Mengenal Dandhy Dwi Laksono, Sosok di Balik Film Dokumenter “Pesta Babi”
Film dokumenter berjudul Pesta Babi yang dibuat oleh jurnalis Dandhy Dwi Laksono dan peneliti Cyprianus Jehan Paju Dale, telah menarik perhatian publik sekaligus memicu pro dan kontra. Film ini menceritakan tentang konflik lahan, masyarakat adat, serta keterlibatan aparat dalam proyek strategis nasional (PSN). Meski mendapat banyak tanggapan, film ini juga sempat menghadapi pembubaran kegiatan nonton bareng di beberapa daerah.
Latar Belakang Film “Pesta Babi”
Film Pesta Babi direkam dan diproduksi dari tahun 2024 hingga 2025, lalu selesai pada tahun 2026. Film ini dirilis pada April 2026 dan langsung menjadi sorotan. Beberapa aktivis dan pegiat kemanusiaan melakukan kegiatan nonton bareng, namun kegiatan tersebut dibubarkan di beberapa lokasi, termasuk di kampus Universitas Islam Negeri Mataram.
Di akun Instagram pribadi Dandhy Laksono, @dandhy_laksono, terdapat informasi tentang kegiatan nobar film Pesta Babi yang dilakukan di berbagai tempat seperti sekolah di Garut, Bimbel di Bandung, hingga universitas di Nusa Tenggara Barat (NTB). Selain itu, ada unggahan tentang pembubaran nobar film tersebut.
Profil Dandhy Dwi Laksono
Dandhy Dwi Laksono lahir pada 29 Juni 1976, sehingga saat ini ia berusia 50 tahun. Ia adalah lulusan Sarjana Hubungan Internasional dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain itu, Dandhy pernah mengikuti pendidikan non-formal dari beberapa kampus luar negeri, seperti Ohio University Internship Program on Broadcast Journalist Conflict, Amerika Serikat (2007) dan British Council Broadcasting Program, London (2008).
Karier Dandhy dimulai di bidang jurnalisme pada 1998 ketika ia bergabung dengan Tabloid Kapital sebagai reporter. Semasa berkarier, ia pernah bekerja di berbagai media massa, baik cetak maupun online, seperti Liputan6 SCTV, ABC Radio Australia, RCTI, hingga First Media News.
Karya-Karya Jurnalis Investigatif Dandhy Dwi Laksono
Dandhy dikenal dengan karya jurnalisme investigasinya, yang mencakup karya tulis dan film dokumenter. Pada tahun 2009, ia mendirikan Watchdoc, sebuah rumah produksi yang menayangkan film dokumenter. Salah satu film yang disutradarai Dandhy adalah Dirty Vote, yang membahas penyelenggaraan pemilihan pemimpin.
Selain itu, melalui rumah produksi WatchDoc, Dandhy Laksono merilis film berjudul Ketujuh pada 2014. Pada 2017, ia menjadi sosok di balik film Jakarta Unfair yang dirilis menjelang Pilkada DKI Jakarta. Karya lainnya adalah Sexy Killers, yang dirilis sebelum pemilihan umum Indonesia 2019 dan mendokumentasikan kolusi antara elit politik dan industri pertambangan batu bara yang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan.
Isi Film Dokumenter “Pesta Babi”
Judul lengkap film ini adalah Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita. Film ini direkam dan diproduksi selama dua tahun di wilayah Papua Selatan, mencakup Kabupaten Merauke, Boven Digoel, dan Mappi. Film ini mengangkat kisah nyata dan investigasi mendalam tentang perjuangan empat kelompok masyarakat adat, yaitu Suku Marind, Yei, Awyu, dan Muyu, yang hidup dan bergantung sepenuhnya pada hutan, sungai, dan tanah leluhur mereka.
Film ini membuka dengan pemandangan kuat dan penuh makna: puluhan laki-laki adat memanggul batang kayu besar sepanjang puluhan meter, mengaraknya melintasi hutan, lalu menancapkannya menjadi simbol salib merah di tengah wilayah adat mereka. Ini bukan sekadar ritual biasa, melainkan pernyataan perlawanan tegas, ditampilkan beriringan dengan rekaman pembabatan hutan yang masif.
Proyek ini merencanakan konversi total seluas 2,5 juta hektare lahan menjadi perkebunan industri sawit dan tebu. Film ini tidak hanya bercerita tentang kerusakan lingkungan, tetapi juga mengungkap mekanisme kerja kekuasaan: bagaimana kebijakan negara, kepentingan korporasi besar, dan kehadiran militer bergabung menjadi satu kekuatan yang membuat masyarakat adat seolah tidak punya hak berbicara di tanah kelahiran mereka sendiri.
Makna “Pesta Babi” dalam Budaya Papua
Nama “Pesta Babi” diambil dari tradisi adat paling sakral dan penting bagi masyarakat Papua. Bagi mereka, babi bukan sekadar hewan ternak, melainkan simbol kekayaan, persaudaraan, kehormatan, dan hubungan erat antara manusia dengan alam serta leluhur. Ritual pesta babi biasanya digelar untuk merayakan keberhasilan, menyelesaikan perselisihan, atau mengikat persahabatan antar suku.
Namun dalam film ini, makna itu berubah menjadi simbol perlawanan dan kesedihan: ketika tanah tempat mereka mencari makan, berburu, dan merawat ternak dirampas, maka identitas, budaya, dan masa depan mereka pun ikut terancam punah.
Penutup
Film Pesta Babi bukan sekadar dokumenter tentang Papua, melainkan cermin tentang bagaimana kekuasaan dan kepentingan ekonomi bisa mengubah nasib suatu bangsa. Film ini juga menjadi bukti bahwa di mana pun tanah dirampas, akan selalu ada mereka yang berani bertahan dan berjuang demi tanah leluhur.


