Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 15 Juli 2026
Trending
  • BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Tekanan Pasar Masih Berlangsung, Pinnacle Pertahankan Fleksibilitas Portofolio
Ekonomi

Tekanan Pasar Masih Berlangsung, Pinnacle Pertahankan Fleksibilitas Portofolio

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover10 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kinerja Industri Reksadana di Tengah Tekanan Pasar

Industri reksadana di Indonesia terus menghadapi tekanan dari pasar keuangan domestik. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja berbagai jenis reksadana. Dalam situasi ini, manajer investasi memilih untuk memperkuat strategi defensif guna menjaga kualitas portofolio hingga kuartal III 2026.

Berdasarkan data Infovesta per Mei 2026, mayoritas jenis reksadana membukukan kinerja negatif. Reksadana saham menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 10,22% secara bulanan (month on month/MoM) dan turun 17,66% sejak awal tahun (year to date/YtD). Sementara itu, reksadana campuran melemah 5,13% MoM dan terkoreksi 0,62% YtD. Adapun reksadana pendapatan tetap masih mencatat kenaikan tipis 0,22% MoM, meski secara YtD turun 0,62%.

Di sisi lain, reksadana pasar uang masih membukukan kinerja positif sebesar 0,27% MoM dan tumbuh 1,60% YtD. Tekanan juga tercermin di pasar saham domestik, di mana IHSG terus melemah sepanjang pekan dan ditutup pada level 5.594 pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Persepsi CEO Pinnacle Investment

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, menilai bahwa pelemahan pasar saham dan obligasi saat ini lebih banyak dipicu oleh meningkatnya premi risiko (risk premium) yang diminta investor terhadap aset Indonesia. Menurut dia, selain dipengaruhi suku bunga global yang masih tinggi, investor juga mencermati konsistensi kebijakan pemerintah serta arah kebijakan fiskal ke depan.

“Pandangan kami saat ini cukup berbeda dari konsensus pasar. Ketika banyak pihak memperkirakan pasar akan menemukan bottom di kisaran 6.100, analitik kami justru mengindikasikan tekanan belum selesai,” ujar Guntur kepada Indonesiadiscover.com, Jumat (5/6).

Ia menambahkan, apabila kejelasan kebijakan dan disiplin fiskal belum menunjukkan perbaikan yang nyata, maka pasar saham domestik masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan. Bahkan, menurut perhitungannya, IHSG berpeluang bergerak di bawah level 5.800.

Strategi Defensif Pinnacle Investment

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Pinnacle Investment mengedepankan strategi defensif pada kuartal III 2026. Fokus investasi diarahkan pada saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat, arus kas yang solid, serta valuasi yang menarik. Selain itu, perusahaan memanfaatkan pendekatan kuantitatif untuk mengelola risiko secara disiplin dan menjaga fleksibilitas kas agar dapat memanfaatkan peluang ketika valuasi pasar menjadi lebih menarik.

Strategi tersebut tercermin pada kinerja Pinnacle Dana Prima yang masih mampu mencatatkan imbal hasil positif sebesar 0,05% sejak awal tahun. Namun secara bulanan, produk tersebut tetap terkoreksi sekitar 10% mengikuti tekanan pasar yang lebih luas.

Guntur mengungkapkan bahwa sebelumnya portofolio Pinnacle Dana Prima lebih banyak berfokus pada saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Namun, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya telah melakukan rebalancing portofolio secara signifikan untuk menyesuaikan kondisi pasar.

“Kinerja Pinnacle Dana Prima yang masih positif di tengah koreksi pasar mencerminkan pendekatan defensif yang kami terapkan sejak awal tahun,” kata Guntur.

Hingga akhir tahun, Pinnacle akan tetap berfokus pada saham-saham berkualitas tinggi yang memiliki momentum pertumbuhan, fundamental kuat, profitabilitas sehat, dan valuasi yang wajar. Sebaliknya, eksposur terhadap saham yang sangat bergantung pada ekspektasi pertumbuhan akan dikurangi.

Pandangan Terhadap Prospek Jangka Panjang

Menurut Guntur, dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, fokus utama perusahaan bukan mengejar target imbal hasil tertentu, melainkan menjaga kinerja yang kompetitif dan konsisten lebih baik dibandingkan benchmark. Ia memperkirakan pasar masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Investor saat ini masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi, sementara tekanan eksternal seperti suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah juga berpotensi menahan pergerakan pasar.

Meski demikian, Guntur tetap konstruktif terhadap prospek jangka panjang Indonesia. Ia menilai fundamental struktural ekonomi domestik masih kuat sehingga peluang rerating pasar akan kembali terbuka ketika kepercayaan investor pulih dan arah kebijakan menjadi lebih jelas.

Saran untuk Investor

Untuk investor, Guntur menyarankan tetap mengedepankan diversifikasi portofolio. Obligasi pemerintah dinilai masih layak menjadi fondasi investasi karena menawarkan imbal hasil yang menarik dengan risiko yang relatif terukur. Sementara untuk saham, investor disarankan lebih selektif dan fokus pada perusahaan yang memiliki fundamental kuat. Di samping itu, mempertahankan sebagian alokasi pada instrumen pasar uang dan kas juga penting guna menjaga fleksibilitas dan memanfaatkan peluang investasi yang muncul di tengah volatilitas pasar.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa

11 Juli 2026

BEI Evaluasi Aturan Papan Pemantauan Khusus

11 Juli 2026

Bursa Asia Tertekan Selasa (7/7) Akibat Kenaikan Laba Samsung dan Pelemahan Yen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka

14 Juli 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?