PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) atau Surge belum memanfaatkan dana yang diperoleh dari penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue senilai Rp5,89 triliun. Dana tersebut telah mendapatkan izin efektif sejak akhir semester pertama tahun 2025, namun hingga saat ini belum sepenuhnya digunakan sesuai rencana awal.
Direktur Utama Surge, Yune Marketatmo, menyampaikan bahwa perusahaan berhasil meraih hasil bersih dari penawaran umum rights issue sebesar Rp5,89 triliun. Dana tersebut berasal dari HMETD I PT Solusi Sinergi Digital Tbk Tahun 2025 dengan penerbitan sebanyak 2.949.193.897 saham biasa dengan nominal Rp100 dan harga pelaksanaan sebesar Rp2.000 per saham.
Rencana penggunaan dana tersebut adalah untuk belanja modal sebesar Rp5,8 triliun dan modal kerja sebesar Rp96,8 miliar. Berdasarkan informasi yang dihimpun, seluruh dana rights issue akan dialokasikan oleh Surge untuk setoran modal ke entitas anaknya, yaitu PT Jaringan Infra Andalan (JIA). Selanjutnya, JIA akan melakukan setoran ke entitas anak lainnya, yaitu PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE).
Dana yang dialokasikan oleh IJE akan digunakan untuk pembangunan jaringan fiber to the home (FTTH) yang bertujuan untuk menjangkau 4 juta homepass di Pulau Jawa. Proyek ini dirancang sebagai langkah penetrasi pasar dengan menawarkan layanan internet murah dengan harga langganan sebesar Rp100.000 per bulan. Diharapkan, layanan ini menjadi sumber pendapatan utama bagi IJE. Target penyelesaian pembangunan jaringan ini adalah pada akhir tahun 2025.
Strategi jangka menengah IJE mencakup estimasi biaya sekitar Rp1,45 juta per homepass. Dengan demikian, total kebutuhan pendanaan diperkirakan mencapai kurang lebih Rp7,25 triliun. Namun, berdasarkan laporan penggunaan dana hasil penawaran umum per 31 Desember 2025, WIFI belum merealisasikan rencana penggunaan dana tersebut.
“Sisa dana penawaran umum sebesar Rp5,89 triliun,” ujar Yune dalam laporan kepada Bursa Efek Indonesia, dikutip pada Sabtu (17/1/2026).
Dana tersebut masih diparkirkan dalam 10 instrumen perbankan, baik dalam bentuk deposito maupun giro. Nilai terbesar dari dana yang diparkirkan adalah giro pada Bank DKI pada PT Jaringan Infra Andalan senilai Rp1,64 triliun. WIFI mendapatkan suku bunga sebesar 1,25% dari giro tersebut.
Selain itu, WIFI juga menempatkan dana jumbo hasil rights issue di giro pada Bank HIBANK pada PT Jaringan Infra Andalan senilai Rp1,5 triliun dengan suku bunga 0,5%.
Berikut rincian penempatan dana hasil rights issue Surge:
- Deposito pada Bank HIBANK pada PT Jaringan Infra Andalan sebesar Rp8 miliar
- Deposito pada Bank HIBANK pada PT Solusi Sinergi Digital Tbk sebesar Rp464,5 miliar
- Deposito pada Bank SHINHAN pada PT Jaringan Infra Andalan sebesar Rp500 miliar
- Giro pada Bank Bank pada PT Integrasi Jaringan Ekosistem sebesar Rp790 miliar
- Giro pada Bank BCA pada PT Solusi Sinergi Digital Tbk sebesar Rp39,57 miliar
- Giro pada Bank DKI pada PT Investasi Jaringan Nusantara sebesar Rp786,56 miliar
- Giro pada Bank DKI pada PT Jaringan Infra Andalan sebesar Rp1,64 triliun
- Giro pada Bank DKI pada PT Solusi Sinergi Digital Tbk sebesar Rp156,82 miliar
- Giro pada Bank HIBANK pada PT Jaringan Infra Andalan sebesar Rp1,5 triliun
- Giro pada Bank SHINHAN pada PT Solusi Sinergi Digital Tbk sebesar Rp5,38 miliar



