Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 12 April 2026
Trending
  • BBWS Brantas Gelar Rapat Monev 2026, Fokus Percepatan Program dan Antisipasi Bencana
  • JW Group Perkuat Sinergitas Lewat Halalbihalal Bernuansa Jawa Kuno
  • Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?
  • Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular
  • Sinyal Kuat Timnas Indonesia: Dua Bintang Luar Negeri Bergabung dengan FCV Dender
  • Makna Nama Anak AHY dan Annisa Pohan: Filosofi Kuat Arjuna Hanyokrokusumo Yudhoyono
  • Tumpukan Sampah 6 Meter di Pasar Induk Kramat Jati Ganggu Pengunjung
  • 5 Shio Paling Beruntung Bulan April 2026, Kaya dan Berkembang
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Teknologi»Lihat Pabrik Data Digital Edge di Bekasi dengan Investasi Rp75,38 Triliun
Teknologi

Lihat Pabrik Data Digital Edge di Bekasi dengan Investasi Rp75,38 Triliun

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover4 Februari 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link



Indonesiadiscover.com, JAKARTA — Digital Edge mengumumkan rencananya untuk membangun pusat data (data center) hyperscale berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dengan kapasitas awal 500 megawatt (MW) di Greenland International Industrial Center (GIIC) Industrial Estate, Bekasi. Proyek ini diberi nama CGK Campus dan akan menelan total investasi sebesar US$4,5 miliar atau sekitar Rp75,38 triliun.

CEO Digital Edge John Freeman menyatakan bahwa CGK Campus merupakan langkah penting dalam strategi perusahaan di Asia Pasifik dan menjadi investasi infrastruktur terbesar yang pernah dilakukan oleh Digital Edge. Ia menegaskan bahwa proyek ini akan memperkuat kesiapan Indonesia dalam menghadapi lonjakan permintaan layanan digital, cloud, dan AI di tahun-tahun mendatang.

Permintaan kapasitas pusat data di Indonesia meningkat pesat seiring pertumbuhan layanan digital, komputasi awan (cloud), dan pemanfaatan AI di berbagai industri. Dengan potensi ekspansi hingga 1 gigawatt (GW), CGK Campus dirancang menjadi salah satu fasilitas hyperscale terbesar dan paling strategis di Indonesia.

CEO Digital Edge Indonesia Stephanus Oscar menambahkan bahwa kebutuhan infrastruktur digital nasional telah tumbuh lebih cepat dari ketersediaannya. CGK Campus hadir untuk menjawab kebutuhan tersebut dengan menyediakan kapasitas 500 MW yang berkelanjutan dan siap untuk deployment hyperscale serta AI dalam skala besar.

CGK Campus akan didukung oleh jaringan fiber dan infrastruktur Indonet, anak perusahaan Digital Edge di Indonesia. Menurut CEO Indonet Andy Rigoli, infrastruktur ini akan menjadi fondasi konektivitas CGK Campus.

Fasilitas ini dirancang dengan standar efisiensi dan keberlanjutan tinggi, mulai dari target annualized power usage effectiveness (PUE) 1,25, penerapan teknologi direct-to-chip liquid cooling untuk mendukung beban kerja AI berintensitas tinggi, hingga penggunaan sistem daur ulang air dan integrasi energi terbarukan. Selain itu, CGK Campus juga mengusung arsitektur carrier-neutral untuk memastikan fleksibilitas konektivitas dan akses ke ekosistem jaringan yang lebih luas.

Lokasi kampus ini berada kurang dari 15 kilometer (km) dari klaster pusat data utama di kawasan tersebut dan sekitar 40 km dari fasilitas pusat data EDGE1 dan EDGE2. Lokasi ini menawarkan konektivitas latensi rendah ke pusat bisnis Jakarta.

