Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Thursday, 15 October 2026
Trending
  • Yunarto Wijaya: Relawan Gibran Tak Perlu Gentar Hadapi Hak Angket DPR
  • Vonis PN Bangko terhadap kakak beradik penusuk pria di warung Lembah Masurai
  • Benarkah data center AI menghabiskan banyak air? Ini hitungannya
  • Pakar Forensik Pastikan Video Call Ruben Onsu di Akun Sarwendah Bukan AI
  • Mobil bensin kian menyusut: pangsa pasar turun di bawah 50 persen
  • 6 cara tetap tenang saat menghadapi masa-masa mencemaskan menurut psikologi
  • Prediksi skor Viking vs Bayern Munchen: Die Roten belum terkalahkan di Liga Jerman, siap borong gol!
  • Daftar 20 Mobil Terlaris September 2026, Atto 1 Masih Dipuncak
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Politik»Opini: Perang Makna Kekuasaan di Dinamika Kelas Politik
Politik

Opini: Perang Makna Kekuasaan di Dinamika Kelas Politik

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 May 2026No Comments5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Kehadiran Negara dalam Tata Kelola Politik dan Ekonomi Indonesia

Demokrasi pada dasarnya dibangun untuk memastikan bahwa kekuasaan dijalankan demi kepentingan publik. Namun, dalam praktiknya, politik sering kali berubah menjadi arena perebutan pengaruh antarelite yang menjadikan negara sebagai ruang distribusi keuntungan ekonomi dan kekuasaan. Dalam konteks Indonesia hari ini, gejala tersebut tampak semakin nyata.

Politik tidak lagi sekadar pertarungan gagasan atau visi pembangunan, melainkan juga perebutan akses terhadap sumber daya negara—mulai dari proyek strategis, konsesi tambang, jabatan birokrasi, hingga penguasaan informasi dan regulasi. Gejala tersebut tampak semakin kentara dalam tata kelola ekonomi politik Indonesia hari ini.

Negara tidak semata hadir sebagai regulator yang netral, melainkan kerap dipersepsikan sebagai ruang transaksi antarelite. Proyek strategis nasional, konsesi pertambangan, distribusi jabatan birokrasi, hingga produksi regulasi sering kali bergerak dalam orbit kepentingan politik-ekonomi yang saling bertaut. Akibatnya, rakyat hanya menjadi episentrum mobilisasi ketika pemilu berlangsung, sementara arah kebijakan strategis lebih banyak ditentukan oleh kompromi elite dan jejaring modal.

Konsep Legalisme Otokratik dan Teori Karl Marx

Kim Lane Scheppele memperkenalkan konsep yang disebut sebagai legalisme otokratik (autocratic legalism), yaitu situasi ketika pemegang kekuasaan—baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif—memanfaatkan legitimasi demokrasi melalui proses Pemilu untuk menjalankan agenda yang justru bertentangan dengan semangat konstitusionalisme. Praktik tersebut dilakukan secara terselubung dengan berlindung di balik perangkat hukum dan regulasi yang tampak sah secara formal.

Dalam pandangan ini, hukum tidak lagi berfungsi sebagai alat pembatas kekuasaan, melainkan dijadikan instrumen untuk mempertahankan dominasi pemerintahan dan memperkuat kontrol terhadap masyarakat. Gagasan mengenai legalisme otokratik tersebut dapat dikaitkan dengan teori kelas yang dikemukakan oleh Karl Marx.

Dalam perspektif ini, struktur kekuasaan cenderung melahirkan jarak antara kelompok elite politik dan masyarakat. Jika dikaitkan dengan kondisi Indonesia belakangan ini, terlihat adanya ketimpangan relasi antara elite politik sebagai kelompok yang memiliki akses terhadap kekuasaan negara, dengan masyarakat yang berada pada posisi subordinat. Akibatnya, negara sering kali dipersepsikan lebih merepresentasikan kepentingan kelas penguasa dibandingkan kepentingan rakyat secara luas.

Relasi Kuasa dalam Sumber Daya Alam

Pandangan Karl Marx juga masih relevan untuk membaca realitas ini. Marx melihat negara sering kali menjadi alat kelompok dominan untuk mempertahankan kepentingan ekonominya. Walaupun konteks zaman telah berubah, pola hubungan antara kekuasaan dan modal tetap terlihat dalam banyak kebijakan publik saat ini.

Ketika regulasi dibuat lebih menguntungkan pemilik modal dibanding masyarakat luas, maka negara berisiko kehilangan fungsi utamanya sebagai pelindung kepentingan publik. Kondisi tersebut dapat dilihat dalam berbagai sektor strategis. Dalam pengelolaan sumber daya alam, misalnya, negara kerap memberikan ruang yang sangat besar kepada korporasi besar melalui izin tambang, konsesi lahan, atau proyek investasi.

Di satu sisi pemerintah mengatasnamakan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional, tetapi di sisi lain masyarakat lokal sering kehilangan ruang hidup, mengalami kerusakan lingkungan, dan tidak memperoleh manfaat yang adil dari eksploitasi sumber daya tersebut. Masalahnya bukan sekadar soal ekonomi, melainkan soal relasi kuasa. Siapa yang memiliki akses terhadap negara akan lebih mudah menguasai sumber daya. Di titik inilah politik dan ekonomi saling bertemu.

Klienelisme, Hegemoni, dan Normalisasi Politik Transaksional

Kekuasaan politik dipakai untuk memperoleh keuntungan ekonomi, sementara kekuatan ekonomi digunakan untuk mempertahankan pengaruh politik. Hubungan timbal balik ini melahirkan apa yang sering disebut sebagai oligarki politik-ekonomi.

