Penerbangan Jarak Jauh: Tantangan dan Persiapan yang Perlu Diketahui
Penerbangan jarak jauh biasanya memakan waktu sekitar enam jam, namun ada juga penerbangan yang mencapai 18 jam. Rute-rute ini menghubungkan kota-kota besar seperti Singapura dengan New York atau Auckland dengan Doha dalam satu perjalanan. Salah satu penerbangan terpanjang saat ini adalah dari Bandara Internasional John F. Kennedy di New York City ke Bandara Internasional Changi di Singapura, dengan durasi 18 jam 45 menit.
Struktur Awak dan Sistem Istirahat
Penerbangan jarak sangat jauh biasanya dioperasikan oleh dua bagian awak, termasuk dua Kapten dan dua Perwira Pertama. Mereka saling bergantian selama penerbangan untuk mendapatkan waktu istirahat yang cukup. Di sisi lain, pramugari dibagi menjadi dua hingga empat kelompok, tergantung pada ukuran pesawat dan jumlah tempat tidur kru yang tersedia.
Menurut Madeline Khwa, pramugari Singapore Airlines yang rutin bertugas dalam penerbangan jarak jauh, kru bekerja dalam shift yang telah direncanakan secara matang. “Kru dibagi ke dalam periode istirahat yang ditentukan di tempat tidur kru,” ujarnya. Hal ini penting agar setiap anggota kru tetap dapat memberikan layanan yang konsisten dan memenuhi standar keselamatan.
Tantangan yang Dihadapi Pramugari
Bekerja dalam penerbangan jarak jauh memiliki tantangan tersendiri. Selain harus beradaptasi dengan zona waktu yang berbeda, pramugari juga harus menghadapi kelelahan. Zona waktu yang berbeda hingga 12 hingga 15 jam bisa merusak pola tidur dan kesehatan secara keseluruhan. “Seiring waktu, kelelahan dapat menyebabkan hal-hal seperti kelelahan terus-menerus dan jerawat sesekali,” kata Khwa. Untuk mengatasi efek udara kabin yang kering, dia menggunakan masker wajah.
Selain itu, kelelahan juga bisa memengaruhi kinerja pramugari. Oleh karena itu, mereka harus menjaga keseimbangan antara tugas dan istirahat. Meski tidur di ketinggian 38 ribu kaki tidak mudah akibat turbulensi atau kebisingan kabin, mereka tetap berusaha mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
Dinamika Tim yang Unik
Penerbangan jarak jauh menciptakan dinamika tim yang unik. Persiapan dilakukan jauh sebelum lepas landas. Ketika memulai tugas, masing-masing kru sudah memiliki pemahaman bahwa mereka akan bekerja bersama selama 18 jam. Ini bukan hanya untuk efisiensi layanan, tetapi juga untuk menjaga moral dan energi. Momen-momen berbagi tawa atau bercengkerama di waktu senggang bisa meningkatkan energi dan semangat kerja.
Persiapan Sebelum Penerbangan
Khwa mengungkapkan beberapa persiapan yang dilakukan sebelum penerbangan. Salah satunya adalah menghabiskan waktu berkualitas dengan orang-orang tercinta. “Berbagi makanan rumahan yang sederhana dengan keluarga dapat membantu saya memulihkan emosi sebelum bepergian selama beberapa hari,” ujarnya.
Selain itu, persiapan praktis juga menjadi ritual untuk ketenangan pikirannya. Dia biasanya memeriksa ulang semua barang yang telah dikemas, mulai dari seragam tambahan, perawatan kulit, hingga vitamin. Hal ini membantu dirinya tetap siap dan tenang sebelum melakukan penerbangan.
Sementara itu, pramugari lainnya, Ashley Tan, menekankan pentingnya istirahat yang cukup sebelum bertugas. Idealnya, dia tidur selama tujuh hingga delapan jam. Selama jeda panjang di tengah penerbangan, dia berganti pakaian yang nyaman agar istirahat lebih santai. Ia juga menghindari kafein untuk mencegah kegelisahan dan potensi mual.
“Saya masih ingat penerbangan itu. Saya sangat gembira sampai tidak bisa tidur sebelum penerbangan,” kata Tan tentang pengalaman awalnya di rute tersebut. Pengalaman ini menjadi kenangan yang tak terlupakan dan membantu dirinya menghadapi tantangan-tantangan berikutnya.



