Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 30 Mei 2026
Trending
  • Tips memilih penyedot debu untuk gaya hidup modern
  • 16 Film dan Drama Choi Siwon yang Wajib Ditonton
  • Antusiasme Tinggi Test Ride di IIMS Surabaya, ALVA Optimis Motor Listrik Digemari Jatim
  • Drone Mata-Mata AS Terbang 60 Jam Tanpa Mendarat di Wilayah Perang
  • 5 Bahaya yang Mengancam Perusahaan Saat Rupiah Melemah
  • Berita Terkini: Penipuan Uang di Malaka, Penganiayaan Brutal di TTU, Kasus KI Bolok
  • Opini: Perang Makna Kekuasaan di Dinamika Kelas Politik
  • 7 rekomendasi penginapan indah di Houston dekat NRG Stadium!
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Drone Mata-Mata AS Terbang 60 Jam Tanpa Mendarat di Wilayah Perang
Teknologi

Drone Mata-Mata AS Terbang 60 Jam Tanpa Mendarat di Wilayah Perang

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover30 Mei 2026Tidak ada komentar7 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Pengembangan Drone ULTRA untuk Meningkatkan Kemampuan Intelijen Militer AS

Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) sedang mempersiapkan pengiriman versi terbaru dari pesawat nirawak Unmanned Long-endurance Tactical Reconnaissance Aircraft (ULTRA) ke kawasan Timur Tengah. Pesawat ini dikembangkan oleh perusahaan DZYNE Technologies dan dirancang untuk mampu terbang lebih cepat, lebih tinggi, serta bertahan di udara selama berhari-hari.

ULTRA Turbo merupakan pengembangan dari drone ULTRA generasi sebelumnya yang memiliki desain menyerupai pesawat layang dengan mesin turbo. Pesawat tanpa awak ini menjadi bagian dari upaya militer AS dalam memperkuat kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian udara (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance/ISR) dengan biaya operasional yang lebih rendah.

Dokumen anggaran Angkatan Udara AS tahun anggaran 2027 menyebutkan bahwa evaluasi operasional akan dilakukan di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mencakup kawasan Timur Tengah. Pendanaan untuk program tersebut telah dialokasikan sejak Tahun Fiskal 2026 dan akan dilanjutkan pada 2027 guna mendukung peningkatan kemampuan drone.

Drone ULTRA disebut memiliki konfigurasi “Multi-INT” yang memungkinkan penggunaan berbagai sensor pengintaian, mulai dari kamera elektro-optik, inframerah, radar pencitraan apertur sintetis, hingga perangkat intelijen sinyal. Versi terbaru drone ini menggunakan mesin Rotax 916, mesin piston empat silinder yang juga digunakan pada sejumlah drone militer lain, termasuk Hermes 900 buatan Israel. Mesin tersebut memungkinkan ULTRA Turbo terbang di ketinggian lebih dari 25 ribu kaki dan meningkatkan fleksibilitas operasi di cuaca buruk.

Pada Februari lalu, DZYNE mengumumkan ULTRA Turbo berhasil menyelesaikan penerbangan selama 60 jam di ketinggian 25 ribu kaki dengan kecepatan 100 knot. Drone tersebut diklaim mampu membawa muatan hingga 450 pon dan memiliki waktu terbang lebih dari dua hari tanpa henti.

Kemampuan daya tahan panjang itu dinilai penting bagi operasi militer AS di Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pengawasan udara setelah konflik terbaru dengan Iran serta pengawasan jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Sebelumnya, drone ULTRA generasi awal telah menjalani evaluasi operasional di Timur Tengah pada 2024. Dalam salah satu misi, drone tersebut disebut mampu terbang dari Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab menuju Afghanistan dan kembali lagi. Jangkauan itu melampaui kemampuan operasional drone MQ-9 Reaper yang selama ini menjadi tulang punggung pengintaian udara AS di kawasan tersebut.

