Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 21 Maret 2026
Trending
  • Catat, Batas Akhir Pembayaran Zakat Fitrah Agar Sah
  • OJK Peringatkan Dampak Konflik Timur Tengah pada Bank, Likuiditas Valas Jadi Sorotan
  • 5 Fakta Mengagumkan Shah Abbas I, Sang Pemimpin yang Membawa Persia ke Masa Keemasan
  • Doa Setelah Takbiratul Ikhram: Soal Fikih Kelas 2 SD Semester 2
  • Perjanjian RI-AS Tidak Wajibkan Pemrosesan Data Pembayaran Dalam Negeri, OJK Beri Tanggapan
  • Masih Tidak Puas, Dokter Richard Lee Ditahan, Doktif Kembali Bongkar Produk: Penipuan yang Lebih Besar
  • Perang dan Penonton Perang
  • Prediksi Skor Milan vs Inter: Derby Panas, Rossoneri Harus Menang
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Perang dan Penonton Perang
Politik

Perang dan Penonton Perang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover21 Maret 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perang dan Damai dalam Sejarah Manusia

Perang yang sedang berlangsung antara Amerika-Israel versus Iran kini menjadi tontonan bagi banyak orang. Rudal-rudal terbang cepat, menyala, dan bercahaya seperti komet-komet di langit malam. Awalnya kita kagum melihat kecanggihan teknologi, namun seiring waktu, kita menjadi ngeri ketika melihat kepulan asap ledakan, mayat-mayat bergelimpangan, serta puing-puing kehancuran.

Alangkah cerdasnya manusia dalam menciptakan senjata, namun alangkah kejamnya mereka saat menggunakan senjata tersebut untuk menghancurkan sesama manusia. Mayoritas dari kita, termasuk warga Amerika, Israel, dan Iran, bukanlah pembuat senjata atau para pemimpin yang memutuskan penggunaannya dalam perang. Kita hanyalah penonton. Namun, baik secara langsung maupun tidak langsung, kita akan terkena dampaknya.

Dampak ekonomi yang umum adalah kenaikan harga minyak yang akan memicu kenaikan harga-harga lainnya. Mereka yang tinggal di kawasan perang akan lebih terdampak, dengan rasa takut yang menghantui, kerusakan tempat tinggal, fasilitas umum yang rusak, hingga keluarga yang terbunuh.

Sebagai penonton yang terdampak perang ini, apa yang bisa kita lakukan? Tentu sangat sedikit. Kita bisa bersimpati pada para korban melalui pesan di media sosial, media cetak, atau elektronik, atau menyumbang sedikit uang untuk bantuan kemanusiaan. Namun jangan berharap banyak akan hasilnya. Bahkan resolusi Dewan Keamanan PBB saja tidak dihiraukan oleh Israel dan Amerika. Bantuan kemanusiaan yang dikirim pun tidak selalu sampai ke tujuan. Akhirnya, kita hanya bisa berdoa untuk para korban itu.

Mengapa Perang Terjadi?

Sejak ribuan tahun yang lalu, manusia hidup dalam dua keadaan: perang dan damai. Namun, mengapa pada satu masa, manusia memilih perang? Jawabannya tidak tunggal. Bisa karena ingin memperluas wilayah kekuasaan, balas dendam, membela diri, mengalihkan perhatian publik, atau ingin terlepas dari penindasan dan ketidakadilan.

Hasil akhir perang juga tidak selalu sesuai harapan para pembuat keputusan. Perilaku manusia sulit diramal karena dia dianugerahi kebebasan untuk memilih. Selain itu, tidak semua hal bisa dikendalikan manusia, meskipun dia berkuasa, bersenjata, dan kaya raya.

Meskipun Amerika memiliki persenjataan hebat, mereka kalah dalam perang Vietnam dan tidak sepenuhnya bisa mengendalikan Afghanistan. Apalagi, kekuatan militer dan ekonomi dunia tidak hanya dimonopoli oleh Amerika. Masih ada Cina, Rusia, dan negara-negara Eropa.

Pertanyaan Filsafat: Manusia Ciptaan atau Pembuat Sejarah?

