Perseteruan antara mantan pasangan selebritas kembali mencuat ke permukaan publik dan kini berlanjut ke ranah hukum. Sarwendah dengan tegas membantah berbagai tudingan miring yang menyebutkan bahwa video video call yang melibatkan Ruben Onsu bersama seorang pria merupakan hasil rekayasa teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Ia memastikan bahwa rekaman tersebut adalah video asli dan sama sekali tidak mengalami manipulasi konten, melainkan hanya pemotongan durasi agar lebih ringkas untuk disaksikan.
Isu mengenai keaslian video ini mendadak menjadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial setelah Sarwendah memutuskan untuk mempublikasikan potongan rekaman tersebut. Banyak warganet yang langsung melontarkan keraguan dan menuduh bahwa visual yang ditampilkan hanyalah produk rekayasa digital yang sengaja dibuat untuk mencemarkan nama baik seseorang. Menanggapi gelombang spekulasi liar tersebut, ibu dua anak ini tidak tinggal diam dan memberikan pembelaan melalui akun media sosial pribadinya.
Klarifikasi Tegas Terkait Keaslian Video
Melalui fitur Instagram Story di akun pribadinya pada hari Senin, Sarwendah memberikan penjelasan secara terbuka kepada publik guna meredam fitnah yang beredar. Ia mengakui bahwa video tersebut memang melalui proses penyuntingan, namun penyesuaian tersebut sebatas memangkas durasi aslinya yang mencapai 27 menit menjadi hanya beberapa menit saja. Langkah ini diambil semata-mata untuk melengkapi narasi dan penjelasan dari fakta-fakta yang ia ungkapkan sebelumnya. 
- Penyuntingan video hanya berfokus pada pemotongan durasi total rekaman dari yang semula berdurasi 27 menit menjadi beberapa menit saja.
- Isi substansi dan kejadian yang terekam di dalam video dipastikan murni apa adanya tanpa ada rekayasa digital atau manipulasi AI.
- Sarwendah bahkan menantang pihak-pihak yang masih meragukan keaslian materi tersebut untuk menempuh jalur hukum agar dapat dibuktikan melalui uji forensik digital yang sah secara hukum.
Keputusan untuk mengunggah potongan video tersebut diakuinya lahir dari rasa lelah setelah berbulan-bulan harus menghadapi berbagai tudingan dan opini negatif yang terus-menerus disudutkan kepadanya. Sebagai bentuk transparansi, ia juga menantang pihak Ruben Onsu untuk membuka rekaman kamera pengawas atau CCTV di kediaman mereka secara utuh berikut dengan rekam suara aslinya. Dengan demikian, masyarakat dapat menilai situasi yang sebenarnya secara objektif tanpa harus termakan oleh penggiringan opini yang menyesatkan.
Polemik Tuduhan Pembayaran Buzzer dan Rekaman CCTV
Sebelum polemik video ini memuncak, hubungan keduanya sudah diwarnai ketegangan akibat unggahan rekaman CCTV dari pihak Ruben Onsu. Dalam rekaman tersebut, terlihat asisten rumah tangga Sarwendah yang bernama Manda sedang menyerahkan sejumlah uang kepada seseorang. Unggahan itu disertai dengan narasi yang mengarah pada dugaan bahwa Sarwendah sengaja menyewa jasa buzzer untuk menjatuhkan reputasi mantan suaminya.
Menanggapi tuduhan tersebut, Sarwendah memberikan penjelasan kronologis yang sebenarnya. Uang yang tampak diserahkan dalam rekaman CCTV tersebut sama sekali tidak berkaitan dengan pembayaran buzzer, melainkan murni uang pengganti biaya transportasi. Peristiwa itu berawal ketika Sarwendah mendapatkan undangan dari seseorang bernama Ibu Z untuk melakukan pertemuan dengan seorang pengacara berinisial J dan seorang konten kreator bernama Artos.
Dalam pertemuan tersebut, Artos menunjukkan sebuah rekaman video call antara kekasihnya dan Ruben Onsu, serta menyatakan kesediaannya untuk menjadi saksi. Meskipun pada akhirnya tim hukum Sarwendah memutuskan untuk tidak menggunakan bukti dari Artos dalam proses persidangan, pihak Sarwendah tetap memiliki itikad baik untuk memberikan penggantian ongkos perjalanan karena Artos telah datang dari tempat yang jauh demi menemuinya. Sarwendah bahkan menyebutkan bahwa Artos sebenarnya tidak meminta maupun berniat menerima uang tersebut, namun ia dan tim tetap bersikeras memberikannya sebagai bentuk apresiasi atas usaha perjalanan yang telah dilakukan.
Meskipun Jaenudin menyadari sepenuhnya bahwa melaporkan suatu permasalahan ke pihak berwajib merupakan hak konstitusional serta jalur hukum yang sah bagi Ruben, ia tetap memberikan imbauan yang bersifat persuasif. Jaenudin menyarankan agar kemelut yang sedang terjadi ini sebaiknya dapat diselesaikan melalui jalur kekeluargaan, mengingat adanya ikatan masa lalu yang cukup dalam di antara keduanya, di mana mereka telah dikaruniai seorang buah hati bersama yang tentunya membutuhkan perhatian serta ketenangan mental dari kedua belah pihak yang bersangkutan.
Pendekatan secara kekeluargaan ini dinilai jauh lebih bijaksana guna menghindari dampak psikologis jangka panjang, terutama bagi tumbuh kembang anak yang tidak seharusnya ikut menanggung beban dari perselisihan yang melibatkan orang tua mereka.

Sebagai tambahan informasi penting dalam menyikapi dinamika permasalahan hukum dan sosial di era digital saat ini, masyarakat diimbau untuk selalu bijak dalam memilah setiap informasi yang beredar di berbagai platform media sosial. Keterbukaan informasi sering kali memicu berbagai spekulasi publik yang belum tentu kebenarannya, sehingga kedewasaan dalam merespons suatu isu menjadi kunci utama untuk meredam ketegangan di ruang publik.
- Menjaga komunikasi yang baik demi kepentingan anak di masa depan.
- Mengutamakan musyawarah mufakat sebelum memutuskan untuk menempuh jalur hukum formal yang panjang.
- Menghindari provokasi dari pihak ketiga yang dapat memperkeruh suasana hubungan antar-individu.
Penyelesaian konflik secara damai tidak hanya akan meringankan beban hukum yang sedang berjalan, tetapi juga memulihkan nama baik serta memberikan contoh teladan yang baik pula bagi generasi penerus di dalam keluarga tersebut.


