Ringkasan Berita:
- Radja Nainggolan menyesal tak pernah membela Timnas Indonesia. Ia mengaku bisa saja berkarier selama 15 tahun bersama Garuda jika mengambil keputusan berbeda.
- Pengalamannya bersama Bhayangkara FC pada 2023–2024 mengubah pandangannya. Ia terkesan dengan keramahan masyarakat, kuliner, dan antusiasme suporter Indonesia.
- Nainggolan mengaku kini merindukan Indonesia dan ingin kembali berkunjung. Di usia 38 tahun, ia melihat peluang yang dahulu tak pernah dipertimbangkan.
Indonesiadiscover.com– Radja Nainggolan kembali mengungkapkan penyesalannya karena tidak pernah membela Timnas Indonesia sepanjag karier profesionalnya sebagai pesepak bola.
Mantan gelandang AS Roma dan Inter Milan tersebut mengakui bahwa dirinya kini memandang sepak bola Indonesia dengan cara berbeda setelah merasakan langsung kehidupan di Tanah Air ketika memperkuat Bhayangkara FC pada 2023-2024.
Dalam wawancara bersama media Belgia, Nieuwsblad, Nainggolan mengungkapkan bahwa ketika masih aktif membela Timnas Belgia, dirinya tidak pernah benar-benar mempertimbangkan Indonesia sebagai pilihan untuk berkarier di level internasional.
Saat itu, Indonesia masih menjadi negara yang asing baginya.
Hubungan dengan sang ayah yang telah meninggalkan keluarga sejak Nainggolan masih kecil turut membuatnya tidak terlalu mengenal akar keluarganya di Indonesia.
Namun, sejumlah kunjungan ke Indonesia mengubah pandangannya. Ia mulai mengenal budaya, masyarakat, dan besarnya antusiasme suporter sepak bola di Tanah Air.
Kini, setelah melihat langsung perkembangan sepak bola Indonesia, Nainggolan merasa dirinya mungkin telah melewatkan kesempatan besar.
“Saya bisa saja memiliki karier selama 15 tahun sebagai pemain internasional Indonesia,” ujar Nainggolan.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan bahwa keputusan yang diambilnya pada masa lalu kini terlihat berbeda setelah ia mengenal Indonesia lebih dekat.

Indonesia Pernah Menjadi Negara Asing bagi Nainggolan
Nainggolan mengawali karier internasionalnya bersama Timnas Belgia pada 2009. Pada periode tersebut, ia mengaku belum memiliki kedekatan dengan Indonesia, negara asal sang ayah, Marianus.
Ia tumbuh di Linkeroever, Belgia, dan tidak banyak mengenal budaya Indonesia karena sang ayah meninggalkan keluarga ketika dirinya masih berusia sekitar lima tahun.
“Saya tidak mungkin ragu tentang tim nasional karena saya tidak mengenal negara itu. Saya tumbuh di Linkeroever di antara orang Afrika dan Maghreb. Budaya Indonesia tidak saya kenal,” kata Nainggolan.
Ia baru mengunjungi Indonesia pada 2013 setelah mendapat undangan untuk menjalani tur selama dua pekan.
Dalam kunjungan tersebut, Nainggolan berkesempatan mengunjungi sejumlah pulau, melatih anak-anak, dan mengikuti berbagai kegiatan.
Pengalaman itu mulai menumbuhkan ketertarikannya terhadap Indonesia.
Namun, pada saat bersamaan, kariernya bersama Timnas Belgia sudah berjalan sehingga ia tidak mempertimbangkan untuk berpindah membela negara lain.
Nainggolan juga mengenang betapa besar perhatian masyarakat Indonesia terhadap dirinya karena nama keluarganya memiliki akar di Sumatera Utara.
Kunjungan tersebut kemudian diikuti perjalanan bersama AS Roma yang semakin memperluas pengalamannya di Indonesia.
Bhayangkara FC Mengubah Pandangan Nainggolan
Ketertarikan Nainggolan terhadap sepak bola Indonesia semakin besar pada 2023, setelah ia menyelesaikan masa bermainnya bersama SPAL di Italia.
Saat itu, ia mengaku sempat berencana berhenti bermain sepak bola. Namun, kesempatan baru datang setelah dirinya diundang ke Indonesia untuk menjadi duta Piala Dunia U17.
Undangan tersebut membuatnya kembali menghabiskan waktu di Indonesia selama sekitar dua pekan. Pengalaman itu kemudian membuka jalan bagi kepindahannya ke Bhayangkara FC.