Meski demikian, MQ-9 Reaper masih menjadi salah satu aset utama militer AS dalam operasi pengawasan dan tempur di Timur Tengah. Kepala Staf Angkatan Udara AS Jenderal Kenneth Wilsbach bahkan menyebut Reaper sebagai “mungkin pemain paling berharga” dalam konflik terbaru melawan Iran.

Pengembangan ULTRA juga berlangsung ketika Angkatan Udara AS tengah mencari pengganti MQ-9 Reaper dengan desain yang lebih murah, mudah diproduksi, dan dapat dioperasikan dalam jumlah besar di lingkungan berisiko tinggi.

Selain drone konvensional, militer AS dalam beberapa tahun terakhir juga mengembangkan berbagai platform pengawasan udara lain, termasuk drone stratosfer dan balon pengintai berketinggian tinggi, untuk memperluas kemampuan ISR di Timur Tengah maupun kawasan Pasifik.

ULTRA vs MQ-9 Reaper: Apa Bedanya?

Selama bertahun-tahun, drone MQ-9 Reaper menjadi salah satu tulang punggung operasi pengawasan dan tempur Amerika Serikat di berbagai kawasan konflik, termasuk Timur Tengah. Drone buatan General Atomics itu dikenal mampu melakukan misi pengintaian sekaligus membawa persenjataan untuk serangan udara.

Namun kini Angkatan Udara AS mulai mencari alternatif baru melalui pengembangan drone ULTRA dan ULTRA Turbo yang diklaim lebih murah, lebih efisien, dan mampu bertahan lebih lama di udara.

Perbedaan paling mencolok antara MQ-9 Reaper dan ULTRA terletak pada daya tahan terbang. MQ-9 Reaper umumnya mampu terbang sekitar 27 hingga 30 jam tergantung konfigurasi misi. Sementara itu, drone ULTRA diklaim dapat bertahan di udara lebih dari 60 hingga 70 jam tanpa henti.

Kemampuan tersebut membuat ULTRA dinilai lebih cocok untuk misi pengawasan jangka panjang di wilayah luas seperti Timur Tengah atau kawasan Pasifik. Drone dapat berada lebih lama di area operasi tanpa harus sering kembali ke pangkalan untuk pengisian bahan bakar.

Selain itu, desain ULTRA yang menyerupai pesawat layang membuat konsumsi bahan bakarnya lebih efisien dibanding drone tempur konvensional seperti Reaper. Faktor ini juga berdampak pada biaya operasional yang lebih rendah.

Bagi militer AS, biaya menjadi pertimbangan penting karena penggunaan drone pengintai terus meningkat di berbagai kawasan konflik. Drone murah dengan daya tahan tinggi memungkinkan pengawasan dilakukan secara terus-menerus tanpa menguras anggaran sebesar penggunaan pesawat tempur atau drone besar bersenjata.

Meski demikian, kemampuan kedua drone memiliki fokus berbeda. MQ-9 Reaper dirancang tidak hanya untuk pengintaian, tetapi juga operasi serangan. Drone ini dapat membawa rudal Hellfire dan bom berpemandu untuk menghantam target di darat.

Sebaliknya, ULTRA lebih difokuskan pada misi ISR (Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance) atau intelijen, pengawasan, dan pengintaian. Drone ini dirancang menjadi “mata di langit” yang memantau pergerakan musuh, aktivitas militer, hingga jalur pelayaran secara berkelanjutan.

ULTRA juga memiliki kemampuan terbang di ketinggian lebih tinggi dibanding Reaper versi standar. Hal tersebut memberi keuntungan dalam memperluas jangkauan sensor sekaligus membantu drone menghindari cuaca buruk.

Di sisi lain, pengalaman perang beberapa tahun terakhir juga menunjukkan bahwa MQ-9 Reaper semakin rentan di wilayah konflik dengan sistem pertahanan udara modern. Sejumlah drone Reaper dilaporkan ditembak jatuh dalam operasi di Timur Tengah.

Kondisi itu membuat militer AS mulai mempertimbangkan kombinasi baru: menggunakan drone murah dan tahan lama seperti ULTRA untuk pengawasan berkelanjutan, sementara aset yang lebih mahal dan bersenjata digunakan untuk operasi tempur tertentu.



