Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 6 Juni 2026
Trending
  • Hyundai Palisade Hybrid Signature 2026: Harga Terbaru Disewa
  • Hasil Moto3 Italia 2026: Veda Ega Pratama Urutan 8, Hakim Danish Naik Podium 3 di Mugello
  • Kolaborasi STTS, GDGoC, dan Google Developer Experts Ciptakan Aplikasi AI Tanpa Kode
  • Selain ke Luar Negeri, Ini Deretan Program yang Pakai Uang Prabowo
  • Tidak Semua Siswa Punya Ponsel, SDN 38 Hulontalangi Gelar Ujian Kertas
  • Proyeksi emiten CPO setelah aturan ekspor satu pintu DSI berlaku 1 Juni 2026
  • Penganiayaan KDRT hanya dihukum 4 bulan, korban disiksa oleh polisi palsu
  • Dadan Hindayana, dari Ahli Serangga ke Kepala BGN, Kini Dipecat Prabowo Usai Evaluasi MBG
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Proyeksi emiten CPO setelah aturan ekspor satu pintu DSI berlaku 1 Juni 2026
Ekonomi

Proyeksi emiten CPO setelah aturan ekspor satu pintu DSI berlaku 1 Juni 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover6 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kebijakan Ekspor Satu Pintu dan Dampaknya terhadap Emitter Sawit

Kebijakan ekspor satu pintu yang diberlakukan oleh pemerintah Indonesia untuk sumber daya alam (SDA) telah menjadi topik utama dalam sektor perkebunan kelapa sawit. Keputusan ini diambil melalui Peraturan Pemerintah (PP) Ekspor SDA, yang memaksa pengelolaan ekspor SDA dilakukan secara terpusat melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), sebuah badan usaha milik negara (BUMN). Langkah ini berdampak signifikan pada kinerja emiten sawit, termasuk perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur ekspor tinggi.

Penerapan kebijakan ini akan dimulai pada 1 Juni 2026 sebagai tahap awal, dengan rencana implementasi penuh pada 1 Januari 2027. Komoditas yang akan dikelola oleh DSI pada tahap awal mencakup crude palm oil (CPO), batu bara, dan paduan besi (ferrous alloy). Sejumlah emiten CPO memberikan tanggapan terkait kebijakan ini, dengan beberapa menyatakan dukungan sementara yang lain masih menunggu detail lebih lanjut.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) mengaku belum menerima salinan resmi dari PP Ekspor SDA. Oleh karena itu, mereka belum dapat memberikan tanggapan secara rinci atau menyimpulkan dampak kebijakan tersebut terhadap perseroan. Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan AALI, Tingning Sukowignjo, menyatakan bahwa perusahaan tetap berkomitmen pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik serta mematuhi ketentuan hukum yang berlaku sambil memantau perkembangan kebijakan tersebut.

Di sisi lain, PT Prime Agri Resources Tbk (SGRO) menyatakan dukungan terhadap kebijakan ini. Namun, mereka menekankan pentingnya pengelolaan transisi secara hati-hati mengingat volatilitas pasar global yang tinggi. Direktur SGRO, Eris Ariaman, menyoroti kesiapan operasional, infrastruktur sistem, dan kapasitas mitigasi risiko oleh DSI sebagai prasyarat krusial. Hal ini penting untuk menjamin kepastian kontrak pasokan internasional, mencegah penalti akibat keterlambatan dokumen, serta menjaga stabilitas harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani.

Dampak Finansial terhadap Emitter Sawit

Berdasarkan data tahun buku 2025, emiten CPO yang memiliki eksposur ekspor tinggi antara lain SMAR (41%), STAA (35%), dan AALI (36%). Research Associate Panin Sekuritas, Luthfi Novardiansyah, mengatakan bahwa emiten dengan eksposur ekspor tinggi berpotensi lebih terdampak dibandingkan emiten yang lebih fokus pada pasar domestik.

Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai bahwa dampak kebijakan ini masih terbatas selama fase transisi hingga 31 Desember 2026. Namun, saat DSI menjadi eksportir tunggal penuh mulai 1 Januari 2027, potensi tekanan terhadap average selling price (ASP) akan meningkat. Setiap kenaikan biaya operasional sebesar Rp100.000 per ton bisa menggerus laba tahun 2027–2028 hingga sekitar 1–4%. AALI menjadi emiten yang paling terekspos oleh kebijakan ini, dengan sekitar 36% penjualan dari ekspor.

Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai bahwa skema DSI saat ini hanya lebih pada administratif. Jika tidak ada perubahan, maka tidak ada dampak langsung pada ASP emiten sawit. Namun, jika ada perubahan skema pricing atau hal yang memengaruhi penjualan, SIMP dan AALI bisa terdampak paling besar.

Katalis Positif dan Negatif bagi Emitter Sawit

Selain masalah DSI, emiten sektor CPO memiliki katalis positif dari implementasi mandatory biodiesel B50 yang mulai berlaku 1 Juli 2026. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan serapan CPO domestik dan memperketat pasokan di pasar global, sehingga harga CPO berpotensi bertahan pada level yang tinggi di sisa 2026.

Namun, sektor CPO juga menghadapi sentimen negatif dari revisi kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) SDA yang berpotensi membatasi fleksibilitas cash flow perusahaan seiring pembatasan konversi Rupiah maksimal 50% dari sebelumnya 100%. Selain itu, fenomena El Nino di Semester II-2026 berpotensi menekan tingkat produktivitas sawit akibat curah hujan yang rendah dan memicu kekeringan.

Abida Massi Armand memandang prospek kinerja emiten sawit di sisa tahun 2026 tetap konstruktif, tapi tidak merata. Sentimen positif seperti harga CPO tinggi, pasokan global ketat, dan dorongan biodiesel B50 menjadi faktor pendukung. Sementara itu, sentimen negatif mencakup ketidakpastian biaya DSI, volatilitas harga, dan pelemahan rupiah.

Rekomendasi Investasi

Di sisi lain, penurunan saham emiten CPO dalam sebulan terakhir dinilai Abida akibat faktor pasar secara umum, seperti penurunan IHSG, outflow dana asing, pelemahan rupiah terhadap dolar AS, serta rebalancing MSCI dan FTSE. Dengan kata lain, penurunan saham emiten CPO bukan murni karena pembentukan DSI.

Azis Setyo Wibowo merekomendasikan trading buy untuk TAPG dengan target harga Rp 1.880 per saham. Ia menilai bahwa saat ini kejelasan mengenai skema dan tidak adanya perubahan menjadi sentimen utama bagi emiten sawit. Jika ada perubahan kewenangan dari DSI yang bisa mengatur harga dan sebagainya, maka hal itu dikhawatirkan dapat menekan dari sisi pendapatan.

Keberadaan DSI memiliki peran positif secara administratif, karena meningkatkan pengawasan devisa. Ini mengingat DSI juga dapat memperketat devisa yang harusnya masuk ke Indonesia, tetapi malah ditempatkan di negara lain. Saat ini penurunan saham CPO dinilai Azis masih terkait kebijakan ekspor satu pintu, terutama mengenai kejelasan skema yang dikhawatirkan dapat menurunkan revenue dan margin. Hal ini juga membuat ASP bisa turun karena kekhawatiran tersebut.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 Kesalahan Finansial Umum Saat Ikuti Tren Investasi

6 Juni 2026

Prospek UNVR 2026 Berat, Margin dan Daya Beli Jadi Tantangan

6 Juni 2026

5 alasan properti dekat transportasi publik lebih mahal

6 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Hyundai Palisade Hybrid Signature 2026: Harga Terbaru Disewa

6 Juni 2026

Hasil Moto3 Italia 2026: Veda Ega Pratama Urutan 8, Hakim Danish Naik Podium 3 di Mugello

6 Juni 2026

Kolaborasi STTS, GDGoC, dan Google Developer Experts Ciptakan Aplikasi AI Tanpa Kode

6 Juni 2026

Selain ke Luar Negeri, Ini Deretan Program yang Pakai Uang Prabowo

6 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?