Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Selasa, 29 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Produksi Cina melambat akibat konflik Iran
Ekonomi

Produksi Cina melambat akibat konflik Iran

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover5 Juni 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Aktivitas Manufaktur Tiongkok Melambat pada Bulan Mei



Aktivitas manufaktur Tiongkok mengalami perlambatan pada bulan Mei. Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers’ Index/PMI) sektor manufaktur tercatat sebesar 50, turun 0,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Data ini dirilis oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok (NBS). Meski masih berada di batas ekspansi, penurunan ini menunjukkan bahwa laju pertumbuhan aktivitas manufaktur mulai melemah.

Secara umum, PMI di atas level 50 menandakan ekspansi, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi. Pelemahan kinerja sektor manufaktur terjadi di tengah meningkatnya tekanan biaya akibat konflik di Selat Hormuz yang mendorong kenaikan harga bahan baku.

Indeks Harga Pembelian (Purchase Price Index) yang sebelumnya berada di level 54,8 sebelum pecahnya perang Iran pada Februari, melonjak menjadi 63,9 pada Maret dan 63,7 pada April, sebelum turun tipis ke level 60,5 pada Mei.

Dari lima subindeks pembentuk PMI manufaktur, hanya indeks produksi yang masih berada di atas level 50. Sementara indeks pesanan baru, persediaan bahan baku, ketenagakerjaan, dan waktu pengiriman pemasok masih berada di zona kontraksi.

Penurunan Indeks Produksi dan Pesanan Baru

Indeks produksi tercatat sebesar 51,2 pada Mei, turun 0,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, angka ini masih menunjukkan aktivitas produksi manufaktur yang terus berekspansi. Di sisi lain, indeks pesanan baru turun menjadi 49,9 dari sebelumnya 50,6. Kondisi ini mengindikasikan melemahnya permintaan pasar terhadap produk manufaktur.

Indeks persediaan bahan baku utama juga turun menjadi 48,6 atau melemah 0,7 poin dibandingkan bulan April. Penurunan ini menunjukkan berkurangnya stok bahan baku yang dimiliki perusahaan manufaktur. Sementara itu, indeks ketenagakerjaan berada di level 48,6, turun 0,2 poin dari bulan sebelumnya. Hal ini mencerminkan pelemahan kondisi pasar tenaga kerja di sektor manufaktur.

Indeks waktu pengiriman pemasok turun menjadi 49,2 dari sebelumnya 49,5. Angka ini menunjukkan waktu pengiriman bahan baku oleh pemasok masih mengalami perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya.

Berbagai Tekanan yang Menghantam Sektor Manufaktur

Menurut pendiri RatingDog, Yao Yu, sektor manufaktur Tiongkok masih mampu mempertahankan pertumbuhan pada Mei, meski momentumnya melambat. “Secara keseluruhan, sektor manufaktur mempertahankan ekspansi pada Mei, meski dengan laju yang lebih lambat. Meredanya tekanan inflasi memberikan sedikit ruang bagi perusahaan dalam mengelola biaya dan harga,” ujarnya.

Hasil survei swasta tersebut lebih baik dibandingkan data resmi pemerintah Tiongkok yang dirilis sehari sebelumnya. Survei resmi menunjukkan aktivitas pabrik stagnan pada bulan Mei dengan PMI turun ke level 50 dari 50,3 pada bulan April.

Survei RatingDog menunjukkan produksi manufaktur meningkat selama enam bulan berturut-turut, terutama didorong oleh sektor barang investasi. Perusahaan melaporkan peningkatan produksi seiring menguatnya permintaan pasar, bertambahnya pesanan baru, perbaikan produk, serta peningkatan aktivitas bisnis baru.

Pertumbuhan Pesanan Baru dan Kontraksi Ekspor

Pesanan baru juga tumbuh selama 12 bulan berturut-turut, meskipun laju ekspansinya lebih lambat dibandingkan bulan April. Di sisi lain, pesanan ekspor baru mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam lima bulan terakhir.

Pelemahan pesanan ekspor itu menjadi sinyal awal bahwa kenaikan harga energi mulai membebani permintaan global terhadap produk-produk asal Tiongkok. Tekanan harga juga menunjukkan tanda-tanda mereda pada Mei. Inflasi biaya input maupun harga output melambat untuk pertama kalinya dalam enam dan tujuh bulan terakhir.

Kenaikan biaya bahan baku turun ke level terendah dalam tiga bulan. Sektor barang investasi mencatat peningkatan biaya terbesar, sedangkan sektor barang konsumsi mengalami kenaikan paling rendah. Sementara itu, inflasi harga output rata-rata juga melambat ke level terendah dalam tiga bulan terakhir, meski masih berada di atas rata-rata historis jangka panjang.

Produsen barang setengah jadi mencatat kenaikan harga jual tercepat, sedangkan produsen barang konsumsi mengalami kenaikan harga paling lambat. Produsen Tiongkok juga masih menaikkan harga ekspor untuk bulan keenam berturut-turut, namun dengan laju yang lebih lambat dibandingkan April.

Ketenagakerjaan dan Persediaan Bahan Baku

Di sisi ketenagakerjaan, survei menunjukkan jumlah pekerjaan yang belum terselesaikan meningkat untuk bulan keempat berturut-turut akibat pertumbuhan pesanan yang berkelanjutan dan kekurangan pasokan. Namun, indeks ketenagakerjaan turun ke level terendah dalam lima bulan dan berada di bawah ambang 50, menandakan berkurangnya jumlah tenaga kerja di sektor manufaktur.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Konsumen semakin peduli lingkungan, tetapi pilihan produk berkelanjutan masih terbatas

31 Agustus 2026

Investasi Asing dan Masa Depan Perumahan Indonesia

31 Agustus 2026

Saksi Perjuangan Siswa SD Mencari Ilmu di Bandung Barat

30 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?