Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 29 Agustus 2026
Trending
  • 72 Tersangka Karhutla, Mayoritas Petani, Pemodal Utama Masih Mencurigakan
  • Akhir Agustus: 6 Zodiak Mudah Atasi Beban Keuangan
  • Kesalahpahaman sering muncul dalam diskusi kesehatan mental di media sosial
  • Misi John Herman Bawa Timnas Indonesia Juara Piala Dunia ASEAN 2026
  • Kadishub Gowa Berani Bubarkan Apel ASN di Bawah Pimpinan Bupati Husniah Talenrang
  • Terjemahan lirik Studio54 – TOP, bebas hingga luka masa lalu
  • 8 rekomendasi lokasi camping indah di Sentul
  • 15 sunscreen terbaik untuk kulit berminyak dan berjerawat
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Ragam»Kesalahpahaman sering muncul dalam diskusi kesehatan mental di media sosial
Ragam

Kesalahpahaman sering muncul dalam diskusi kesehatan mental di media sosial

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover28 Agustus 2026Tidak ada komentar13 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Sosial media telah mengubah cara masyarakat membicarakan kesehatan mental. Di satu sisi, perubahan ini memberikan dampak yang baik. Kata-kata seperti burnout, kecemasan, trauma, depresi, hubungan toksik, dan self-care yang sebelumnya mungkin hanya dikenal dalam lingkungan kerja kini menjadi bagian dari percakapan harian.

Pemahaman ini layak dihargai. Semakin banyak orang berani membicarakan pengalaman psikologis mereka, mencari dukungan, serta menyadari bahwa kesehatan mental adalah bagian yang penting dari kesehatan secara keseluruhan.

Namun, popularitas topik kesehatan mental di media sosial juga membawa tantangan lain: penyederhanaan yang berlebihan.

Video pendek dengan durasi beberapa puluh detik, unggahan yang menyajikan daftar “tanda-tanda”, kutipan psikologi tanpa latar belakang, hingga materi yang mendorong seseorang melakukan diagnosis diri sendiri dapat membuat masalah psikologis yang rumit terlihat sangat mudah. Sesuatu yang sebenarnya memerlukan penilaian ahli akhirnya dipahami hanya berdasarkan satu atau dua ciri yang secara kebetulan terasa dikenal.

Dalam studi psikologi, tindakan manusia biasanya tidak bisa dijelaskan hanya melalui satu faktor tunggal. Kondisi mental umumnya harus dipahami dengan mempertimbangkan situasi, lamanya kondisi, tingkat keparahan, dampak terhadap kehidupan sehari-hari, riwayat pribadi, serta berbagai kemungkinan alasan lainnya.

Dikutip dari Psychology Today pada Selasa (25/8), terdapat delapan kesalahan yang umum muncul dalam diskusi tentang kesehatan mental di media sosial.

  1. Jika memiliki beberapa tanda berikut, berarti kamu mungkin mengalami gangguan jiwa tertentu

Salah satu jenis konten yang sangat diminati di media sosial adalah daftar gejala.

Contohnya, seseorang membaca unggahan yang berisi:

Jika kamu sering merasa lelah, kesulitan berfokus, kehilangan semangat, dan ingin menyendiri, mungkin kamu sedang mengalami depresi.

Tidak ada masalah dengan informasi mengenai gejala tersebut. Masalah terjadi ketika daftar tersebut digunakan sebagai alat untuk menegakkan diagnosis.

Banyak gejala psikologis bersifat umum. Kesulitan berfokus, perubahan kebiasaan tidur, kelelahan, mudah tersinggung, kehilangan semangat, atau keinginan untuk menyendiri bisa muncul dalam berbagai situasi. Bahkan, kondisi ini juga bisa terjadi ketika seseorang sedang menghadapi tekanan hidup yang berat tanpa berarti ia mengalami gangguan mental tertentu.

 

Tidak ada diagnosis psikologis yang bisa diberikan hanya karena seseorang menunjukkan beberapa gejala yang terdapat dalam unggahan media sosial.

Profesional kesehatan mental biasanya harus memperoleh informasi yang lebih menyeluruh: kapan gejala mulai muncul, seberapa sering terjadi, tingkat keparahannya, bagaimana pengaruhnya terhadap pekerjaan atau pendidikan, hubungan sosial, aktivitas sehari-hari, serta apakah ada faktor lain yang bisa menjelaskan kondisi tersebut.

Oleh karena itu, konten media sosial sebaiknya dijadikan sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai pengganti dari proses penilaian.

Ada perbedaan yang signifikan antara mengatakan:

Beberapa pengalaman ini mungkin perlu diberi perhatian.

dan:

Jika kamu mengalami tiga dari lima hal berikut, berarti kamu mengidap gangguan X.

Pernyataan kedua lebih rumit karena menyajikan kepastian yang tidak bisa diperoleh hanya dari daftar singkat.

