Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 20 September 2026
Trending
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
  • ShopeeVIP+ ‘Sekali langganan, dapat semua’, bisa dapat akses Netflix!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Tekanan Pasar Masih Berlangsung, Pinnacle Pertahankan Fleksibilitas Portofolio
Ekonomi

Tekanan Pasar Masih Berlangsung, Pinnacle Pertahankan Fleksibilitas Portofolio

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover10 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kinerja Industri Reksadana di Tengah Tekanan Pasar

Industri reksadana di Indonesia terus menghadapi tekanan dari pasar keuangan domestik. Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan meningkatnya ketidakpastian ekonomi menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja berbagai jenis reksadana. Dalam situasi ini, manajer investasi memilih untuk memperkuat strategi defensif guna menjaga kualitas portofolio hingga kuartal III 2026.

Berdasarkan data Infovesta per Mei 2026, mayoritas jenis reksadana membukukan kinerja negatif. Reksadana saham menjadi yang paling tertekan dengan koreksi 10,22% secara bulanan (month on month/MoM) dan turun 17,66% sejak awal tahun (year to date/YtD). Sementara itu, reksadana campuran melemah 5,13% MoM dan terkoreksi 0,62% YtD. Adapun reksadana pendapatan tetap masih mencatat kenaikan tipis 0,22% MoM, meski secara YtD turun 0,62%.

Di sisi lain, reksadana pasar uang masih membukukan kinerja positif sebesar 0,27% MoM dan tumbuh 1,60% YtD. Tekanan juga tercermin di pasar saham domestik, di mana IHSG terus melemah sepanjang pekan dan ditutup pada level 5.594 pada perdagangan Jumat (5/6/2026).

Persepsi CEO Pinnacle Investment

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra, menilai bahwa pelemahan pasar saham dan obligasi saat ini lebih banyak dipicu oleh meningkatnya premi risiko (risk premium) yang diminta investor terhadap aset Indonesia. Menurut dia, selain dipengaruhi suku bunga global yang masih tinggi, investor juga mencermati konsistensi kebijakan pemerintah serta arah kebijakan fiskal ke depan.

“Pandangan kami saat ini cukup berbeda dari konsensus pasar. Ketika banyak pihak memperkirakan pasar akan menemukan bottom di kisaran 6.100, analitik kami justru mengindikasikan tekanan belum selesai,” ujar Guntur kepada Indonesiadiscover.com, Jumat (5/6).

Ia menambahkan, apabila kejelasan kebijakan dan disiplin fiskal belum menunjukkan perbaikan yang nyata, maka pasar saham domestik masih berpotensi mengalami tekanan lanjutan. Bahkan, menurut perhitungannya, IHSG berpeluang bergerak di bawah level 5.800.

Strategi Defensif Pinnacle Investment

Untuk menghadapi kondisi tersebut, Pinnacle Investment mengedepankan strategi defensif pada kuartal III 2026. Fokus investasi diarahkan pada saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat, arus kas yang solid, serta valuasi yang menarik. Selain itu, perusahaan memanfaatkan pendekatan kuantitatif untuk mengelola risiko secara disiplin dan menjaga fleksibilitas kas agar dapat memanfaatkan peluang ketika valuasi pasar menjadi lebih menarik.

Strategi tersebut tercermin pada kinerja Pinnacle Dana Prima yang masih mampu mencatatkan imbal hasil positif sebesar 0,05% sejak awal tahun. Namun secara bulanan, produk tersebut tetap terkoreksi sekitar 10% mengikuti tekanan pasar yang lebih luas.

Guntur mengungkapkan bahwa sebelumnya portofolio Pinnacle Dana Prima lebih banyak berfokus pada saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah. Namun, dalam beberapa waktu terakhir pihaknya telah melakukan rebalancing portofolio secara signifikan untuk menyesuaikan kondisi pasar.

“Kinerja Pinnacle Dana Prima yang masih positif di tengah koreksi pasar mencerminkan pendekatan defensif yang kami terapkan sejak awal tahun,” kata Guntur.

Hingga akhir tahun, Pinnacle akan tetap berfokus pada saham-saham berkualitas tinggi yang memiliki momentum pertumbuhan, fundamental kuat, profitabilitas sehat, dan valuasi yang wajar. Sebaliknya, eksposur terhadap saham yang sangat bergantung pada ekspektasi pertumbuhan akan dikurangi.

Pandangan Terhadap Prospek Jangka Panjang

Menurut Guntur, dalam kondisi yang masih penuh ketidakpastian, fokus utama perusahaan bukan mengejar target imbal hasil tertentu, melainkan menjaga kinerja yang kompetitif dan konsisten lebih baik dibandingkan benchmark. Ia memperkirakan pasar masih akan bergerak fluktuatif dalam jangka pendek. Investor saat ini masih menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi, sementara tekanan eksternal seperti suku bunga tinggi dan pelemahan rupiah juga berpotensi menahan pergerakan pasar.

Meski demikian, Guntur tetap konstruktif terhadap prospek jangka panjang Indonesia. Ia menilai fundamental struktural ekonomi domestik masih kuat sehingga peluang rerating pasar akan kembali terbuka ketika kepercayaan investor pulih dan arah kebijakan menjadi lebih jelas.

Saran untuk Investor

Untuk investor, Guntur menyarankan tetap mengedepankan diversifikasi portofolio. Obligasi pemerintah dinilai masih layak menjadi fondasi investasi karena menawarkan imbal hasil yang menarik dengan risiko yang relatif terukur. Sementara untuk saham, investor disarankan lebih selektif dan fokus pada perusahaan yang memiliki fundamental kuat. Di samping itu, mempertahankan sebagian alokasi pada instrumen pasar uang dan kas juga penting guna menjaga fleksibilitas dan memanfaatkan peluang investasi yang muncul di tengah volatilitas pasar.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

31 Agustus 2026

Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

31 Agustus 2026

Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

30 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?