Penambahan Tenaga Kerja di Pabrik Boeing untuk Memenuhi Permintaan Pesawat Global
Boeing, salah satu perusahaan pesawat terkemuka dunia, mengumumkan rencana penambahan tenaga kerja pabrik secara bertahap di wilayah Pasifik Barat Laut. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tingginya permintaan pesawat dari berbagai maskapai penerbangan di seluruh dunia seiring dengan pulihnya ekonomi global.
Rekrutmen ini menjadi penting bagi Boeing dalam menjaga kelancaran pasokan dan kualitas produksi di pabrik-pabrik utama mereka di Amerika Serikat (AS). Perusahaan fokus mencari pekerja teknis untuk menggantikan karyawan yang memasuki masa pensiun dan mengisi posisi di area produksi baru. Hal ini dilakukan agar Boeing tetap bisa memenuhi pesanan dan bersaing di industri pembuatan pesawat.
1. Boeing Rekrut Hingga 140 Pekerja Baru Tiap Minggu
Saat ini, Boeing merekrut sekitar 100 hingga 140 pekerja pabrik baru setiap minggunya. Angka ini merupakan tingkat perekrutan tertinggi sejak tahun 2024 untuk mencapai target produksi perusahaan.
Wakil Presiden International Association of Machinists and Aerospace Workers (IAM) bidang pelatihan, Jon Holden, menyebutkan bahwa jumlah pekerja serikat di Pasifik Barat Laut kini lebih dari 34 ribu orang dan akan terus bertambah untuk mendukung pembuatan pesawat baru.
“Peningkatan jumlah pekerja ini cukup bagus dan bisa terus berjalan, asalkan kondisi ekonomi tetap stabil dan maskapai tidak membatalkan pesanan pesawat mereka,” kata Jon Holden.
Penambahan pekerja ini juga bertujuan agar karyawan senior bisa mengajarkan keahlian mereka kepada pekerja baru. Selain itu, bertambahnya anggota serikat IAM menunjukkan kerja sama yang lebih baik antara perusahaan dan pekerja setelah pemogokan kerja pada 2024 lalu. Kini, keduanya bekerja sama untuk mempercepat produksi pesawat lorong tunggal (narrowbody) yang sedang banyak dipesan pasar.
2. Pekerja Baru Difokuskan pada Lini Produksi North Line untuk 737 MAX
Alasan utama rekrutmen ini adalah untuk mengisi area produksi keempat di Seattle yang disebut ‘North Line’. Fasilitas ini khusus memproduksi pesawat 737 MAX yang saat ini sangat diminati oleh maskapai karena tingkat efisiensi bahan bakarnya. Selain itu, para pekerja baru juga akan membantu perakitan pesawat berbadan lebar 777X yang sedang menunggu izin terbang akhir, serta mendukung proses pembuatan 26 satelit pada tahun 2026.
“Pekerja baru ini tidak hanya merakit pesawat di North Line, tetapi juga mengurus pemindahan suku cadang, logistik, penyimpanan barang, peralatan, hingga transportasi,” kata Jon Holden.
Perluasan lini produksi pesawat 737 MAX ke pabrik Everett menjadi langkah operasional baru bagi Boeing. Perusahaan kini menggunakan alat bantu baru untuk memindahkan komponen pesawat agar kerja karyawan lebih efisien dan aman. Investasi ini diharapkan dapat menjaga daya saing Boeing terhadap Airbus, terlebih setelah mereka mengirimkan 143 pesawat komersial di awal tahun 2026, yang berarti naik 10 persen dari tahun sebelumnya.

3. Industri Dirgantara Pulih Namun Masih Kekurangan Pekerja Terampil
Industri pembuatan pesawat di wilayah Washington menunjukkan tren pemulihan. Pada bulan Februari, jumlah lapangan kerja di sektor ini naik menjadi 81.800 posisi. Pertumbuhan ini didorong oleh banyaknya permintaan pesawat komersial baru dan naiknya anggaran militer berbagai negara.
Namun, masalah yang dihadapi saat ini adalah kurangnya pekerja dengan keterampilan khusus dan lisensi resmi. Karena hanya sekitar 75 persen mekanik berlisensi FAA yang lulus dari sekolah kejuruan, Boeing memperluas program pelatihan internal untuk mengajari pekerja cara memperbaiki material pesawat.
Kondisi pasar yang kompetitif ini juga membuat perusahaan pembuat komponen seperti Honeywell Aerospace harus merekrut lebih dari 1.200 pekerja baru di bidang teknik dan manufaktur pada tahun ini. Mengingat tingginya angka pengiriman pesawat di akhir tahun 2025, Boeing terus berusaha mengatasi masalah kurangnya tenaga kerja terlatih. Langkah ini sangat penting untuk menyelesaikan daftar tunggu pesanan pesawat yang nilainya diperkirakan mencapai 682 miliar dolar AS (Rp11,68 kuadriliun). Fokus Boeing dalam melatih pekerjanya diharapkan bisa menghindari hambatan produksi ke depannya.




