Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Minggu, 24 Mei 2026
Trending
  • 6 Tim Inggris Lolos ke Liga Champions 2026/27 Usai Aston Villa Juara Europa, Liverpool Jadi Kuncinya
  • Harga Tiket Aviary Park dan Paket Liburan Keluarga
  • 5 alasan sakit kepala saat cuaca panas yang sering diabaikan
  • 5 Berita Terpopuler: Alasan Calvin Dores Jual Mata; Tantri Debut Solo “Ibu Pekerja”
  • Kopdes Merah Putih Bikin Investor Khawatir Masuk Saham Ritel, AMRT-DNET Terkena Dampak?
  • Parkir Cirebon Berubah, BRIZZI Dorong Era Tanpa Uang Tunai!
  • Honda BeAT Street 2026 Tampil Menarik dengan Warna dan Fitur Menggoda
  • 10 Bintang K-pop Paling Berharga, Kekayaan dari Karier Hebat
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Kopdes Merah Putih Bikin Investor Khawatir Masuk Saham Ritel, AMRT-DNET Terkena Dampak?
Ekonomi

Kopdes Merah Putih Bikin Investor Khawatir Masuk Saham Ritel, AMRT-DNET Terkena Dampak?

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover24 Mei 2026Tidak ada komentar5 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Investor di pasar modal mulai memperhatikan perubahan yang terjadi dalam dinamika bisnis ritel setelah program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto mulai beroperasi. Program ini telah mencapai 1.061 unit dan diperkirakan akan terus berkembang.

Analis dari Panin Sekuritas cabang Pondok Indah, Elandry Pratama, menjelaskan bahwa pasar mulai mengamati potensi dampak dari program tersebut terhadap ruang ekspansi ritel modern, khususnya di wilayah pedesaan. Beberapa saham yang menjadi perhatian antara lain PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI), dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).

Elandry menyampaikan bahwa kekhawatiran investor semakin meningkat setelah adanya pernyataan Menteri Koperasi yang menyarankan agar ritel modern membatasi ekspansi hingga ke desa-desa agar koperasi rakyat memiliki ruang untuk berkembang.

“Sentimen ini memicu tekanan besar pada saham-saham ritel karena pasar khawatir ruang pertumbuhan gerai baru akan lebih terbatas,” kata Elandry kepada Indonesiadiscover.com, Rabu (20/5).

Meskipun demikian, ia menilai dampak kebijakan tersebut tidak sebesar yang dikhawatirkan pasar. Pemerintah disebut tetap memperbolehkan gerai yang sudah beroperasi untuk berjalan normal, sementara pembatasan lebih difokuskan pada ekspansi baru di wilayah pedesaan.

Elandry menilai AMRT dan MIDI sebagai emiten yang paling sensitif terhadap isu tersebut karena model bisnis keduanya bertumpu pada ekspansi gerai yang agresif, termasuk di wilayah tier 2 dan pedesaan. Jika izin pembukaan toko baru semakin selektif, pertumbuhan organik perusahaan berpotensi melambat.

Namun, ia menilai kekuatan jaringan distribusi yang dimiliki kedua emiten tetap menjadi penopang utama. Pertumbuhan laba dinilai tidak lagi hanya bergantung pada pembukaan toko baru, tetapi juga ditopang oleh same store sales growth, efisiensi distribusi, private label hingga pengembangan ekosistem digital dan omnichannel.

AMRT, misalnya, masih menargetkan penambahan sekitar 1.000 gerai baru tahun ini. Hal itu dinilai menunjukkan optimisme perseroan terhadap prospek pertumbuhan bisnis ke depan.

Sementara itu, dampak terhadap DNET diperkirakan relatif lebih kecil. Menurut Elandry, valuasi DNET tidak hanya ditopang bisnis Indomaret, tetapi juga aset digital dan ekosistem teknologi perusahaan.

Adapun ACES dinilai menjadi emiten paling defensif di sektor ritel. Hal ini karena bisnis perseroan lebih fokus pada segmen home living dan lifestyle retail perkotaan sehingga tidak berhadapan langsung dengan Kopdes Merah Putih yang berfokus pada distribusi kebutuhan pokok dan ekonomi desa.

Elandry menilai pelemahan saham ritel belakangan ini lebih banyak dipicu sentimen jangka pendek dibanding perubahan fundamental bisnis secara langsung.

Meski volatilitas diperkirakan masih berlanjut seiring pasar menunggu kejelasan regulasi dan implementasi Kopdes Merah Putih yang ditargetkan mencapai puluhan ribu unit, ia menilai pemain ritel modern besar masih memiliki keunggulan yang sulit disaingi.

Keunggulan tersebut mencakup rantai pasok, distribusi, teknologi, purchasing power, hingga efisiensi operasional.

