Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Senin, 15 Juni 2026
Trending
  • 50 Soal SBdP Kelas 2 SD Semester 2 2026 Kurikulum Merdeka dan Jawaban
  • Sirkuit Drag Bike Kelud Resmi Dibuka di Turbo Kejurnas 2026, Heboh Ratusan Biker
  • Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai
  • Celios: Skema Pajak Baru Ancam Pertumbuhan UMKM
  • 6 Berita Pilihan Hari Ini: Pelaku Penusukan Batam Ditangkap Saat Laporan Kasus Lain
  • Hari Ini Prabowo Lantik Nanik S Deyang Sebagai Kepala BGN dan Dua Wakilnya
  • Persija Umumkan Pelatih Baru Hari Ini, Shin Tae-yong Gantikan Mauricio Souza
  • Kolang-kaling Kalikesek: Camilan Khas Limbangan Kendal
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Daerah»Legitimasi Wapres Gibran Kuat, Publik Diminta Tak Terjebak Propaganda Politik
Daerah

Legitimasi Wapres Gibran Kuat, Publik Diminta Tak Terjebak Propaganda Politik

Redaksi Indonesia DiscoverBy Redaksi Indonesia Discover29 Juni 2025Tidak ada komentar2 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Indonesiadiscover.com, Jakarta  Jaringan Aktivis Nusantara ( JAIN) di zaman Resto menggelar diskusi publik berlangsung di Jakarta pada Minggu (29/6/2025)

Diskusi publik yang bertajuk, “Dinamika Politik Indonesia Hari Ini, Legitimasi Wakil Presiden, dan Propaganda Asing”.

Dikesempatan itu menghadirkan  sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang, dari aktivis pemuda, akademisi, hingga pengamat politik.

Ketua Umum DPP KNPI, Putri Khairunnisa dalam forum itu  menyampaikan bahwa posisi Wakil Presiden terpilih, Gibran Rakabuming Raka, tidak seharusnya dipersoalkan secara hukum maupun politik.

“Pasangan Prabowo-Gibran telah meraih mandat jelas dari rakyat. Legitimasi itu sah, bukan untuk terus dipertanyakan,” ujar Putri.

Ia juga menyinggung kecenderungan narasi spekulatif yang mengarah pada pemakzulan. Menurutnya, wacana seperti ini bisa merusak kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi dan pemerintahan yang baru terbentuk. “Pemilu sudah selesai, sekarang waktunya kita kawal pemerintahan dengan narasi yang sehat,” tambahnya.

JAN sebagai penyelenggara forum menyampaikan bahwa diskusi ini bagian dari kontribusi masyarakat sipil untuk merespons dinamika politik secara terbuka namun tetap konstruktif.

“Kami ingin ruang publik tetap cair dan produktif. Tapi jangan sampai jadi ruang propaganda yang mengancam stabilitas,” jelas moderator dari JAN.

Sementara itu, penulis dan pengamat politik Ali Sadikin menyoroti potensi tekanan sosial-politik di luar konstitusi. Ia menilai bahwa sejarah politik Indonesia tak sedikit diwarnai transisi kekuasaan yang tak selalu melalui jalur formal.

“Politik selalu punya celah. Tapi bukan berarti celah itu harus dijadikan agenda,” ujarnya.

Penguatan disampaikan pula oleh Bambang Hermansyah, akademisi dari Universitas Ibnu Chaldun. Ia menekankan bahwa tantangan demokrasi ke depan bukan hanya soal legitimasi hasil pemilu, tapi juga kemampuan negara melindungi persepsi publik dari serangan informasi.

“Propaganda asing bukan isu fiksi. Kita melihat bagaimana narasi-narasi asing bisa memengaruhi opini publik dalam waktu singkat,” kata Bambang.

Ia mendorong penguatan literasi digital dan komunikasi politik yang berakar dari nilai lokal. Menurutnya, pemuda, media, dan organisasi sipil harus berada di garis depan untuk menangkal disinformasi.

“Kalau tidak diperkuat, kita bisa kehilangan arah dalam memahami isu yang sesungguhnya,” lanjutnya.

Diskusi berjalan dinamis dengan partisipasi dari aktivis mahasiswa dan penggiat media sosial. Mereka menyuarakan pentingnya membangun narasi publik yang sehat dan tidak larut dalam provokasi digital.

Memungkasi acara forum dengan penegasan bahwa demokrasi bukan hanya soal menang atau kalah di bilik suara, tetapi tentang kemampuan masyarakat menjaga kewarasan dan orientasi kebangsaan. JAN menekankan bahwa ruang kritik harus tetap terbuka, namun tidak untuk menyulut ketidakpercayaan terhadap sistem demokrasi itu sendiri.(*)

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Redaksi Indonesia Discover

    Berita Terkait

    Perbedaan Sepatu Lari Race dan Umum

    8 Juni 2026

    Naskah khutbah Jumat besok 5 Juni 2026: Hijrah dari kebiasaan yang membawa kerugian

    7 Juni 2026

    Rusaknya akses Randublatung-Cepu: Sampai ke telinga Ahmad Luthfi, diusulkan jadi jalan nasional

    7 Juni 2026
    Leave A Reply Cancel Reply

    Berita Terbaru

    50 Soal SBdP Kelas 2 SD Semester 2 2026 Kurikulum Merdeka dan Jawaban

    13 Juni 2026

    Sirkuit Drag Bike Kelud Resmi Dibuka di Turbo Kejurnas 2026, Heboh Ratusan Biker

    13 Juni 2026

    Alasan Kuat Sekolah di Tanahlaut Kalsel Tahan 3 Ponsel Siswa Hingga Ujian Selesai

    13 Juni 2026

    Celios: Skema Pajak Baru Ancam Pertumbuhan UMKM

    13 Juni 2026
    © 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
    • Home
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • PT. Indonesia Discover Multimedia
    • Indeks Berita

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

    Sign In or Register

    Welcome Back!

    Login to your account below.

    Lost password?