Nainggolan menerima tawaran untuk bermain di Indonesia selama sekitar enam bulan. Ia mengaku menikmati kesempatan tersebut, termasuk pengalaman tinggal di Jakarta dan mengenal kehidupan masyarakat setempat.
“Saya menghabiskan dua minggu yang luar biasa di sana. Setelah itu, saya tidak tahu harus berbuat apa. Sampai saya mendapat telepon yang menanyakan apakah saya ingin bermain di sana. Saya melakukannya dengan senang hati,” ujarnya.
Nainggolan awalnya berharap bermain di Jakarta atau Bali. Ia kemudian bergabung dengan Bhayangkara FC dan merasakan secara langsung atmosfer sepak bola Indonesia.
Dalam wawancara tersebut, ia juga menyebut menerima bayaran sekitar 400.000 euro untuk enam bulan bermain di Indonesia.
Namun, bagi Nainggolan, pengalaman tersebut bukan semata-mata soal finansial. Ia mengaku sangat menikmati kehidupan sehari-hari di Indonesia, mulai dari makanan, cuaca, hingga interaksi dengan masyarakat.
Ia bahkan menceritakan pengalaman merasakan gempa bumi.
Pengalaman tersebut semakin memperlihatkan bahwa kehidupannya di Indonesia meninggalkan kesan mendalam.
Kagum dengan Suporter dan Kehidupan Masyarakat Indonesia
Salah satu hal yang paling membekas bagi Nainggolan adalah keramahan masyarakat Indonesia dan besarnya antusiasme terhadap sepak bola.
Ia menilai masyarakat dari berbagai latar belakang ekonomi dapat berinteraksi dengan santai dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman itu memberikan kesan berbeda dibandingkan dengan kehidupan yang ia kenal di Belgia.
Nainggolan juga mengaku menikmati kuliner lokal, termasuk makanan yang dijual di warung-warung sederhana.
“Saya dibayar terlalu banyak untuk biaya hidup di sana. Di sana, Anda hanya perlu membayar dua euro untuk sepiring besar nasi goreng,” kata Nainggolan.
Selain kehidupan sosial, ia terkesan dengan besarnya perhatian masyarakat terhadap sepak bola nasional.
Ia menyinggung antusiasme suporter ketika Timnas Indonesia menghadapi negara-negara seperti Vietnam dan Irak. Menurutnya, dukungan besar tersebut menjadi salah satu daya tarik yang membuat sepak bola Indonesia terasa istimewa.
Nainggolan Kini Menyesali Pilihan Masa Lalunya
Nainggolan pernah menjalani karier internasional bersama Belgia dan tampil di sejumlah pertandingan penting.
Namun, ia mengakui bahwa setelah mengenal Indonesia lebih dekat, dirinya mulai melihat peluang yang dahulu tidak pernah dipertimbangkan.
Menurutnya, jika mengambil keputusan berbeda pada masa lalu, ia mungkin bisa menjalani karier internasional yang panjang bersama Timnas Indonesia.
“Uang juga bertebaran di sana. Para pemain bahkan disponsori oleh Louis Vuitton, Hublot, Rolex,” ujarnya ketika membandingkan daya tarik sepak bola Indonesia dengan pengalamannya di Eropa.
Nainggolan juga menilai popularitas pemain di Indonesia dapat memberikan keuntungan untuk membangun karier setelah gantung sepatu.
“Saat itu, saya tidak memikirkan hal tersebut. Namun, sekarang saya berusia 38 tahun dan melihat berbagai hal secara berbeda,” katanya.
Ia turut menyinggung akhir perjalanan internasionalnya bersama Belgia di bawah pelatih Roberto Martinez.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu hal yang membuatnya memikirkan kembali pilihan karier yang pernah diambil.
Kini, Nainggolan mengaku merindukan Indonesia dan berharap dapat kembali berkunjung pada musim panas mendatang.
Ia bahkan ingin menunjukkan kepada pasangannya bagaimana kehidupan di Tanah Air yang begitu ia nikmati.
Penyesalan tersebut tidak mengubah catatan karier internasionalnya bersama Belgia.
Namun, pengakuannya menunjukkan bahwa pengalaman bermain di Indonesia telah mengubah cara pandangnya terhadap negara yang dahulu terasa asing baginya.
Bagi Nainggolan, Indonesia kini bukan sekadar tanah asal ayahnya, melainkan tempat yang meninggalkan kenangan, pengalaman, dan kemungkinan karier yang baru ia sadari setelah semuanya berlalu.
(Indonesiadiscover.com/Ali)



