Peningkatan Okupansi Hotel di Sanur Menunjukkan Tren Positif
Kawasan pariwisata Sanur, Denpasar, mengalami peningkatan signifikan dalam tingkat keterisian kamar hotel. Hal ini menunjukkan tren positif menjelang musim puncak kunjungan atau high season. Tingkat okupansi saat ini mencapai rata-rata 75 persen, yang tergolong tinggi untuk periode sebelum musim tinggi.
Direktur Santrian Beach Cottage, Ida Bagus Gede Agung Sidharta Putra, menyebutkan bahwa untuk jaringan Santrian Group sendiri, tingkat okupansi telah mencapai 90 persen. Ini menunjukkan bahwa Sanur memiliki daya tarik yang kuat terhadap wisatawan, bahkan sebelum masa liburan utama.
Faktor Pendorong Peningkatan Okupansi
Beberapa faktor berkontribusi pada peningkatan ini. Pertama, perbaikan infrastruktur kawasan yang dilakukan oleh pemerintah, termasuk revitalisasi pelabuhan dan penataan jalur pedestrian pantai (promenade), memberikan kenyamanan dan akses yang lebih baik bagi pengunjung.
Selain itu, stabilitas permintaan (demand) juga didukung oleh perubahan nilai tukar mata uang. Melemahnya rupiah terhadap dolar membuat biaya berlibur bagi wisatawan mancanegara lebih terjangkau. Misalnya, wisatawan dari Australia dan Amerika Serikat dapat memperoleh keuntungan dari perbedaan kurs ini.
“Jika melihat dari currency, mereka seharusnya bisa berbelanja lebih murah di sini. Dengan 1 dolar mungkin Rp10 ribu dari Australia, atau Rp15 ribu hingga Rp16 ribu dari AS, sekarang dengan kurs yang lebih rendah, mereka dapat memperoleh lebih banyak uang,” jelasnya.
Strategi Pasar untuk Menghadapi Kenaikan Biaya Energi
Meskipun ada kenaikan biaya energi global yang memengaruhi industri pariwisata, situasi ini tidak sepenuhnya merugikan Bali. Perbedaan kurs yang menguntungkan bagi wisatawan tetap menjadi salah satu alasan utama mereka memilih Bali sebagai destinasi liburan.
Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Denpasar mengambil langkah strategis untuk mengantisipasi hambatan dari pasar jarak jauh seperti Eropa dan Amerika. Mereka memfokuskan promosi pada pasar terdekat, khususnya Australia Barat, karena jarak yang lebih dekat dan biaya penerbangan yang lebih murah.
“Strategi kami adalah membidik pasar terdekat. Jika pasar Eropa dan AS terganggu, kami beralih ke Australia. Biaya terbang lebih murah, dan meskipun kurs mereka naik, itu tetap menguntungkan,” tambahnya.
Peremajaan Santrian Group untuk Menyesuaikan Perubahan Pasar
Pada usia 54 tahun, Griya Santrian memulai proses peremajaan (rejuvenating) untuk menghadapi pergeseran karakter pasar. Kini, generasi Milenial dan Gen Z mulai mendominasi pasar pariwisata, sehingga perlu adanya penyesuaian dalam layanan dan fasilitas.
“Kami melakukan peremajaan di kamar-kamar, menggunakan teknologi lebih canggih, serta memperbaiki fasilitas-fasilitas agar sesuai dengan kebutuhan pasar saat ini,” jelasnya.
Mempertahankan Budaya Sanur dalam Era Modern
Meski melakukan modernisasi, Santrian Group tetap berkomitmen untuk mempertahankan marwah pariwisata budaya asli Sanur. Tagline “Embracing Tomorrow” mencerminkan komitmen untuk terus berkembang sambil tetap menjaga akar sejarah dan budaya yang telah dibangun selama 54 tahun.
“Kami menghargai perjalanan kami dari histori dan akar sejarah, tetapi siap menyambut masa depan dengan cara yang lebih modern dan sesuai dengan zamannya,” tutupnya.