MQ9 Reaper Drone – (af.mil)

Risiko di Kawasan Konflik

Meski drone menjadi salah satu tulang punggung operasi militer modern Amerika Serikat, penggunaan pesawat nirawak di kawasan konflik tetap menghadapi risiko besar. Ancaman utama datang dari semakin berkembangnya sistem pertahanan udara negara maupun kelompok bersenjata yang mampu mendeteksi dan menembak jatuh drone pengintai maupun drone tempur.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah drone militer AS dilaporkan jatuh atau ditembak ketika menjalankan operasi di Timur Tengah. Drone MQ-9 Reaper, yang selama ini menjadi andalan pengawasan udara Amerika, termasuk salah satu aset yang dinilai semakin rentan di wilayah dengan ancaman pertahanan udara tinggi.

Kerentanan itu terlihat dalam operasi militer di sekitar Iran dan Yaman. Kelompok Houthi di Yaman beberapa kali mengklaim berhasil menembak jatuh drone AS menggunakan sistem rudal pertahanan udara. Sementara itu, meningkatnya ketegangan dengan Iran juga membuat wilayah udara Timur Tengah menjadi semakin berisiko bagi operasi pengawasan Amerika.

Tantangan terbesar drone modern bukan hanya kemampuan terbang jauh atau bertahan lama di udara, tetapi juga kemampuan bertahan hidup di wilayah yang dipenuhi radar, rudal permukaan-ke-udara, hingga sistem perang elektronik.

Drone seperti MQ-9 Reaper pada dasarnya dirancang untuk operasi pengawasan di lingkungan dengan ancaman terbatas. Namun dalam konflik modern, banyak negara kini memiliki teknologi radar dan rudal yang semakin canggih sehingga drone berukuran besar lebih mudah terdeteksi.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan Angkatan Udara AS mulai mencari alternatif baru melalui pengembangan drone yang lebih murah, lebih fleksibel, dan dapat dioperasikan dalam jumlah besar seperti ULTRA. Strategi ini memungkinkan militer AS tetap mempertahankan pengawasan udara tanpa terlalu bergantung pada satu jenis aset mahal yang berisiko tinggi hilang dalam operasi.

Selain ancaman rudal, drone juga menghadapi risiko gangguan elektronik atau electronic warfare. Sistem komunikasi dan navigasi drone dapat diganggu, diputus, bahkan diretas untuk mengacaukan operasi pengintaian.

Di kawasan seperti Timur Tengah, tantangan tersebut semakin kompleks karena operasi militer sering berlangsung di wilayah luas dengan kondisi cuaca ekstrem, jarak pangkalan yang jauh, serta situasi keamanan yang cepat berubah.

Karena itu, pengembangan drone modern kini tidak lagi hanya berfokus pada daya tahan terbang atau kemampuan sensor, tetapi juga bagaimana pesawat nirawak dapat bertahan di lingkungan perang yang semakin padat teknologi pertahanan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa dominasi udara dalam perang modern tidak lagi sepenuhnya aman bagi drone Amerika. Semakin canggih teknologi pengawasan yang dimiliki satu pihak, semakin berkembang pula teknologi untuk memburu dan menjatuhkannya.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Kisah Pedagang Solo yang Beradaptasi dengan Teknologi, QRIS BRI Tingkatkan Keuntungan

30 Mei 2026

Paus Leo XIV Kecam Penggunaan AI di Medan Perang dalam Ensiklik Magnifica Humanitas

30 Mei 2026

Toyota Veloz Hybrid: Hemat dan Nyaman untuk Aktivitas Harian!

30 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Tips memilih penyedot debu untuk gaya hidup modern

30 Mei 2026

16 Film dan Drama Choi Siwon yang Wajib Ditonton

30 Mei 2026

Antusiasme Tinggi Test Ride di IIMS Surabaya, ALVA Optimis Motor Listrik Digemari Jatim

30 Mei 2026

Drone Mata-Mata AS Terbang 60 Jam Tanpa Mendarat di Wilayah Perang

30 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?