Vonis 15 Tahun Penjara untuk Ardo Arkindo atas Pembunuhan Istrinya
Ardo Arkindo (35), terdakwa penganiayaan terhadap istrinya hingga meninggal dunia, akhirnya dijatuhkan vonis 15 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Lubuk Linggau. Putusan ini dibacakan dalam sidang yang digelar pada Senin, 9 Februari 2026 lalu. Vonis ini sesuai dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Lubuk Linggau, Supriansyah, SH.
Ardo, yang tinggal di Jalan Simpang Maah Mainun Sehase, RT 10 Kelurahan Taba Pingin Kecamatan Lubuklinggau Selatan II, dijatuhkan vonis karena terbukti melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang berujung pada kematian istrinya, Reni Eka Sari (36). Korban dianiaya dengan cara disiram air keras dan ditusuk menggunakan pisau.
Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim Hendrik Tarigan, SH, dengan anggota Delima Mariaigo, SH dan Afif Jhanuarsyah Saleh, SH serta Panitera Pengganti (PP) EMI Huzaimah. Dalam putusannya, Majelis Hakim menyatakan bahwa Ardo Arkindo terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 44 Ayat (3) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga.
Beberapa hal yang memberatkan perbuatan terdakwa antara lain membuat korban meninggal dunia, tidak ada perdamaian, serta perbuatan terdakwa yang berbelit-belit dalam persidangan dan tidak mengakui kesalahannya. Namun, ada beberapa hal yang meringankan, seperti fakta bahwa terdakwa belum pernah dihukum sebelumnya.
Terdakwa melalui penasehat hukumnya menyampaikan pembelaan secara tertulis (Pledoi) setelah mendengar putusan tersebut.
Peristiwa Penganiayaan yang Mengakibatkan Kematian
Peristiwa penganiayaan terjadi pada hari Sabtu, tanggal 18 Maret 2025. Awalnya, tersangka menghubungi korban melalui media sosial WhatsApp dengan ajakan bertemu di depan masjid Kelurahan Siring Agung Kecamatan Lubuklinggau Selatan II.
Setelah komunikasi, korban menyetujui ajakan tersebut. Sekitar pukul 14.45 WIB, tersangka berangkat dari kosannya menuju lokasi yang telah dijanjikan. Sementara itu, korban bersama anak kandungnya berangkat dari rumah ibu korban sekitar pukul 15.00 WIB dan bertemu dengan tersangka. Mereka kemudian bertemu dengan anak mereka yang ikut serta.
Tersangka mengajak korban pergi ke sebuah gubuk di Jalan Irigasi I Kelurahan Siring Agung. Tujuan dari pertemuan ini adalah membicarakan perceraian antara tersangka dan korban. Tersangka ingin mengajak korban rujuk, tetapi korban menolak karena seringnya terjadi KDRT dari tersangka.
Kemudian, tersangka meminta anak korban untuk pergi dengan alasan ingin membujuk dan memeluk ibunya. Setelah anak korban pergi ke arah tepi jalan lintas, tersangka membawa botol kaca berisi air keras dan pisau di pinggangnya. Saat merayu korban untuk rujuk, korban masih menolak.
Tiba-tiba, tersangka mengambil air keras dan menyiram tubuh korban. Korban berteriak meminta pertolongan, dan tersangka langsung menikam korban dengan pisau. Anak korban yang sedang berada di tepi jalan lintas mendengar teriakan korban dan segera berlari untuk melihat ibunya.
Sementara itu, tersangka kabur, sementara korban tergeletak dengan darah dan air keras yang menetes di seluruh tubuhnya. Anak korban meminta bantuan warga sekitar, dan korban dibawa ke rumah sakit.
Setelah dilakukan pencarian, tersangka berhasil ditangkap. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa tersangka mengakui perbuatannya dan mengakui telah melakukan tindak pidana penganiayaan terhadap istrinya.



