Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 18 Februari 2026
Trending
  • Mobil Listrik 2026 Terlaris BYD Dirilis, Cek Fitur Unggulan SUV Baru Ini
  • HP Samsung RAM 8GB Harga 3 Jutaan Terbaik 2026
  • Presiden Prabowo Panggil Menteri Ekonomi ke Hambalang, Apa Tujuannya?
  • Mayat Siswi SMP Ditemukan Membusuk, Dibunuh Teman Dekat karena Sakit Hati
  • Pandangan: Kimia dan Demokrasi Berjumpa
  • Cuitan Asghar Saleh Bikin Komdis PSSI Kekesal
  • 7 bus malam Bogor-Yogyakarta via tol: pilihan nyaman dan terjangkau untuk liburan ke kota gudeg
  • Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 16 Februari 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Pandangan: Kimia dan Demokrasi Berjumpa
Politik

Pandangan: Kimia dan Demokrasi Berjumpa

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover18 Februari 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Refleksi dari Laboratorium hingga Pemilu

Sebagai anggota KPU Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, saya tidak pernah membayangkan bahwa pelajaran tentang laju reaksi, katalis, dan kesetimbangan kimia yang saya pelajari di bangku kuliah akan membantu saya memahami demokrasi. Namun, hidup sering bergerak di luar rencana. Dari ruang laboratorium di Universitas Nusa Cendana Kupang hingga ruang penyelenggaraan pemilu di Kabupaten Sikka, saya justru menemukan satu benang merah: demokrasi, seperti ilmu kimia, hanya akan menghasilkan sesuatu yang sahih bila dijalankan dengan patuh pada proses.

Di laboratorium, saya belajar bahwa ilmu bukan soal kepintaran semata, tetapi kepatuhan pada proses. Tidak ada jalan pintas. Setiap tahap harus dijalankan secara runtut. Demokrasi, belakangan saya sadari, bekerja dengan logika yang sama. Banyak orang bertanya, apa hubungan antara ilmu kimia dan demokrasi? Keduanya sering ditempatkan di dua dunia yang berbeda. Kimia berada di ruang laboratorium dengan gelas ukur dan reaktor, sementara demokrasi hidup di ruang publik yang penuh debat, konflik kepentingan, dan emosi massa. Namun perjalanan hidup saya justru membuktikan sebaliknya.

Kimia dan demokrasi tidak hanya saling terkait, tetapi memiliki cara kerja yang serupa, sama-sama membutuhkan ketelitian, keseimbangan, dan integritas proses.

Saya menempuh pendidikan Sarjana Pendidikan Kimia di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang. Di kampus inilah saya belajar bahwa ilmu kimia bukan sekadar kumpulan rumus, melainkan cara berpikir sistematis. Cara berpikir ini kemudian saya bawa ketika mengabdi di Bawaslu Kabupaten Sikka, dan kini sebagai anggota KPU Kabupaten Sikka.

Kinetika Reaksi dan Pelajaran tentang Proses

Judul skripsi saya waktu itu adalah “Kinetika Reaksi Transesterifikasi Minyak Biji Ketapang (Terminalia catappa L) pada Proses Produksi Metil Ester.” Dalam kajian kinetika reaksi, yang saya pelajari bukan hanya hasil akhir berupa metil ester, tetapi laju reaksi, energi aktivasi, pengaruh katalis, dan kondisi optimum yang menentukan apakah reaksi berjalan efektif atau justru gagal.

Sebagaimana dijelaskan oleh H. Scott Fogler dalam Elements of Chemical Reaction Engineering (2006), kinetika reaksi menekankan bahwa hasil yang baik hanya mungkin dicapai bila seluruh variabel dikendalikan secara cermat. Suhu yang terlalu tinggi dapat merusak produk, katalis yang tidak tepat menimbulkan reaksi samping, dan waktu yang tidak terkontrol menyebabkan inefisiensi. Pelajaran ini melekat kuat ketika saya memasuki dunia kepemiluan. Pemilu bukan peristiwa instan, melainkan proses panjang yang memiliki tahapan, variabel, dan potensi gangguan. Jika satu variabel saja diabaikan, misalnya data pemilih, logistik, atau integritas penyelenggara, maka hasil pemilu dapat dipertanyakan legitimasi dan keadilannya.

Demokrasi sebagai Sistem Reaksi Sosial

Dalam perspektif kimia fisik, Peter Atkins dan Julio de Paula dalam Physical Chemistry (2014) menjelaskan konsep kesetimbangan reaksi: kondisi di mana reaksi maju dan balik berlangsung dengan laju yang sama. Kesetimbangan bukan berarti diam, tetapi stabil dalam dinamika. Demokrasi Indonesia bekerja dengan prinsip serupa. Ia bukan sistem tanpa konflik, melainkan sistem yang menyediakan mekanisme untuk mengelola konflik secara beradab.

Pemilu adalah ruang kesetimbangan itu, tempat kepentingan politik bertemu, diuji, dan disalurkan melalui aturan main yang disepakati bersama. Sebagai penyelenggara pemilu, tugas kami bukan menghilangkan konflik politik, tetapi menjaga agar konflik itu tidak berubah menjadi reaksi destruktif. Di sinilah regulasi berfungsi sebagai “katalis” yang mempercepat tujuan demokrasi tanpa mengorbankan keadilan.

