Ledakan Permintaan Cip Akibat Kecerdasan Buatan
Permintaan cip dunia kini begitu besar hingga pasokannya tidak lagi mampu mengejar. Di tengah ledakan investasi kecerdasan buatan (AI), pasar semikonduktor global diproyeksikan menembus rekor 1,51 triliun dolar AS (Rp24.000 T) pada 2026. Pernyataan ini datang dari ASML, produsen peralatan semikonduktor terbesar dunia yang menjadi pemasok utama pabrik-pabrik cip global.
Organisasi industri World Semiconductor Trade Statistics (WSTS) memperkirakan pasar semikonduktor global akan melonjak 89,9 persen pada 2026 dibanding tahun sebelumnya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding proyeksi yang mereka keluarkan pada Desember lalu. Saat itu pasar hanya diperkirakan mencapai 975 miliar dolar AS. Kini proyeksinya melesat menjadi 1,51 triliun dolar AS. Selisihnya mencapai lebih dari setengah triliun dolar AS.
Apa yang membuat perkiraan industri teknologi dunia berubah sedrastis itu? Jawabannya mengarah ke satu sektor yang sedang menyedot investasi dalam jumlah luar biasa: AI. Perusahaan-perusahaan teknologi terus membangun pusat data baru, memasang ribuan server, dan memperbesar kapasitas komputasi untuk melatih serta menjalankan model AI generatif. Ekspansi tersebut berlangsung jauh lebih cepat dibanding perkiraan sebelumnya.
Dampaknya langsung terlihat pada kebutuhan cip memori. WSTS memperkirakan pasar cip memori akan melonjak sekitar 3,5 kali lipat menjadi 803,94 miliar dolar AS pada 2026. Nilainya bahkan melampaui total produk domestik bruto sejumlah negara maju. Namun proyeksi itu ternyata bukan sekadar hitungan di atas kertas. ASML pada Rabu melaporkan penjualan bersih kuartal pertama 2026 mencapai 8,8 miliar euro atau sekitar 10,4 miliar dolar AS, naik 13 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Laba bersih perusahaan juga menembus 2,7 miliar euro, melonjak 17 persen secara tahunan.
Lebih penting lagi, pelanggan-pelanggan ASML mulai memberikan sinyal yang sangat jelas. “Pelanggan kami mempercepat rencana perluasan kapasitas untuk tahun 2026 dan seterusnya,” kata Presiden dan CEO ASML Christophe Fouquet. Seorang staf mendemonstrasikan sepasang sarung tangan yang kompatibel dengan Metaverse selama pameran. – (EPA-EFE/RITCHIE B. TONGO)

Pengunjung berbincang di samping prototipe drone yang dipamerkan dalam Konvensi Sains Teknologi dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga), Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat, Kamis (7/8/2025). Pameran tersebut menampilkan berbagai capain hasil riset dan terobosan dari ilmuwan, perguruan tinggi dan lembaga nasional di delapan sektor prioritas antara lain energi, pertahanan, digitalisasi (kecerdasan buatan dan semikonduktor), hilirisasi, kesehatan, pangan, maritim, serta material dan manufaktur maju sebagai penguatan sains, teknologi serta industri di Indonesia. – (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Menurut dia, dalam beberapa bulan terakhir pelanggan bahkan meningkatkan proyeksi permintaan jangka pendek maupun menengah terhadap produk-produk ASML. Artinya, pabrik-pabrik cip dunia sedang bersiap memproduksi lebih banyak semikonduktor dibanding yang diperkirakan sebelumnya.
Seberapa besar keyakinan industri terhadap tren ini? ASML kini memperkirakan penjualan sepanjang 2026 berada di kisaran 36 miliar hingga 40 miliar euro, dengan margin kotor mencapai 51 hingga 53 persen. Proyeksi tersebut memperkuat pandangan bahwa ledakan investasi AI masih jauh dari selesai. Bahkan perusahaan yang awal tahun ini mengumumkan pemangkasan sekitar 1.700 pekerja itu tetap memperkirakan 2026 sebagai tahun pertumbuhan di seluruh segmen bisnisnya.
