Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 28 September 2026
Trending
  • Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!
  • Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027
  • 6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain
  • 5 zodiak dengan ramalan keuangan paling cerah September 2026, karier hingga relasi jadi kuncinya!
  • 6 alasan mengapa media sosial membuat anak-anak yang mulai remaja merasa menderita menurut psikologi
  • Nilai pasaran tembus Rp 163 miliar! Persija Jakarta belum puas dan masih buru pemain baru
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Otomotif»Penjualan mobil stagnan, target 2 juta unit pada 2030 sulit dicapai
Otomotif

Penjualan mobil stagnan, target 2 juta unit pada 2030 sulit dicapai

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 Januari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Tantangan Pertumbuhan Pasar Otomotif di Indonesia

Pertumbuhan pasar otomotif di Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang memengaruhi penjualan mobil. Salah satu faktor utama yang menyebabkan stagnasi penjualan adalah keterjangkauan harga kendaraan. Meskipun pemerintah menetapkan target penjualan mobil sebesar 2 juta unit pada tahun 2030, dalam 10 tahun terakhir performa penjualan mobil nasional justru stagnan di kisaran 1 juta unit. Hal ini menunjukkan bahwa target tersebut masih jauh dari realistis tanpa adanya perubahan signifikan.

Keterjangkauan Harga dan Daya Beli Rumah Tangga

Menurut hasil kajian Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), keterjangkauan harga menjadi faktor utama yang menghambat pertumbuhan pasar otomotif domestik. Peneliti LPEM UI, Syahda Sabrina, menjelaskan bahwa stagnasi penjualan mobil tidak lepas dari melemahnya daya beli rumah tangga. Kenaikan pendapatan masyarakat dinilai tidak sebanding dengan lonjakan harga kendaraan.

“Kita curiga isu yang paling besarnya itu adalah terkait dengan keterjangkauan atau affordability,” ujar Syahda dalam diskusi yang diselenggarakan oleh PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (9/1/2025).

Menurutnya, peningkatan pendapatan rumah tangga tidak mampu mengejar pertumbuhan harga mobil. Bahkan, jika dilihat dari upah riil, kenaikannya juga tertinggal dibandingkan inflasi. Kondisi ini menciptakan kesenjangan antara harga kendaraan dan kemampuan beli masyarakat.

Peluang Pencapaian Target Penjualan Mobil

LPEM UI kemudian mengkaji peluang pencapaian target penjualan 2 juta unit mobil baru pada 2030. Salah satu opsi yang dilihat adalah mendorong pembelian mobil pertama (first car buyer). Namun, ruang pertumbuhan dari segmen ini dinilai sangat terbatas.

“Kalau kita lihat dari data SUSENAS (Survei Sosial Ekonomi Nasional), dari seluruh rumah tangga nasional itu hanya sekitar 13 persen rumah tangga yang belum memiliki mobil sama sekali,” ungkap Syahda.

Dengan komposisi yang tipis tersebut, kontribusi pembeli mobil pertama terhadap lonjakan penjualan dinilai tidak signifikan.

Opsi lain yang dikaji adalah mendorong pergeseran konsumen dari mobil bekas ke mobil baru. Pergeseran ini, menurut LPEM UI, hanya bisa terjadi jika kesenjangan harga antara mobil baru dan mobil bekas dipersempit, baik melalui penurunan harga mobil baru maupun kenaikan harga mobil bekas.

Peran Nilai Jual Kembali (Resale Value)

Dalam survei terhadap 1.511 calon pembeli mobil dalam lima tahun ke depan, LPEM UI menemukan sekitar dua pertiga atau 962 responden awalnya berniat membeli mobil bekas. Ketika disimulasikan harga mobil baru turun sekitar 10 persen, sebanyak 27 persen responden menyatakan bersedia beralih ke mobil baru.

Namun, ketika skenario yang diuji adalah kenaikan harga mobil bekas, potensi pergeseran sangat tipis, hanya sekitar 15 persen.

Kajian ini juga menyoroti pentingnya nilai jual kembali (resale value) kendaraan. Berdasarkan analisis data mobil bekas yang dihimpun melalui web scraping dari OLX, LPEM UI menemukan hubungan positif antara tingginya resale value dengan penjualan mobil baru.

“Ini menunjukkan bahwa sebenarnya kalau misalnya resale value dari mobil tersebut bisa dijaga setinggi mungkin, tidak jauh berbeda dari nilai jual OTR yang barunya. Itu sebenarnya penjualan mobil barunya tidak akan turun seperti itu atau dengan istilah lain depresiasinya tidak terlalu tinggi, itu penjualan mobil barunya bisa terjaga,” ujar Syahda.

Sebagai contoh, Toyota Innova disebut memiliki depresiasi yang rendah, dengan resale value masih sekitar 73 persen dari harga On The Road (OTR). Kondisi tersebut sejalan dengan tren penjualan Innova yang terus meningkat dari tahun ke tahun.

Tantangan Makro untuk Mencapai Target 2 Juta Unit

Meski demikian, secara makro, LPEM UI menilai target pemerintah tetap sulit dicapai. Tanpa intervensi kebijakan, proyeksi penjualan mobil pada 2030 dinilai akan jauh di bawah target. Bahkan dengan asumsi adanya pergeseran konsumen dari mobil bekas ke mobil baru, penjualan diperkirakan hanya mencapai sekitar 1,6 juta unit.

“Dengan adanya shifting dari mobil bekas ke mobil baru, itu tetap belum bisa mencapai target pemerintah yang 2 juta unit penjualan,” terang Syahda.

Ia menambahkan, jika melihat data historis, sejak 2021 hingga 2025 target penjualan mobil baru yang ditetapkan pemerintah juga tidak pernah tercapai. Hal tersebut mengindikasikan bahwa target 2 juta unit pada 2030 berpotensi kurang realistis tanpa perubahan fundamental pada sisi harga, daya beli, dan struktur pasar otomotif nasional.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Ulasan Mitsubishi X-Force: Keunggulan & Pengalaman Pemilik Setelah 24.000 km

31 Agustus 2026

Penjualan BEV Melonjak 88,6 Persen, Tanda Perubahan Industri Otomotif

30 Agustus 2026

5 Alasan Wiper Mobil Masih Berisik Meski Sudah Ganti Karet

30 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Sahabat Jadi Selingkuhan, Pasangan Sendiri Dikhianati!

27 September 2026

Prediksi superkomputer terkait klasemen akhir fase awal Liga Champions 2026/2027

16 September 2026

6 strategi memanfaatkan waktu yang terbuang untuk meningkatkan karier menurut psikologi

16 September 2026

PSM Makassar vs Arema FC di Super League 2026/2027: Head to head, prediksi skor, daftar pemain

16 September 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?