Dari Pengawasan ke Penyelenggaraan: Etika Ilmiah dalam Pemilu

Pengalaman di Bawaslu Kabupaten Sikka memperkenalkan saya pada makna pengawasan sebagai kontrol mutu. Dalam laboratorium, quality control memastikan produk sesuai standar; dalam pemilu, pengawasan memastikan setiap tahapan sesuai asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil. Ketika kemudian dipercaya menjadi anggota KPU Kabupaten Sikka, perspektif saya berubah dari sekadar mengawasi menjadi merancang sistem.

Prinsip yang saya pegang tetap sama seperti di laboratorium, proses yang benar akan menghasilkan output yang sahih. Pemikiran ini sejalan dengan pandangan Robert A. Dahl dalam On Democracy (1998), bahwa demokrasi tidak diukur semata dari siapa yang menang, tetapi dari bagaimana proses pengambilan keputusan dijalankan secara adil dan inklusif.

Manajemen Laboratorium dan Tata Kelola Pemilu

Saat melanjutkan studi magister di Universitas Ahmad Dahlan Jogjakarta, tesis saya berjudul “Pengelolaan Laboratorium IPA di SMA.” Fokusnya adalah manajemen: perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi. Konsep ini paralel dengan tata kelola pemilu. Larry Diamond dan Leonardo Morlino dalam Assessing the Quality of Democracy (2005) menekankan bahwa kualitas demokrasi sangat ditentukan oleh institusi yang dikelola secara profesional dan akuntabel.

Pemilu yang berkualitas tidak lahir dari improvisasi, tetapi dari perencanaan matang, SDM kompeten, dan evaluasi berkelanjutan. Seperti laboratorium IPA, pemilu membutuhkan SOP yang jelas, pencatatan yang rapi, serta budaya keselamatan, dalam konteks pemilu, keselamatan demokrasi dan hak pilih warga.

Energi Aktivasi Demokrasi: Kepercayaan Publik

Dalam kinetika reaksi, tidak ada reaksi yang berjalan tanpa energi aktivasi. Dalam demokrasi, energi aktivasi itu adalah kepercayaan publik. Tanpa kepercayaan, partisipasi menurun, dan demokrasi berjalan lambat atau bahkan stagnan. Pippa Norris dalam Why Electoral Integrity Matters (2014) menegaskan bahwa integritas pemilu adalah fondasi kepercayaan warga negara. Transparansi, konsistensi aturan, dan akuntabilitas penyelenggara berfungsi seperti katalis yang menurunkan hambatan psikologis masyarakat untuk berpartisipasi.

Di Kabupaten Sikka, pengalaman empirik menunjukkan bahwa kehadiran penyelenggara di tengah masyarakat, menjelaskan aturan, mendengar kritik, dan membuka data, jauh lebih efektif daripada sekadar mengandalkan teks regulasi.

Ilmu Kimia sebagai Sikap Hidup Demokratis

Pada akhirnya, ilmu kimia tidak hanya mengajarkan saya reaksi dan rumus, tetapi sikap hidup: jujur pada data, terbuka pada koreksi, dan setia pada metode. Sikap inilah yang sangat dibutuhkan dalam demokrasi Indonesia hari ini. Sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, penyelenggara pemilu dituntut profesional, mandiri, dan berintegritas. Nilai-nilai ini sejatinya identik dengan etika ilmiah yang saya pelajari sejak di laboratorium Undana Kupang.

Penutup

Pada akhirnya, ilmu kimia mengajarkan saya bahwa hasil yang sahih tidak pernah lahir dari proses yang serampangan. Demokrasi pun demikian. Ia membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan integritas untuk menjaga setiap tahapannya tetap jujur dan adil. Pemilu bukan sekadar tentang siapa yang menang dan kalah, melainkan tentang bagaimana kepercayaan publik dirawat melalui proses yang transparan dan bertanggung jawab.

Ketika penyelenggara setia pada aturan, peserta patuh pada etika, dan warga terlibat dengan kesadaran, demokrasi akan menemukan keseimbangannya. Di situlah, ketika ilmu kimia bertemu demokrasi, kedaulatan rakyat benar-benar bekerja.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Kemenlu Pastikan TNI ke Gaza Bukan Untuk Perang dan Lucuti Senjata Hamas

18 Februari 2026

Gaji PNS Kemenkeu 2026 dan Tunjangan Terbaru

18 Februari 2026

Hukum Kekuasaan di Timur Tengah

18 Februari 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mobil Listrik 2026 Terlaris BYD Dirilis, Cek Fitur Unggulan SUV Baru Ini

18 Februari 2026

HP Samsung RAM 8GB Harga 3 Jutaan Terbaik 2026

18 Februari 2026

Presiden Prabowo Panggil Menteri Ekonomi ke Hambalang, Apa Tujuannya?

18 Februari 2026

Mayat Siswi SMP Ditemukan Membusuk, Dibunuh Teman Dekat karena Sakit Hati

18 Februari 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?