Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Jumat, 14 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Rupiah dan IHSG Melemah, Ini Strategi Investasi yang Disarankan Ekonom
Ekonomi

Rupiah dan IHSG Melemah, Ini Strategi Investasi yang Disarankan Ekonom

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover6 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kondisi Pasar Keuangan Indonesia yang Mengalami Tekanan

Nilai tukar rupiah dan pasar saham Indonesia mengalami pelemahan dalam sepekan terakhir. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi serta memburuknya sentimen investor terhadap aset domestik.

Berdasarkan data dari Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah sebesar 0,86% dalam sepekan hingga mencapai level Rp 18.036 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga mengalami penurunan dan ditutup di level 5.594 pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026).

Strategi Investasi untuk Berbagai Profil Risiko

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa kondisi ini mengharuskan investor untuk lebih selektif dalam menyusun strategi investasi sesuai dengan profil risiko masing-masing.

Menurut Yusuf, alokasi portofolio perlu mempertimbangkan tujuan investasi, jangka waktu, serta tingkat toleransi risiko agar tetap mampu menghadapi volatilitas pasar yang tinggi.

Strategi untuk Investor Konservatif

Investor dengan profil risiko konservatif sebaiknya memprioritaskan perlindungan nilai modal dan menjaga likuiditas. Fokus utama mereka adalah menjaga nilai modal dan likuiditas. Karena itu, mayoritas portofolio dapat ditempatkan pada instrumen pasar uang dan obligasi negara tenor pendek, dengan porsi terbatas pada emas dan saham defensif.

Komposisi portofolio yang sesuai bagi investor konservatif adalah sekitar 40% pada reksa dana pasar uang dan 30% pada obligasi negara tenor pendek. Sementara itu, sisa dana dapat dialokasikan masing-masing sebesar 15% ke emas dan saham defensif.

Emas memiliki fungsi sebagai instrumen lindung nilai terhadap pelemahan rupiah maupun ketidakpastian global. Adapun saham defensif, seperti sektor konsumsi dan utilitas, dinilai memiliki arus kas yang lebih stabil dibandingkan sektor-sektor siklikal.

Portofolio Seimbang untuk Investor Moderat

Bagi investor dengan profil risiko moderat, Yusuf menyarankan komposisi yang lebih seimbang antara instrumen pendapatan tetap dan saham. Alokasi sekitar 55% pada reksa dana pendapatan tetap dan 45% pada saham masih relevan dalam kondisi pasar saat ini.

Meski demikian, Yusuf mengingatkan bahwa pembelian saham sebaiknya dilakukan secara bertahap mengingat tekanan terhadap sentimen pasar belum sepenuhnya mereda. Jika ingin mempertahankan cadangan likuiditas, komposisinya dapat disesuaikan menjadi sekitar 50% pendapatan tetap, 40% saham, dan 10% pada instrumen cadangan seperti kas atau emas.

Investor Agresif Bisa Manfaatkan Koreksi Pasar

Sementara itu, investor dengan profil risiko agresif justru dapat memanfaatkan kondisi koreksi pasar sebagai peluang untuk melakukan akumulasi aset. Yusuf menilai valuasi saham Indonesia saat ini telah jauh lebih murah dibandingkan beberapa tahun terakhir sehingga menawarkan potensi investasi yang menarik.

Dalam skenario tersebut, ia menyarankan sekitar 60% portofolio ditempatkan pada saham, 20% pada obligasi atau instrumen pendapatan tetap, sedangkan masing-masing 10% dialokasikan ke emas dan instrumen likuid. Cadangan likuiditas ini penting sebagai amunisi untuk memanfaatkan peluang apabila pasar kembali mengalami koreksi.

Strategi Masuk Bertahap Tetap Relevan

Terlepas dari perbedaan komposisi aset pada setiap profil risiko, Yusuf menekankan bahwa strategi masuk pasar secara bertahap atau gradual investing tetap menjadi pendekatan yang relevan dalam situasi saat ini.

Kondisi pasar belum sepenuhnya kondusif karena tekanan utama masih berasal dari ketidakpastian kebijakan dan belum pulihnya persepsi investor terhadap pasar Indonesia. Ketika ditanya apakah saat ini lebih baik mengakumulasi aset atau menjaga likuiditas, jawabannya adalah keduanya harus berjalan bersamaan.

Valuasi pasar memang sudah jauh lebih menarik setelah koreksi yang cukup dalam sehingga mulai terlihat sebagai periode akumulasi. Namun proses masuk ke pasar sebaiknya tetap dilakukan secara bertahap. Investor perlu tetap menjaga cadangan likuiditas agar memiliki fleksibilitas ketika volatilitas meningkat maupun saat muncul peluang membeli aset dengan harga yang lebih rendah.

Lima Indikator yang Perlu Dipantau Investor

Lebih lanjut, Yusuf mengidentifikasi lima indikator utama yang perlu menjadi perhatian investor dalam beberapa bulan ke depan:

  • Keputusan lembaga pemeringkat internasional serta potensi langkah lanjutan dari lembaga lain setelah keputusan Moody’s.
  • Arah aliran dana asing di pasar saham dan obligasi Indonesia.
  • Perkembangan yield Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun yang mencerminkan premi risiko Indonesia.
  • Pergerakan indeks dolar Amerika Serikat dan harga minyak dunia sebagai faktor eksternal utama.
  • Konsistensi kebijakan fiskal pemerintah yang menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian nasional.

Stabilitas rupiah dalam jangka panjang pada akhirnya sangat bergantung pada keyakinan pasar terhadap pengelolaan fiskal yang kredibel.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa

11 Juli 2026

BEI Evaluasi Aturan Papan Pemantauan Khusus

11 Juli 2026

Bursa Asia Tertekan Selasa (7/7) Akibat Kenaikan Laba Samsung dan Pelemahan Yen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?