Perkembangan Harga Minyak dan Dampaknya terhadap Pasar Global
Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasar energi global. Kondisi ini berdampak langsung pada lonjakan harga minyak, yang membuat investor harus lebih waspada dalam mengambil keputusan investasi.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Jeffrosenberg Chenlim, menjelaskan bahwa arah harga minyak ke depan sangat bergantung pada seberapa cepat konflik dapat mereda atau justru semakin meluas. Ia menilai bahwa eskalasi ketegangan tidak lagi terbatas pada poros Israel–AS–Iran, tetapi mulai merambat ke produsen minyak Teluk lainnya seperti Arab Saudi, Bahrain, dan Uni Emirat Arab. Hal ini meningkatkan risiko terhadap stabilitas pasokan energi global.
Selat Hormuz, yang menjadi jalur penting bagi perdagangan minyak dunia serta volume LNG yang signifikan, tetap menjadi titik krusial. Gangguan berkepanjangan di jalur ini akan berdampak material terhadap pasar energi.
Meski demikian, Jeffrosenberg mengingatkan bahwa secara historis, ketegangan serupa biasanya berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan. Oleh karena itu, peluang untuk de-eskalasi masih terbuka. Daya tahan harga minyak di level tinggi akan sangat ditentukan oleh lamanya gangguan, volume pasokan yang terdampak, serta kecepatan suplai pengganti dari OPEC+, Amerika Serikat, maupun cadangan strategis global.
Jeffrosenberg juga menyarankan investor untuk tidak terburu-buru mengejar kenaikan saham energi hulu saat pembukaan perdagangan, karena pergerakan berbasis sentimen biasanya sangat volatil. Ia menilai terlalu dini untuk mengambil posisi agresif, terutama setelah reli tajam harga minyak.
Dampak Lonjakan Harga Minyak terhadap Ekonomi Indonesia
Dari sisi domestik, Jeffrosenberg menilai lonjakan harga minyak yang berkelanjutan berpotensi menjadi sentimen negatif bagi Indonesia dalam jangka pendek. Sebagai net importir minyak, kenaikan harga minyak mentah dapat memperlebar defisit neraca migas, meningkatkan tekanan subsidi BBM, serta berpotensi memperlebar defisit fiskal apabila harga ritel tidak sepenuhnya disesuaikan.
Selain itu, tekanan terhadap neraca berjalan dan inflasi impor berisiko mendorong depresiasi rupiah. Risiko ini akan semakin terasa apabila kenaikan harga minyak tidak diimbangi oleh penguatan harga komoditas ekspor utama Indonesia seperti CPO dan batu bara.
Tanpa kompensasi dari kenaikan harga komoditas andalan, keseimbangan fiskal dan eksternal akan menghadapi tekanan yang lebih besar.
Prospek Jangka Menengah dan Panjang
Namun dalam jangka menengah hingga panjang, prospeknya dinilai lebih konstruktif apabila tema “war on resources” atau perebutan sumber daya terus menguat. Indonesia, sebagai negara kaya sumber daya seperti nikel, tembaga, emas, dan batu bara, dinilai berada pada posisi strategis di tengah fragmentasi geopolitik dan realokasi rantai pasok global.
Maybank Sekuritas Indonesia merekomendasikan strategi lindung nilai terhadap risiko eskalasi Timur Tengah melalui eksposur selektif pada saham batu bara seperti ADRO, AADI, ITMG, dan INDY; CPO seperti LSIP dan TAPG; serta jasa migas seperti ELSA dan WINS.
Jeffrosenberg menjelaskan, CPO berpotensi diuntungkan dari kenaikan harga minyak melalui dinamika substitusi biofuel, sementara emiten jasa ladang minyak biasanya mencatat peningkatan aktivitas dan ekspansi margin saat harga minyak bertahan tinggi.
Rekomendasi Investasi dan Strategi Pasar
Sebaliknya, ia menyarankan kehati-hatian pada saham konsumer yang berasosiasi dengan merek Barat seperti UNVR, FAST, MAPB, dan MAPA, yang berpotensi terdampak sentimen boikot konsumen. Saham-saham sensitif suku bunga seperti BMRI, BBCA, BBRI, BRIS, BNGA, SMRA, CTRA, dan BSDE juga diperkirakan mengalami volatilitas jangka pendek.
Di sisi lain, Maybank melihat setiap koreksi harga pada logam industri sebagai peluang akumulasi dalam kerangka multi-tahun “war on resources”. Permintaan tembaga diproyeksikan tumbuh sekitar 3%–4% per tahun hingga 2030, didorong adopsi kendaraan listrik yang menggunakan 3–4 kali lebih banyak tembaga dibanding kendaraan konvensional, ekspansi jaringan listrik, serta kebutuhan daya berbasis AI.
Untuk nikel, kekhawatiran surplus mulai bergeser ke potensi pengetatan pasokan ke depan, terutama setelah Indonesia memangkas kuota RKAB 2026 menjadi sekitar 260 juta–270 juta ton dari 379 juta ton pada 2025. Sementara itu, emas tetap dipandang sebagai lindung nilai strategis di tengah eskalasi geopolitik dan diversifikasi cadangan bank sentral global dari dolar AS.
Jeffrosenberg menutup dengan menyatakan bahwa dalam konteks ini, pihaknya akan mengakumulasi produsen logam industri dan logam mulia saat terjadi pelemahan harga, termasuk INCO, ANTM, dan MEDC yang memiliki eksposur tidak langsung ke tembaga dan emas melalui AMMN.