Pembangunan CGK Campus akan dilakukan secara bertahap. Gedung pertama ditargetkan siap beroperasi pada kuartal IV 2026, diikuti gedung kedua pada kuartal I 2027, dan gedung ketiga pada kuartal II 2027. Seluruh rute baru menuju GIIC dibangun sepenuhnya di bawah tanah untuk meningkatkan keandalan dan ketahanan jaringan. Didukung perangkat berstandar tinggi dan pemantauan canggih, integrasi ini memastikan solusi carrier-neutral yang siap memenuhi kebutuhan hyperscale dan enterprise.

Sebelumnya, Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) memperkirakan tren pembangunan data center di Indonesia akan mengalami pergeseran dalam lima tahun mendatang, dari kawasan pusat kota (in-town) menuju wilayah pinggiran atau sub-urban.

Ketua IDPRO Hendra Suryakusuma menyatakan bahwa saat ini pembangunan data center di pusat kota, khususnya Jakarta, masih sangat intens. Namun, dalam jangka menengah hingga panjang, sekitar tiga hingga sepuluh tahun ke depan, arah pembangunan diprediksi bergeser ke luar kota.

Hendra menjelaskan bahwa pergeseran ini dipicu oleh berbagai pertimbangan, terutama harga tanah di Jakarta yang sudah sangat tinggi serta keterbatasan kapasitas energi dan lahan di ibu kota. Wilayah seperti Bekasi, Jababeka, Karawang, dan Tangerang kini menjadi magnet baru bagi pelaku industri data center karena dukungan infrastruktur kelistrikan dan konektivitas yang memadai. Selain itu, kawasan ekonomi khusus (special economic zone) seperti Nongsa Digital Park di Batam juga menjadi daya tarik tersendiri.

Di Nongsa Digital Park, 42 hektare khusus untuk pelaku industri data center. Ada sembilan pemain di sana dan lahannya sudah laku semua. Wilayah seperti Nongsa menarik karena tidak ada import duty [bea masuk], tidak ada pajak penambahan nilai, dan hal ini menarik bagi pelaku industri.

Meski demikian, Hendra menilai model hybrid kemungkinan menjadi pola dominan dalam pengembangan data center di masa depan. Artinya, pemain besar akan tetap memiliki fasilitas di pusat kota untuk memenuhi kebutuhan latency dan compliance, sementara pembangunan skala besar diarahkan ke wilayah sub-urban.

Beberapa proyek hyperscale mulai terlihat di kawasan industri seperti Deltamas, Surya Cipta, Cibitung, dan Jababeka. Hendra mencontohkan Damac Digital yang membangun fasilitas keduanya di Deltamas dengan kapasitas mencapai 200 MW.

Sementara itu, untuk data center in-town, di Jakarta saat ini terdapat sekitar 25 pemain yang membangun fasilitas, seperti DCI, SM+, Damac Digital, hingga Equinix. Hendra memperkirakan kapasitas daya (power capacity) pusat data di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dalam dua hingga tiga tahun terakhir. Dia menjelaskan lonjakan pembangunan data center in-town didorong oleh tiga faktor utama, yakni regulasi domestikasi data, kebutuhan latency rendah, dan pertumbuhan layanan digital seperti fintech, perbankan, e-commerce, dan ojek online.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Notifikasi WhatsApp Tidak Muncul? Ini Penyebab dan Solusinya

7 April 2026

Harga HP Samsung Terbaru: Galaxy A57 5G, A37 5G, S26 Plus, dan S25 FE

7 April 2026

iPhone SE 3 Dihentikan, Harga Melonjak Turun Drastis di Awal April 2026

7 April 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

BBWS Brantas Gelar Rapat Monev 2026, Fokus Percepatan Program dan Antisipasi Bencana

10 April 2026

JW Group Perkuat Sinergitas Lewat Halalbihalal Bernuansa Jawa Kuno

10 April 2026

Tiga prajurit Indonesia tewas dalam 24 jam di Lebanon, saatnya mundur?

7 April 2026

Arus balik bandara Minangkabau membludak, antrean check-in mengular

7 April 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?