Jika memori menjadi bahan bakarnya, maka cip logika menjadi otaknya. Segmen semikonduktor logika yang menjalankan fungsi pemrosesan data diproyeksikan tumbuh 37,3 persen menjadi 411,37 miliar dolar AS. Komponen inilah yang menjadi jantung server AI, pusat data, kendaraan pintar, hingga perangkat elektronik generasi terbaru.
Lalu wilayah mana yang paling menikmati ledakan ini? Amerika diperkirakan mencatat pertumbuhan terbesar dengan nilai pasar mencapai 543,65 miliar dolar AS, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Namun pusat gravitasi industri cip dunia tetap berada di Asia. Kawasan Asia-Pasifik diproyeksikan mencapai 823,90 miliar dolar AS pada 2026, naik 87,4 persen dalam setahun. Nilai tersebut jauh melampaui kawasan lain dan menegaskan posisi Asia sebagai tulang punggung rantai pasok semikonduktor global.
Ternyata gelombang ini belum mencapai puncaknya. WSTS memperkirakan pasar cip global masih akan tumbuh 26,6 persen lagi pada 2027 hingga menyentuh 1,91 triliun dolar AS. Investasi AI diperkirakan tetap deras mengalir, sementara sektor otomotif dan industri lain terus meningkatkan kebutuhan semikonduktor.
Padahal baru pada 2025 nilai pasar semikonduktor global masih berada di level 795,64 miliar dolar AS. Dalam waktu hanya dua tahun, industri ini diproyeksikan melompat dari kurang dari 800 miliar dolar AS menjadi hampir 2 triliun dolar AS. Ketika perusahaan-perusahaan terbesar dunia berlomba membangun pusat data dan produsen chip mengaku tak mampu mengejar permintaan, pertanyaannya kini bukan lagi apakah AI akan mengubah ekonomi global, melainkan seberapa besar perubahan itu akan terjadi.
Segelintir Perusahaan Ini Sedang Menguasai Bisnis Triliunan Dolar
Di balik ledakan pasar semikonduktor menuju 1,51 triliun dolar AS, hanya segelintir perusahaan yang menikmati porsi keuntungan terbesar. Mereka bukan sekadar produsen chip. Mereka adalah perusahaan yang mengendalikan hampir seluruh rantai pasok teknologi AI dunia.
Nama yang paling sering disebut tentu Nvidia. Perusahaan asal Amerika Serikat itu menjadi pemasok utama chip AI yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model kecerdasan buatan generatif. Dari ChatGPT hingga berbagai platform AI milik perusahaan teknologi besar, sebagian besar bergantung pada chip buatan Nvidia. Namun Nvidia tidak bekerja sendirian. Di belakang layar, ada Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC), perusahaan yang memproduksi sebagian besar chip canggih Nvidia. Tanpa fasilitas manufaktur TSMC di Taiwan, banyak chip AI paling mutakhir saat ini tidak akan pernah sampai ke pasar.
Lalu ada satu perusahaan yang bahkan lebih sulit digantikan. ASML dari Belanda menjadi satu-satunya produsen mesin litografi ultraviolet ekstrem (EUV) yang digunakan untuk membuat chip paling canggih di dunia. Mesin ini memiliki harga ratusan juta dolar AS per unit dan terdiri atas ribuan komponen presisi tinggi. Tanpa teknologi ASML, produksi chip generasi terbaru praktis tidak mungkin dilakukan.
Karena itu, ketika ASML mengatakan permintaan chip kini melampaui pasokan, pernyataan tersebut menjadi perhatian seluruh industri teknologi global. Dominasi tidak berhenti di sana. Ledakan AI juga mendorong lonjakan kebutuhan cip memori yang berfungsi menyimpan dan memproses data dalam jumlah sangat besar. Di sektor ini, perusahaan Korea Selatan SK Hynix muncul sebagai salah satu pemenang terbesar. Produknya banyak digunakan dalam sistem AI berperforma tinggi yang membutuhkan kecepatan transfer data ekstrem.
