Pada pertandingan putaran ketiga Piala FA antara Tottenham Hotspur dan Aston Villa, terjadi insiden yang menimbulkan perdebatan di akhir laga. Thomas Frank, pelatih Tottenham, menganggap Ollie Watkins sebagai pemicu keributan setelah kemenangan Villa dengan skor 2-1.
Tim tamu, yang diperkuat oleh Emiliano Buendía dan Donyell Malen, berhasil mencetak dua gol pada babak pertama, membuat Villa unggul 0-2. Tottenham kemudian memperkecil ketertinggalan melalui Wilson Odobert pada menit ke-54, sehingga skor menjadi 1-2. Meskipun berusaha keras untuk bangkit, Spurs tidak mampu menghindari kekalahan.
Di akhir pertandingan, Watkins merayakan kemenangan bersama para penggemar Villa. Namun, ia melakukan hal tersebut di dekat Joao Palhinha, yang kemudian memicu keributan antara kedua tim. Palhinha langsung menghadapi Ezri Konsa, yang membela Watkins, saat pemain meninggalkan lapangan. Insiden ini berujung pada adu mulut, namun beruntung tidak berkembang menjadi keributan yang lebih serius.
Beberapa bulan terakhir, Tottenham sering terlibat dalam insiden serupa di akhir pertandingan. Salah satu contohnya adalah adu mulut setelah kekalahan dari Bournemouth, yang menyebabkan Cristian Romero dihukum skors satu pertandingan.
Dalam konferensi pers setelah pertandingan, Frank mengungkapkan pendapatnya tentang insiden yang terjadi. Ia menuding Watkins sebagai sosok provokatif yang memicu kekacauan.
“Para pemain memberikan segalanya di lapangan, kalah dalam pertandingan ketat. Musim ini tidak berjalan sempurna, dan saya pikir Ollie (Watkins) sangat provokatif dengan cara dia merayakan kemenangan di depan para penggemar Villa (di dekat Joao Palhinha),” ujarnya.
Frank menambahkan, “Dia hanya berjalan ke arah Joao (Palhinha) dan dia bisa dengan mudah melewatinya. Setiap orang yang memiliki sifat kompetitif, itu sulit, dan itu bisa memicu sesuatu (kemarahan).” Pernyataan ini menunjukkan ketegangan yang ada di antara kedua tim setelah pertandingan.
Spurs mendapatkan sorakan negatif dari pendukung mereka saat jeda babak pertama, dan cemoohan yang lebih pelan menyambut peluit akhir yang menandakan kekalahan lainnya. Hal ini semakin meningkatkan tekanan pada pelatih mereka, yang kini tersingkir dari dua kompetisi piala domestik dan terpuruk di Liga Inggris.
Frank mengekspresikan kekecewaannya. “Tentu saja (kekalahan) ini mengecewakan. Kami semua merasa sakit hati. Tidak ada yang lebih kami inginkan selain lolos ke babak selanjutnya, siapa pun lawan kami. Kami bermain di kandang, kami memiliki peluang bagus.”
“Sayangnya kami tidak bisa lolos. Kami bermain dengan kekuatan penuh sesuai kemampuan kami. Kami semua melihat kembali pertandingan dan berpikir kami bisa bermain lebih baik di babak pertama, dan babak kedua, sangat bagus,” tutup Frank.



