oh, iya. Dalam perjalanan kali ini, tas Selempang tempat menyimpan dompet, skincare, lip tint, charger, dan HP milikku putus talinya.
Mau tidak mau, saya harus beli tas baru. Supaya barang-barang bisa tertampung baik dan saya nyaman membawa tas nya.
Salah. Ya, kami salah masuk pasar, harusnya lewat area depan yang lebih dekat sama jalan Malioboro ini malah lewat area belakang. Setelah berkeliling cari tas yang pas, belum Nemu juga. Punggung dan kaki mulai pegal.
Untungnya, ketemu sama satu mbak penjual tas yang kebetulan tas nya oke serta harga masih cukup bersahabat, jadilah beli satu tas dan “mbak, kalau mau nitip tas boleh. Biar belanja nya leluasa” Ujar si mbak ramah. Awalnya kami tak enak hati, khawatir merepotkan. Namun, rasa berat dan lelah mengalahkan semua. Akhirnya kami titipkan tas dan berkeliling ke setiap sudut pasar.
Berhenti lama di area penjual kebaya. Teman akhirnya membeli kebaya dengan model kebaya janggan ala Jeng Yah film gadis kretek. Warna nya bagus dan modelnya cakep, bungkus. Setelahnya kami lama berdiam dan memilih baju batik. Mulai dari daster batik, pakaian batik anak hingga outer batik.
Di area inilah kami kalap, senang sekali melihat ada banyak batik berbahan bagus dan harganya bersahabat. Sempat beli es teh juga, untuk menghilangkan haus dahaga.
Setelah kami berhasil menemukan pilihan pakaian untuk oleh-oleh keluarga inti terlebih dahulu. Lanjutlah berkeliling sambil mencari tempat penitipan tas. Setelah ketemu, kami berterima kasih dan pamitan pada mbak baik hati.
Jogja kasih kesan baik sedari kami tiba. Apalagi bisa ketemu pedagang se-baik mbak nya, terharu sekali.
Jelajah Mallioboro & Berfoto Pakai Pakaian Adat
Setelah dari pasar Beringharjo. Kami putuskan buat melaju ke hotel. Tetapi masih ada satu jam setengah buat waktu check-in. Setiba di hotel kami tanya kalau check-in lebih awal bakalan kena biaya berapa. Ternyata seratus ribu rupiah, dasarlah kami perhitungan, kami bilang mau menunggu saja. Ternyata satu setengah jam di area lobby membosankan sekali. Jadinya kami early check-in juga, wkwkwk.
Badan butuh rebahan. Perjalanan dua jam lebih bukan jarak tempuh yang dekat, mengingat selama perjalanan banyak lancar jaya dan bebas macet. Bersih-bersih dan rebahan beberapa jam.
Jelajah Mallioboro & Berfoto Pakai Pakaian Adat
Setelahnya lanjut menjelajah ke mallioboro. Nah dari jelajah teras mallioboro dan belanja beberapa kaos, hingga gelang. Ternyata kami kepincut buat berfoto menggunakan pakaian adat.
Bersyukur, hari itu cuaca cerah dan kami memilih warna kebaya yang bagus. Biru Dongker, kain putih coklat dan selendang kuning. Tambah ciamik karena fotografer kami sangat profesional. Beliau pandai mengarahkan gaya, sat-set dalam memotret dan paham ambil angle.
Okelah, buat pertama kali berfoto di area Mallioboro, vendor yang satu ini cukup rekomen. Hanya ada biaya tambahan buat selendang saja. Lainnya sudah masuk ke paketan. Hasil fotonya bisa dibilang oke juga.
Hari pertama di Jogja, sudah memberikan kesan menyenangkan sekali. Kota yang bersahabat, banyak orang baik dan harga makanannya pengertian, ramah di kantong.
Tentu, perjalanan belum berakhir. Masih ada dua hari lagi di Jogja. Nanti akan saya ceritakan di artikel berikutnya ya. Terima kasih sudah berkenan mampir membaca dan memberikan komentar sobat kompasianer. Have a great day.