Perusahaan Amerika Serikat Micron Technology juga menikmati peningkatan permintaan serupa. Produsen memori tersebut terus memperluas kapasitas produksi untuk memenuhi kebutuhan pusat data dan infrastruktur AI yang tumbuh pesat. Sementara itu, perusahaan Jepang Kioxia mendapatkan manfaat dari melonjaknya kebutuhan penyimpanan data global. Bahkan, perusahaan tersebut memperkirakan laba bersih kuartalan meningkat lebih dari 47 kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.
Jika digabungkan, perusahaan-perusahaan ini menguasai titik-titik paling penting dalam industri semikonduktor modern: mulai dari desain cip, produksi wafer, mesin manufaktur, hingga memori penyimpanan data. Posisi mereka begitu strategis sehingga hampir setiap investasi AI bernilai miliaran dolar yang diumumkan saat ini pada akhirnya akan bermuara pada produk atau layanan yang mereka sediakan.
Di Balik Ledakan AI, Ada Perang Teknologi yang Kian Memanas
Di saat pasar semikonduktor global diproyeksikan melesat menuju 1,51 triliun dolar AS, pertarungan yang lebih besar sedang berlangsung di balik layar. Ini bukan sekadar persaingan bisnis. Ini adalah perebutan kendali atas teknologi yang diyakini akan menentukan kekuatan ekonomi, militer, dan politik dunia pada dekade mendatang.
Amerika Serikat dan China kini terlibat dalam perang cip yang semakin sengit. Bukan dengan tank atau rudal, melainkan melalui pembatasan ekspor, kontrol teknologi, dan perlombaan menguasai kecerdasan buatan (AI). Washington memandang semikonduktor canggih sebagai aset strategis yang tidak boleh dengan mudah diakses pesaing geopolitiknya. Karena itu, dalam beberapa tahun terakhir pemerintah AS memperketat pembatasan ekspor cip AI tercanggih serta peralatan produksi semikonduktor ke China. Langkah tersebut juga melibatkan sekutu-sekutunya, termasuk Belanda dan Jepang, yang menguasai teknologi penting dalam rantai pasok semikonduktor global.
Dampaknya langsung terasa. Perusahaan-perusahaan China menghadapi kesulitan lebih besar untuk memperoleh cip AI paling mutakhir dan mesin produksi semikonduktor generasi terbaru. Padahal teknologi tersebut menjadi fondasi pengembangan pusat data, komputasi awan, kendaraan otonom, hingga sistem pertahanan modern. Namun tekanan itu tidak membuat Beijing mundur. Sebaliknya, China mempercepat investasi untuk membangun industri semikonduktor dalam negeri. Pemerintah menggelontorkan dana miliaran dolar guna mendukung pengembangan cip lokal, memperkuat riset teknologi, dan mengurangi ketergantungan pada pemasok asing.
Taruhannya sangat besar. Negara yang menguasai teknologi AI diyakini akan memiliki keunggulan dalam ekonomi digital, manufaktur, kesehatan, keamanan siber, hingga kemampuan militer generasi berikutnya. Karena itu, semikonduktor kini sering disebut sebagai “minyak baru” abad ke-21. Perebutannya tidak hanya melibatkan perusahaan teknologi, tetapi juga pemerintah, regulator, dan lembaga keamanan nasional.
Konsekuensinya mulai terlihat pada peta industri global. Produsen semikonduktor berlomba membangun pabrik baru di Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara lain untuk mengurangi risiko geopolitik. Perusahaan teknologi juga berupaya mendiversifikasi rantai pasok agar tidak terlalu bergantung pada satu wilayah. Meski demikian, dunia belum menemukan jalan keluar yang mudah. Industri semikonduktor modern sangat kompleks dan saling terhubung. Sebuah cip canggih bisa dirancang di Amerika Serikat, diproduksi di Taiwan, menggunakan mesin dari Belanda, bahan dari Jepang, lalu dipasarkan ke seluruh dunia.
Itulah sebabnya setiap kebijakan baru dari Washington atau Beijing langsung mengguncang pasar global. Ketika permintaan cip terus melonjak akibat ledakan AI, perang teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia itu berpotensi semakin memanas. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang mampu membuat cip paling canggih, melainkan siapa yang akan mengendalikan teknologi yang membentuk masa depan dunia.

