Peran AI dalam Proses Pembelajaran dan Tantangan Literasi di Era Digital
Penggunaan Artificial Intelligence (AI) secara berlebihan mulai dikhawatirkan mengganggu proses transfer ilmu pengetahuan di kalangan pelajar, mahasiswa maupun masyarakat umum. Hal ini disampaikan oleh Prof Dr Sumayana, Guru Besar FEB Universitas Gadjah Mada (UGM), saat Bincang Literasi, Digital Library dalam Membangun Budaya Belajar di Era Digital yang digelar di Aula Soekarno-Hatta Lantai 2 Gedung Asthabrata BBPKA-PDN III, Kamis (18/6/2026).
Prof Sumiyana menyoroti beberapa hal terkait etika penggunaan AI yang saat ini perannya nyaris seperti pustaka dalam genggaman. Di sisi lain AI bisa menjadi media perang pengetahuan, sebab data yang dihimpun ditampilkan oleh AI adalah hasil pendalaman dari para pakar dan ahli pada bidangnya masing-masing.
“Pandangan kaum sebuah bangsa bisa dibelokkan, nah ini yang bahaya ketika AI digunakan untuk perang pengetahuan,” katanya. Menurut Prof Dr Sumayana, masyarakat harus menyadari bahwa proses belajar harus berjalan alamiah, tidak serba instan melalui penggunaan AI. “AI hanya sebagai pendukung sekunder jangan menjadi kepercayaan,” terang dia.
Inovasi Digital Library untuk Memperkuat Budaya Belajar
Melalui digital library, akses terhadap sumber belajar diharapkan semakin luas, inklusif, dan mampu menjawab kebutuhan pengembangan kompetensi di tengah pesatnya transformasi digital. Balai Besar Pengembangan Kompetensi Aparatur Pemerintahan Dalam Negeri (BBPKA-PDN) III Kementerian Dalam Negeri meluncurkan BBPK Jogja Digilib sebagai upaya memperkuat budaya belajar di era digital.
Kepala BBPKA-PDN III, M Weli Septiya Putra, mengatakan digital library bukan sekadar perpustakaan dalam bentuk elektronik, melainkan ruang belajar yang dapat diakses kapan saja dan oleh siapa saja. Kehadirannya diharapkan dapat memperkuat ekosistem pembelajaran berkelanjutan, terutama bagi aparatur sipil negara (ASN).
“Digital library menjadi sarana untuk mendukung pengembangan kompetensi ASN sekaligus memperluas akses literasi bagi mahasiswa dan masyarakat. Kami ingin budaya belajar tumbuh lebih kuat melalui pemanfaatan teknologi,” jelasnya. Menurutnya, penyelenggaraan Bincang Literasi memiliki sejumlah tujuan, di antaranya memperkenalkan peran dan fitur digital library dalam menunjang pengembangan kompetensi ASN, meningkatkan kemampuan ASN dalam memanfaatkan sumber belajar digital, serta memperluas manfaat layanan tersebut bagi masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Selain itu, kegiatan ini juga diarahkan untuk mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi, perpustakaan daerah dan berbagai pemangku kepentingan dalam memperkuat literasi digital. Pembelajaran berbasis teknologi diharapkan dapat diterapkan lebih luas, tidak hanya di lingkungan pemerintahan, tetapi juga di kalangan civitas akademika dan masyarakat.
Standar Pelayanan dan Kolaborasi untuk Meningkatkan Literasi
Pada kesempatan yang sama, BBPKA-PDN III juga mengagendakan penandatanganan kesepakatan standar pelayanan bersama para pemangku kepentingan. Standar pelayanan tersebut meliputi pelayanan pengembangan kompetensi dasar dan manajerial, pelayanan pengembangan kompetensi teknis dan fungsional, serta fasilitasi layanan konsultasi.
“Kami juga siap membuka lebih lebar kantor kami di Jogja, agar masyarakat merasakan kemanfaatan. Kami akan kolaborasikan Jogja Digilib dengan coffe shop atau ruang publik yang menarik agar masyarakat bisa menikmati, masuk lebih dekat,” terang Weli. Weli berharap transformasi digital tidak hanya menghadirkan kemudahan akses informasi, tetapi juga membentuk budaya belajar yang adaptif, kolaboratif, dan berkelanjutan di kalangan ASN maupun masyarakat luas.
“Digitalisasi ini bisa diakses secara lebih luas. Dan bisa direplikasi di beberapa daerah. Kami sangat terbuka untuk hal itu,” ujarnya.
Tantangan Minat Baca di Kalangan Gen Z
Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAP) DIY, Syam Arjayanti, menyampaikan bahwa meski indeks pembangunan literasi masyarakat (IPLM) di DIY cukup baik, namun minat baca masyarakatnya terbilang rendah. “Tingkat literasi di Jogja baik ASN dan masyarakatnya itu sebenarnya cukup tinggi, tapi kita gak boleh lengah karena ternyata diangka IPLM tinggi itu minat baca tergolong rendah mengalami penurunan,” jelasnya.
Penurunan minat baca itu menurutnya disebabkan para gen z lebih tertarik mencari literasi melalui ponsel pintar ketimbang mengulik lewat buku. “Nah, ini tantangan kita bersama. Sebagai upaya itu kami mencoba membuat inovasi bagaimana masyarakat mau datang ke Dinas Perpustakaan,” jelasnya.