“Jadi saya melihat Kopdes Merah Putih lebih berpotensi memperlambat laju ekspansi ritel modern di desa dibanding benar-benar mengganggu keberlangsungan bisnis mereka secara keseluruhan,” kata Elandry.

Ia menilai perusahaan ritel besar kemungkinan akan beradaptasi dengan memperkuat digitalisasi, layanan online, serta meningkatkan produktivitas toko yang sudah ada dibanding hanya mengandalkan ekspansi fisik.

Untuk prospek saham, Elandry memperkirakan AMRT masih menarik dengan target jangka menengah di kisaran Rp 2.000 – 2.200 apabila konsumsi domestik membaik dan tekanan sentimen mereda. MIDI diperkirakan berpotensi menuju Rp 380 – 420 karena valuasinya dinilai sudah cukup murah setelah koreksi.

Sementara itu, DNET diperkirakan masih memiliki ruang penguatan ke area Rp 9.400 – 9.800 berkat dukungan valuasi aset dan ekosistem digital. Adapun ACES dinilai tetap defensif dan berpeluang menuju Rp 400 – 450 apabila konsumsi rumah tangga serta sektor properti pulih lebih kuat.

Pandangan berbeda disampaikan Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama. Ia memberikan rekomendasi not rated untuk DNET, wait and see untuk ACES, maintain buy untuk AMRT dengan target harga Rp 1.525, serta buy untuk MIDI dengan target harga Rp 332.

Menurut dia, keberadaan program Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) berpotensi memengaruhi ekspansi ritel modern, khususnya ke wilayah pedesaan.

Nafan menilai target pembentukan sekitar 80 ribu unit Kopdes Merah Putih di seluruh Indonesia akan meningkatkan persaingan di sektor distribusi dan perdagangan ritel.

“Sebenarnya sih ada sentimen negatifnya, tapi sebenarnya saya sudah surprise-in oleh kinerja downtrend. Tapi untung ada dua saham ini yang saya bisa rekomendasikan baik kan tadi kan, seperti itu,” kata Nafan.

Meski demikian, ia menilai sentimen negatif terhadap saham-saham ritel modern sebenarnya sudah lebih dulu tercermin dalam pergerakan harga saham yang mengalami tren penurunan. Menurut dia, tekanan tersebut kini mulai terbatas dan sejumlah saham ritel mulai memasuki fase sideways.

Nafan juga melihat daya beli masyarakat di wilayah perkotaan dan suburban masih relatif solid. Hal itu ditopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap berada di kisaran 5%.

Ia menyoroti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal pertama 2026 yang mencapai 5,61%, didorong oleh konsumsi domestik yang kuat.

Menurut dia, kondisi tersebut masih memberikan ruang bagi emiten ritel modern untuk melanjutkan ekspansi usaha, meski kemungkinan akan ada pembatasan dari pemerintah terkait penetrasi ke wilayah pedesaan.

Gerak Saham Emiten Ritel Melambat
Jika melihat pergerakan saham emiten ritel sejak awal tahun, saham-saham yang memiliki ekspansi kuat di wilayah pedesaan seperti DNET, MIDI dan AMRT menunjukkan pergerakan yang bervariasi setelah muncul wacana pembatasan ekspansi ritel modern di desa.

Saham AMRT tercatat telah terkoreksi 28,10% secara year to date ke level Rp 1.420. Secara tahunan, saham perseroan juga turun 43,20%.

Kondisi serupa terjadi pada MIDI. Harga saham perseroan turun 18,46% sejak awal tahun, meski secara tahunan masih mencatat kenaikan 25,24%.

Berbeda dengan keduanya, DNET justru masih menguat terbatas. Saham perseroan naik 2,48% ke level Rp 9.300 secara year to date, meski secara tahunan masih terkoreksi 7,69%.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Neymar Masuk Timnas Brasil 2026: Profil dan Perjalanan Karier Singkat

24 Mei 2026

VKTR targetkan pertumbuhan pendapatan dua digit pada 2026, lihat rekomendasi analis

23 Mei 2026

Akademisi Binus: Presiden Harus Segera Bubarkan DPN, Kurangi Hak Rakyat di Tengah Krisis Ekonomi

23 Mei 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

6 Tim Inggris Lolos ke Liga Champions 2026/27 Usai Aston Villa Juara Europa, Liverpool Jadi Kuncinya

24 Mei 2026

Harga Tiket Aviary Park dan Paket Liburan Keluarga

24 Mei 2026

5 alasan sakit kepala saat cuaca panas yang sering diabaikan

24 Mei 2026

5 Berita Terpopuler: Alasan Calvin Dores Jual Mata; Tantri Debut Solo “Ibu Pekerja”

24 Mei 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?