Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Kamis, 30 Juli 2026
Trending
  • BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Internasional»Profesor Jiang Buka Rahasia Selat Malaka sebagai Target AS, Tujuan Lumpuhkan Ekonomi Tiongkok
Internasional

Profesor Jiang Buka Rahasia Selat Malaka sebagai Target AS, Tujuan Lumpuhkan Ekonomi Tiongkok

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover17 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Peringatan Profesor Jiang: Selat Malaka Jadi Kunci Dominasi Ekonomi Global

Selat Malaka, yang merupakan jalur laut sempit yang menghubungkan Samudra Hindia dan Laut China Selatan, memiliki peran kritis dalam perdagangan dan pasokan energi global. Dalam sebuah wawancara terbaru, Profesor Jiang, seorang analis geopolitik Tionghoa-Kanada, menyoroti bahwa kontrol atas Selat Malaka bisa menjadi senjata utama Amerika Serikat untuk membatasi ekonomi Cina.

Jiang menyatakan bahwa jika Amerika Serikat berhasil mengendalikan jalur ini, maka Cina akan kehilangan akses terhadap 90 persen impor energi dan sumber daya penting lainnya. Hal ini dapat berdampak besar pada stabilitas ekonomi Cina, bahkan dalam hitungan minggu.

Jalur Strategis yang Menghubungkan Dunia

Selat Malaka tidak hanya menjadi jalur penting bagi Cina, tetapi juga bagi negara-negara Asia Timur lainnya seperti Jepang dan Korea Selatan. Setiap tahun, jutaan barel minyak dan triliunan dolar nilai perdagangan melintasi kawasan ini. Oleh karena itu, stabilnya jalur ini sangat vital bagi kelancaran perdagangan global.

Menurut Jiang, posisi geografis Selat Malaka menjadikannya sebagai “senjata geopolitik” yang sangat strategis dalam rivalitas antara Amerika Serikat dan Cina. Ia menilai bahwa Washington memahami bahwa dominasi maritim adalah kunci untuk mempertahankan pengaruh global.

Ketergantungan Energi Cina

Dalam penjelasannya, Jiang menyoroti bahwa sebagian besar pasokan energi Cina berasal dari Timur Tengah dan harus melewati Selat Malaka sebelum masuk ke wilayah Cina. Kondisi ini menciptakan kerentanan jangka panjang bagi Beijing.

Ia menekankan bahwa jika jalur tersebut terganggu atau diblokade dalam konflik geopolitik, dampaknya bisa sangat besar bagi ekonomi Cina. “Amerika Serikat hanya perlu menempatkan kekuatan angkatan laut di Selat Malaka, dan Cina akan kehilangan sebagian besar akses energi serta perdagangan strategisnya,” ujarnya.

Strategi Kontrol Jalur Maritim

Jiang juga membahas strategi Amerika Serikat untuk mempertahankan dominasi global melalui kontrol terhadap jalur perdagangan dan energi dunia. Ia menyebut Selat Malaka, Terusan Panama, hingga Selat Hormuz sebagai titik strategis yang menjadi perhatian utama Washington.

Menurut Jiang, penguasaan jalur laut bukan hanya soal militer, tetapi juga soal pengaruh ekonomi global. “Negara yang mengontrol jalur perdagangan strategis akan memiliki leverage besar terhadap ekonomi dunia,” ujarnya.

Kesepakatan AS-Indonesia

Yang paling mengejutkan dari paparan Jiang adalah narasi mengenai posisi Indonesia. Ia mengisyaratkan adanya komunikasi intensif dan perjanjian strategis antara Washington dan Jakarta. Kesepakatan ini, menurut Jiang, menjadi landasan bagi AS untuk memarkir kapal induknya di Selat Malaka sebagai bagian dari strategi First Island Chain.

Keterlibatan Indonesia dalam memberikan izin navigasi atau kerja sama pertahanan di wilayah ini dianggap sebagai langkah kunci yang telah diantisipasi oleh para perencana militer AS untuk menjaga stabilitas kawasan sekaligus membendung pengaruh Beijing.

Misi Penyelamatan Dolar AS

Lebih lanjut, Jiang menjelaskan bahwa kontrol atas Selat Malaka dan wilayah perairan Indonesia bukan sekadar soal militer, melainkan soal keberlangsungan Dolar AS. Dengan menguasai jalur perdagangan utama dunia, AS memastikan bahwa transaksi energi global tetap menggunakan dolar, sekaligus memaksa negara-negara lain untuk tunduk pada sistem keuangan Barat.

Ia menyoroti bahwa upaya de-dolarisasi yang dipelopori oleh aliansi BRICS (termasuk China dan Rusia) akan menemui jalan buntu jika AS masih memegang kendali atas urat nadi perdagangan maritim dunia.

Indonesia di Persimpangan Jalan

Analisis tajam Profesor Jiang ini menempatkan Indonesia pada posisi yang sangat dilematis. Di satu sisi, kerja sama strategis dengan AS memperkuat pertahanan nasional, namun di sisi lain, posisi ini menjadikan Indonesia sebagai pusat gravitasi dalam potensi konflik terbuka antara dua kekuatan besar dunia.

Hingga saat ini, pemerintah Indonesia terus menekankan prinsip politik luar negeri bebas aktif. Namun, keberadaan perjanjian rahasia atau kesepakatan tingkat tinggi yang disinggung Jiang memberikan perspektif baru bagi para pengamat internasional mengenai arah kebijakan luar negeri Indonesia di masa depan.

Dunia Menanti Perubahan

Dunia kini menanti, apakah Selat Malaka akan tetap menjadi jalur perdamaian atau justru berubah menjadi pemicu pecahnya konflik skala besar yang telah diramalkan oleh sang profesor.

Bagi Indonesia, pembahasan soal Selat Malaka memiliki arti strategis tersendiri. Sebagai salah satu negara yang berbatasan langsung dengan jalur tersebut, Indonesia berada di pusat lalu lintas perdagangan global sekaligus pusaran persaingan geopolitik dunia.

Peningkatan ketegangan di kawasan diperkirakan dapat berdampak langsung pada keamanan maritim, ekonomi, hingga stabilitas regional ASEAN. Karena itu, berbagai pihak menilai penting bagi negara-negara Asia Tenggara menjaga netralitas dan memastikan Selat Malaka tetap menjadi jalur perdagangan internasional yang aman dan terbuka.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Membanggakan! Mahasiswa UNISMA, Shalwaa Kia Lolos Konferensi Internasional di Tiga Negara

31 Mei 2026

Mojtaba Khamenei Minta Militer Siap, Iran Waspadai Serangan?

17 Mei 2026

Trump Menolak Permintaan Ganti Rugi Iran Rp 4.000 Triliun, Ketegangan Timur Tengah Meningkat

17 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

BPTD Jambi Bungkam, Dugaan Ketidaksesuaian SBU dan SKP pada Sejumlah Proyek Konstruksi Tahun 2025 Mengemuka

14 Juli 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?