Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Rabu, 17 Juni 2026
Trending
  • 50 Soal SBdP Kelas 2 SD Semester 2 2026 Kurikulum Merdeka dan Jawaban
  • Sirkuit Drag Bike Kelud Resmi Dibuka di Turbo Kejurnas 2026, Heboh Ratusan Biker
  • Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai
  • Celios: Skema Pajak Baru Ancam Pertumbuhan UMKM
  • 6 Berita Pilihan Hari Ini: Pelaku Penusukan Batam Ditangkap Saat Laporan Kasus Lain
  • Hari Ini Prabowo Lantik Nanik S Deyang Sebagai Kepala BGN dan Dua Wakilnya
  • Persija Umumkan Pelatih Baru Hari Ini, Shin Tae-yong Gantikan Mauricio Souza
  • Kolang-kaling Kalikesek: Camilan Khas Limbangan Kendal
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Membedah Perbedaan Ramadhan di Belitung Abad ke-19 dan Era Digital
Teknologi

Membedah Perbedaan Ramadhan di Belitung Abad ke-19 dan Era Digital

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover25 Februari 2026Tidak ada komentar3 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Perbedaan Ramadan di Belitung: Dari Masa Lalu Hingga Era Digital

Ramadan di Belitung pada abad ke-19 dan tahun 2026 menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan, terutama dalam hal akses informasi dan teknologi. Dulu, masyarakat Muslim di Belitung harus berjuang untuk mendapatkan naskah Al-Qur’an, sementara kini kitab suci tersebut bisa ditemukan dengan mudah melalui perangkat ponsel.

Wahyu Kurniawan, Kurator Museum Pemkab Beltim, memberikan analisis menarik tentang keterbatasan akses literasi agama di masa lalu. Pada abad ke-19, pengetahuan masyarakat Belitung terhadap isi Al-Qur’an masih minim. “Dulu, pengetahuan Al-Qur’an terbatas bukan karena masyarakat tidak mau belajar, tapi karena fisik kitabnya sendiri sangat langka. Mencetak kitab di abad ke-19 adalah hal yang sulit dan mahal,” ujarnya.

Bisa dibayangkan, dalam satu desa atau keluarga, mungkin tidak tersedia satu pun Al-Qur’an. Literasi agama lebih banyak disampaikan secara lisan dari para pemimpin seperti Depati atau Ngabehi yang memiliki akses terhadap pendidikan agama. Kondisi ini sangat jauh berbeda dengan era sekarang. Wahyu menekankan bahwa saat ini, Al-Qur’an bisa diakses secara gratis melalui aplikasi di setiap handphone.

“Zaman sekarang, kitab itu bisa saja ada di setiap HP. Ada aplikasi gratis dari Kemenag maupun organisasi Islam lainnya. Harusnya kemampuan kita untuk mempelajari Al-Qur’an jauh lebih intens daripada orang zaman dulu,” ucapnya.

Selain akses literasi, teknologi penanda waktu juga mengalami perubahan drastis. Dulu, masyarakat Belitung harus memantau waktu berbuka dan imsak secara mandiri di pondok-pondok mereka atau yang disebut kelekak. Belum ada sirine pabrik atau pengeras suara masjid yang menggema ke seluruh penjuru. Setiap keluarga harus melihat tanda-tanda alam atau perhitungan manual untuk menentukan jam berbuka.

“Dulu tidak ada peluit, jadi tiap keluarga harus mandiri melihat jam berbuka masing-masing. Sekarang, bantuan teknologi sudah sangat memudahkan kita,” katanya.

Meskipun fasilitas zaman dulu sangat terbatas, Wahyu mencatat satu hal yang tidak boleh luntur, yaitu semangat dalam beribadah. Orang zaman dulu, meskipun kitabnya sedikit, ketaatannya pada ibadah seperti puasa sangat luar biasa. Perbandingan ini menjadi pengingat bagi generasi sekarang agar tidak menyia-nyiakan kemudahan teknologi yang ada. Akses yang mudah terhadap Al-Qur’an seharusnya disertai dengan intensitas membaca yang lebih tinggi.

Wahyu berharap kemudahan digital ini membuat masyarakat saat ini bisa lebih baik dari generasi sebelumnya dalam hal spiritual. “Pesan untuk generasi sekarang adalah manfaatkan teknologi itu untuk mengakses Al-Qur’an seintens mungkin, melebihi kemampuan orang tua kita dulu yang ingin baca tapi kitabnya tidak ada,” ungkapnya.

Transformasi dari era naskah fisik yang langka ke era digital ini menunjukkan kemajuan, namun tidak menghilangkan inti dari Ramadhan. Teknologi harusnya menjadi alat untuk memperdalam pemahaman agama, bukan justru menjadi instrumen yang menjauhkan jemaah dari ketakwaan. Wahyu juga membeberkan bagaimana media kolonial di masa lalu hanya mencatat peristiwa besar secara umum, sementara sekarang setiap momen Ramadhan bisa didokumentasikan dengan detail oleh masyarakat sendiri.

“Dokumentasi sejarah ini penting agar anak cucu kita di masa depan tahu bagaimana kita menjalankan Ramadan di tahun 2026 ini,” ucapnya.

Satu hal yang tetap bertahan dari abad ke-19 hingga era digital adalah kebersamaan masyarakat Belitung dalam menyambut bulan puasa. Meskipun caranya berbeda, esensi kegembiraannya tetap sama. Sebagai penutup, Wahyu mengajak seluruh masyarakat untuk bersyukur atas kemudahan teknologi saat ini dengan cara meningkatkan kualitas interaksi dengan kitab suci selama bulan Ramadan. Jangan sampai kemudahan akses justru membuat lalai untuk lebih taat di bulan yang penuh berkah ini.


Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai

13 Juni 2026

Itel A100 Pro: Smartphone Murah dengan Performa Tinggi dan Baterai Tahan Lama

13 Juni 2026

Aksesori Pemain Mobile 2026, Bukan HP Mahal yang Jadi Andalan

13 Juni 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

50 Soal SBdP Kelas 2 SD Semester 2 2026 Kurikulum Merdeka dan Jawaban

13 Juni 2026

Sirkuit Drag Bike Kelud Resmi Dibuka di Turbo Kejurnas 2026, Heboh Ratusan Biker

13 Juni 2026

Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai

13 Juni 2026

Celios: Skema Pajak Baru Ancam Pertumbuhan UMKM

13 Juni 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?