Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 8 Juli 2026
Trending
  • 3 Titik Akupresur untuk Redakan Gejala GERD
  • Mengundang Energi Negatif, 10 Kebiasaan Ini Tanpa Disadari Rusak Semangat dan Kepercayaan Diri
  • Uji Coba Tol Nirsentuh MLFF Dekat, BPJT Siapkan Berbagai Skenario
  • 4 Fakta Menarik Cyclura cornuta, Punya Cula Mirip Badak
  • Pemprov Sulteng Ungkap Keberhasilan Program BERANI, Mulai Kuliah Gratis hingga Pembangunan Jalan Desa
  • TransNusa tambah 1 rute internasional dari Jakarta dan 2 rute domestik dari Denpasar
  • Resmi Menikah! Taylor Swift dan Travis Kelce Pesta di Madison Square Garden!
  • Konsultasi Ombudsman: Langkah Kecil, Dampak Besar
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Tantangan AI Mengancam, Komisi VII DPR Minta Pemerintah Perbaiki Industri Film Nasional
Ragam

Tantangan AI Mengancam, Komisi VII DPR Minta Pemerintah Perbaiki Industri Film Nasional

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Februari 2026Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peran Panitia Kerja Industri Film dalam Membenahi Ekosistem Perfilman Nasional

Anggota Komisi VII DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Novita Hardini, menekankan bahwa Panitia Kerja (Panja) Industri Film harus menjadi alat yang serius dan konkret dalam memperbaiki ekosistem perfilman nasional. Upaya ini mencakup perlindungan hak cipta, penguatan pembiayaan, serta menjaga keberlanjutan industri film Indonesia.

“Tanpa keberpihakan nyata, kejayaan film Indonesia hanya akan menjadi nostalgia, bukan masa depan,” ujar Novita kepada wartawan.

Masalah Sistem Pengarsipan Film Nasional

Novita juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap sistem pengarsipan film nasional yang lemah. Hal ini berdampak pada hilangnya memori kolektif bangsa. Dari sekitar 4.400 film yang diproduksi sejak 1926 hingga 2025, sekitar 1.500 di antaranya dilaporkan hilang.

Menurut Novita, kondisi ini membuat generasi muda semakin jauh dari sejarah dan tokoh perfilman Indonesia.

“Ini merupakan kegagalan negara dalam menjaga warisan budaya,” tegasnya.

Tantangan dengan Kehadiran Teknologi Kecerdasan Buatan (AI)

Tantangan industri film kini semakin berat dengan kehadiran teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang berpotensi menggerus lapangan kerja para pekerja kreatif. Karena itu, Novita mendesak negara untuk segera melakukan intervensi melalui regulasi yang berpihak.

“AI jangan dipoles sebagai inovasi jika faktanya justru menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini,” ujarnya.

Ketergantungan pada Intellectual Property Asing

Selain itu, Novita mengkritik tingginya ketergantungan Indonesia terhadap intellectual property (IP) asing, sementara aset lokal belum mendapat perhatian yang memadai. Ia menilai dukungan anggaran pemerintah saat ini masih jauh dari ideal untuk mendorong film nasional menembus pasar global.

Perbandingan dengan Korea Selatan

Sebagai perbandingan, Novita menyinggung Korea Selatan yang memiliki skema modal ventura khusus untuk mendukung industri filmnya. Kondisi tersebut dinilai berbanding terbalik dengan Indonesia yang masih mengandalkan bantuan berskala kecil.

“Bantuan maksimal Rp 500 juta tidak akan menggerakkan industri film. Itu bahkan hanya cukup untuk tahap penulisan skenario. Kita membutuhkan venture capital khusus film, bukan kebijakan setengah hati,” pungkasnya.

Langkah-Langkah yang Diperlukan

Untuk menghadapi tantangan ini, Novita menyarankan beberapa langkah penting:

  • Peningkatan investasi pemerintah dalam bentuk pendanaan yang lebih besar dan berkelanjutan.
  • Pembentukan regulasi yang melindungi hak cipta dan kepentingan pekerja kreatif.
  • Pengembangan sistem pengarsipan film yang lebih baik dan modern.
  • Pemenuhan kebutuhan industri film dengan adanya dana ventura khusus.

Dengan langkah-langkah tersebut, diharapkan ekosistem perfilman Indonesia dapat berkembang secara sehat dan berkelanjutan, sehingga mampu bersaing di pasar global.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

3 Titik Akupresur untuk Redakan Gejala GERD

8 Juli 2026

4 Fakta Menarik Cyclura cornuta, Punya Cula Mirip Badak

8 Juli 2026

Resmi Menikah! Taylor Swift dan Travis Kelce Pesta di Madison Square Garden!

8 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

3 Titik Akupresur untuk Redakan Gejala GERD

8 Juli 2026

Mengundang Energi Negatif, 10 Kebiasaan Ini Tanpa Disadari Rusak Semangat dan Kepercayaan Diri

8 Juli 2026

Uji Coba Tol Nirsentuh MLFF Dekat, BPJT Siapkan Berbagai Skenario

8 Juli 2026

4 Fakta Menarik Cyclura cornuta, Punya Cula Mirip Badak

8 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?