Rudi Rohi dalam Politik Klientelisme Kelas Politik mengatakan, argumen utama dalam penelitiannya menegaskan bahwa semakin besar dominasi kelas politik terhadap penguasaan sumber daya negara, maka semakin menguat pula praktik klientelisme dalam demokrasi lokal yang terjebak pada orientasi elektoral semata. Celakanya, relasi patron-klien dewasa ini tidak lagi sekadar terjadi antara elite dan masyarakat, melainkan antara korporasi sebagai patron dan negara sebagai klien.

Negara perlahan kehilangan otonomi politiknya karena terlalu bergantung pada kekuatan modal. Dampaknya tidak hanya terasa dalam kebijakan ekonomi, tetapi juga dalam kualitas demokrasi secara keseluruhan. Pemikiran Antonio Gramsci juga menjelaskan situasi tersebut melalui konsep hegemoni.

Gramsci menjelaskan bahwa kelompok dominan tidak hanya menguasai negara melalui kekuatan koersif, tetapi juga melalui persetujuan sosial. Artinya, elite mempertahankan kekuasaannya dengan membangun keyakinan bahwa sistem yang ada adalah sesuatu yang wajar dan tidak bisa diubah. Dalam konteks Indonesia, hegemoni itu tampak ketika publik mulai menganggap praktik politik transaksional, politik dinasti, atau pembagian jabatan sebagai sesuatu yang normal.

Perkembangan Media Sosial dan Tantangan Demokrasi

Padahal, demokrasi yang sehat seharusnya memberi ruang kompetisi yang adil dan transparan. Ketika kekuasaan hanya berputar di lingkaran elite tertentu, maka demokrasi kehilangan substansinya. Pemilu hanya menjadi prosedur lima tahunan tanpa perubahan mendasar terhadap struktur kekuasaan. Rakyat memilih pemimpin, tetapi arah kebijakan tetap dikendalikan oleh kepentingan ekonomi-politik yang sama.

Selain itu, perkembangan media sosial memperumit persoalan. Ruang publik digital yang semestinya menjadi arena diskusi demokratis justru sering dipenuhi propaganda politik, disinformasi, dan polarisasi identitas. Dalam situasi ini, perebutan kekuasaan tidak hanya terjadi di parlemen atau partai politik, tetapi juga di ruang informasi. Elite berlomba membentuk opini publik demi mempertahankan legitimasi. Kebenaran sering kali kalah oleh kekuatan buzzer, algoritma, dan pencitraan.

Tantangan Masa Depan dan Rekomendasi

Di tengah kondisi tersebut, publik perlu menyadari bahwa persoalan utama Indonesia bukan sekadar pergantian figur politik, tetapi struktur relasi kekuasaan yang memungkinkan praktik oligarki terus berlangsung. Pergantian pemimpin tidak akan banyak berarti jika tata kelola negara masih memberi ruang dominasi yang terlalu besar kepada elite ekonomi dan politik.

Reformasi kelembagaan, transparansi pengelolaan sumber daya, serta penguatan partisipasi masyarakat sipil menjadi hal yang sangat penting. Oleh karena itu, demokrasi Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar stabilitas politik. Demokrasi memerlukan keberanian untuk membatasi dominasi elite, memperkuat kontrol publik, dan memastikan bahwa sumber daya negara dikelola secara adil.

Jika tidak, politik hanya akan menjadi alat perebutan keuntungan antarkelompok berkuasa, sementara rakyat terus berada di pinggir arena kekuasaan. Pada akhirnya, perebutan makna kekuasaan adalah persoalan yang sangat menentukan arah masa depan bangsa. Ketika kekuasaan dimaknai sebagai sarana pengabdian, maka negara akan bekerja untuk kesejahteraan rakyat. Namun, ketika kekuasaan dipahami sebagai alat menguasai sumber daya dan mempertahankan hak istimewa elite, maka demokrasi hanya akan menjadi panggung bagi segelintir orang yang saling berebut pengaruh.

Indonesia hari ini sedang berada di persimpangan itu: antara demokrasi yang substantif atau demokrasi yang dikendalikan oligarki.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Yunarto Wijaya: Relawan Gibran Tak Perlu Gentar Hadapi Hak Angket DPR

15 October 2026

PGRI Desak Kepastian Pencairan TPG Guru Non-ASN

14 October 2026

Opini: Kritik Tak Pernah Padam

14 October 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Yunarto Wijaya: Relawan Gibran Tak Perlu Gentar Hadapi Hak Angket DPR

15 October 2026

Vonis PN Bangko terhadap kakak beradik penusuk pria di warung Lembah Masurai

15 October 2026

Benarkah data center AI menghabiskan banyak air? Ini hitungannya

15 October 2026

Pakar Forensik Pastikan Video Call Ruben Onsu di Akun Sarwendah Bukan AI

15 October 2026
TAGS
akan Ampat Berita Bisnis Budaya Bukan dalam dan dari dengan diskon DPR Dunia Ekonomi Hiburan Horoskop Indonesia ini insiden Iran Jadi Kasus kasus kriminal Kejahatan Kesehatan Kontroversi KPK Laporan Polisi media berita Olahraga Pemerintah perbintangan perusahaan Politik Politik dan Hukum politik dan pemerintahan presiden Raja Selebriti Soal Tambang TNI untuk warga yang
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?