Di sinilah muncul pertanyaan filsafat: Apakah manusia menciptakan atau diciptakan oleh sejarah? Apakah manusia seperti gabus yang tak berdaya dihempaskan ombak, atau seperti kapal yang melawan gelombang? Dalam menjawab soal ini, para pemikir umumnya menyatakan bahwa manusia adalah kedua-duanya: dia menciptakan dan diciptakan oleh sejarah. Manusia bebas sekaligus terbatas.

Dalam kebebasan, manusia harus memilih antara yang baik dan buruk, benar dan salah. Dalam keterbatasan, manusia hanya bisa pasrah. Jika pasrah menunjukkan sikap realistis dan pengakuan akan kelemahan, maka kebebasan menuntut tanggung jawab. Seorang pemimpin yang memutuskan untuk berperang atau netral, semua keputusannya harus berdasarkan pertimbangan kemaslahatan masyarakat yang dipimpinnya bahkan umat manusia sebagai wujud tanggung jawab.

Perang dalam Diri Sendiri

Sekilas, apa yang dikemukakan di atas tampak sederhana dan mudah diterapkan. Namun, mengapa dalam kenyataan tidak demikian? Saya kira karena sebelum membuat keputusan, baik sebagai pemimpin ataupun masyarakat, manusia sebagai pribadi harus memutuskan terlebih dahulu di dalam dirinya sendiri. Inilah perang yang paling dasar: apakah dia mengikuti hawa nafsu atau menuruti suara nurani kemanusiaan?

Apakah dia takut atau berani menyatakan kebenaran? Apakah dia siap menerima resiko terburuk akibat keputusannya itu? Mungkin inilah maksud sabda Nabi ketika pulang dari sebuah peperangan: “Kita pulang dari jihad yang kecil kepada jihad yang besar”. “Apa jihad yang besar itu?” tanya sahabat. “Jihad melawan hawa nafsu,” kata Nabi.

Perang Nafsu yang Tak Kasat Mata

Tak mudah mengendalikan hawa nafsu. Tanpa nafsu, kita tidak bisa hidup, tetapi menuruti nafsu tanpa kendali moral akan membuat kita lebih buruk dari binatang. Nafsu mendorong manusia untuk mendapat kenikmatan fisik (makan-minum, seks, dan sarana hidup) dan kesuksesan (kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran). Nafsu ini, jika terkendali, merupakan penggerak kebudayaan.

Karena itu, terlepas kita adalah pemimpin atau orang biasa, kita semua menghadapi perang setiap hari di dalam diri kita. Perang terhadap musuh yang tak boleh dibunuh, tetapi harus ditundukkan dan dikendalikan. Jika kita tak mengendalikannya, maka dialah yang akan mengendalikan kita.

Itulah nafsu, dorongan-dorongan hewani dan egoistik dalam diri kita. Perang nafsu ini tak kasat mata, tetapi hasilnya tampak dalam sikap, keputusan, dan perilaku kita. Hasil perang inilah yang membuat bom atom diledakkan, rudal-rudal ditembakkan, dan genosida dilakukan atas sesama manusia. Jadi, jika nafsu menguasai diri kita, secara potensial kita pun bisa menjadi Trump dan Netanyahu!

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

5 Fakta Mengagumkan Shah Abbas I, Sang Pemimpin yang Membawa Persia ke Masa Keemasan

21 Maret 2026

Waktu Berlalu Perlahan

20 Maret 2026

DPRD Medan Soroti Program Mudik Gratis Pemko, Minta Dishub Akuntabel

20 Maret 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Catat, Batas Akhir Pembayaran Zakat Fitrah Agar Sah

21 Maret 2026

OJK Peringatkan Dampak Konflik Timur Tengah pada Bank, Likuiditas Valas Jadi Sorotan

21 Maret 2026

5 Fakta Mengagumkan Shah Abbas I, Sang Pemimpin yang Membawa Persia ke Masa Keemasan

21 Maret 2026

Doa Setelah Takbiratul Ikhram: Soal Fikih Kelas 2 SD Semester 2

21 Maret 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?