Pedro Acosta dan Kemungkinan Pindah ke Ducati
Rumor mengenai kemungkinan pindahnya Pedro Acosta ke tim Ducati semakin kencang. Bintang KTM ini mulai sering dikaitkan dengan pabrikan Italia, bahkan ada yang sudah membayangkan dirinya sebagai penerus Francesco Bagnaia jika situasi berubah.
Menurut Jorge Lorenzo, mantan juara dunia MotoGP tiga kali, skenario ini bukan lagi hal yang tidak mungkin. Marc Marquez telah memilih untuk tetap bertahan di Ducati, dan statusnya sekarang tak terbantahkan. Perpanjangan kontraknya akan menghabiskan sebagian besar anggaran Borgo Panigale, namun tak ada yang meragukan bahwa ia merupakan prioritas utama bagi tim.
Sebaliknya, posisi Francesco Bagnaia terlihat lebih rentan. Musim 2025 yang ia jalani ditandai dengan penurunan performa yang tidak terduga serta ketegangan internal, yang meninggalkan bekas. Meski Ducati belum secara terbuka menutup pintu, sinyal-sinyal dalam beberapa bulan terakhir tidak lagi memancarkan kepastian mutlak.
Dalam konteks ini, Pedro Acosta muncul sebagai alternatif ideal: muda, agresif, ambisius, dan sudah dianggap sebagai calon juara dunia oleh Davide Tardozzi sendiri. Ducati saat ini tetap menjadi tawaran paling menarik di grid, baik secara teknis maupun simbolis.
Pandangan Jorge Lorenzo
Dalam acara The Width, Lorenzo ditanya mengenai rumor tersebut. Mantan juara dunia tiga kali itu tidak menepis kemungkinan tersebut. Ia pernah diwakili oleh Albert Valera, yang kini menjadi manajer Acosta, sehingga ia mengenal dengan baik para tokoh kunci dalam kisah ini. Ia juga memantau situasi dengan saksama, mengingat kedekatannya dengan KTM melalui perannya bersama Maverick Vinales.
Lorenzo melontarkan pernyataan yang mengundang tafsir:
“Pedro sangat cerdas, manajernya Albert Valera sangat cerdas, dan Dall’Igna juga sangat cerdas. Jalan mereka bisa saja suatu hari bertemu.”
“Ducati adalah motor paling komplet dalam sejarah, dan Pedro Acosta memiliki dahaga kemenangan yang luar biasa.”
Sulit untuk berbicara lebih jelas tanpa membuat pernyataan resmi. Lorenzo juga menegaskan realitas olahraga saat ini:
“Ini adalah motor paling komplet dalam lima tahun terakhir, itu tak terbantahkan.”
Tentang Acosta, ia menambahkan:
“Ia memiliki dahaga kemenangan yang luar biasa.”
Potensi dan Ambisi Acosta
Meskipun Acosta belum memenangi satu pun balapan MotoGP setelah dua musim penuh, sepuluh podium yang ia raih menunjukkan potensi besarnya belum pudar. Bahkan, pada Maret lalu ia mengakui ingin “mencoba” Ducati, setidaknya untuk membandingkan pengalamannya dengan apa yang ia rasakan di KTM.
Manajernya, Albert Valera, juga tak pernah menunjukkan keterikatan mutlak dengan pabrikan Austria itu ketika membahas masa depan menuju 2027. Bahkan, ada bisikan yang menyebut kesepakatan dengan Ducati sudah ada, hipotesis yang masih terlalu dini, namun mencerminkan iklim yang sedang berkembang.
Strategi dan Kesiapan
Skenario pun semakin berkembang, Acosta bergabung dengan VR46 melalui kontrak satu tahun, sebelum promosi ke tim pabrikan pada 2028. Strategi yang sudah pernah terjadi sebelumnya, sebagai cara menyiapkan era pasca-Bagnaia tanpa melompati tahapan.
Valera dikabarkan lebih menginginkan motor tim pabrikan. Acosta sendiri sudah berulang kali menegaskan bahwa prioritasnya adalah kemenangan. Dan saat ini, meski ada ketidakpastian terkait regulasi 2027, Ducati Desmosedici tetap menjadi tolok ukur teknis di MotoGP.
Meski keseimbangan bisa berubah, motor ini masih menjadi yang harus dikalahkan. Pertanyaan sesungguhnya kini bukan lagi apakah Ducati tertarik pada Acosta, atau apakah Acosta tertarik pada Ducati. Pertanyaannya adalah kapan jalan mereka akan bertemu.
Dan jika kita percaya pada Jorge Lorenzo, momen itu bisa datang lebih cepat dari yang diperkirakan.