  1. Setiap rasa tidak nyaman bisa menjadi tanda adanya cedera emosional atau gangguan psikologis

Kata “trauma” kini sangat sering digunakan dalam percakapan sehari-hari.

Seseorang yang merasa tidak nyaman dalam hubungan bisa menyebut dirinya “trauma”. Seseorang yang malu berbicara di depan umum mungkin menggambarkan dirinya sebagai memiliki “kecemasan sosial”. Seseorang yang sedang lelah bekerja bisa mengatakan dirinya mengalami “burnout”.

Penggunaan istilah psikologi dalam kehidupan sehari-hari tidak selalu keliru. Bahasa memang mengalami perkembangan, sehingga beberapa istilah bisa digunakan secara kiasan.

Masalah timbul ketika istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan seluruh pengalaman manusia secara patologis.

Bukan semua pengalaman buruk dianggap sebagai trauma secara medis. Tidak semua rasa sedih berarti mengalami depresi. Tidak semua kecemasan termasuk gangguan kecemasan. Tidak semua kelelahan bisa dikatakan sebagai burnout.

Manusia memang mampu merasakan sedih, takut, kecewa, marah, malu, bersalah, dan stres. Perasaan-perasaan ini bukan selalu berarti ada sesuatu yang “tidak normal” dalam diri seseorang.

Dalam ilmu psikologi, situasi memainkan peran yang sangat krusial.

Merasa sedih setelah kehilangan seseorang yang dicintai, misalnya, adalah reaksi alami bagi manusia. Sama halnya dengan merasa cemas sebelum wawancara kerja atau ujian, hal tersebut tidak selalu berarti mengalami gangguan kecemasan.

Hal yang harus diperhatikan adalah ketika pengalaman tersebut berada dalam tingkat yang sangat kuat, terjadi secara berulang atau terus-menerus, serta mengganggu kemampuan seseorang dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, tidak semua ketidaknyamanan perlu dikategorikan sebagai gangguan mental.

Terkadang seseorang memang memerlukan bantuan dari ahli. Namun, bantuan tersebut tidak selalu berarti orang tersebut harus memiliki diagnosis khusus terlebih dahulu.

Seseorang diperbolehkan mencari bantuan psikologis karena merasa hidupnya sedang sulit, meskipun ia belum memahami istilah yang tepat untuk menggambarkan pengalamannya.

  1. Perawatan diri berarti terus-menerus melakukan hal-hal yang membuat kita merasa aman dan nyaman

Konsep perawatan diri sering kali disederhanakan oleh media sosial.

Perawatan diri selanjutnya dijelaskan sebagai membeli sesuatu yang disukai, melakukan perjalanan liburan, menonton film, mengonsumsi makanan kesukaan, merawat kulit, atau menghabiskan waktu sendirian.

Segala kegiatan tersebut memang bisa dianggap sebagai bentuk perawatan diri. Namun, self-care tidak berakhir di situ.

Merawat diri terkadang berarti melakukan hal-hal yang tidak selalu terasa menyenangkan.

Mengunjungi konsultan ketika menghadapi masalah kejiwaan merupakan cara untuk merawat diri.

Mengatur jadwal tidur merupakan bagian dari perawatan diri.

Mengucapkan “tidak” saat sudah terlalu banyak memikul tanggung jawab juga bisa menjadi cara untuk merawat diri sendiri.

Menghadapi kesulitan keuangan, meminta dukungan, menyelesaikan perselisihan dengan cara yang sehat, atau mengurangi kebiasaan yang merugikan diri sendiri juga bisa menjadi bagian dari perawatan diri.

Oleh karena itu, perawatan diri tidak boleh dianggap sama dengan “membuat diri menjadi lebih nyaman”.

Lebih akurat jika self-care diartikan sebagai berbagai tindakan yang bermanfaat bagi seseorang dalam menjaga atau meningkatkan kesejahteraan fisik dan mentalnya.

Terkadang, perawatan diri berupa istirahat.

Ada kalanya berbentuk batasan.

Terkadang berupa perubahan kebiasaan.

Dan terkadang berbentuk mencari bantuan dari ahli.

  1. Menjaga pikiran yang positif merupakan cara mengatasi berbagai masalah psikologis

Pesan seperti “ubah pikiranmu”, “jangan terlalu memikirkan terlalu dalam”, “selalu berpikir positif”, atau “hanya bersyukur saja” terdengar sederhana dan kadang bisa memberikan dorongan.

Namun, menganggapnya sebagai solusi yang cocok untuk semua masalah psikologis adalah kesalahan.

Masalah psikologis tidak selalu muncul karena seseorang “tidak cukup optimis”.

 

Seseorang yang mengalami depresi, misalnya, tidak secara langsung mampu keluar dari kondisinya hanya dengan memaksa dirinya untuk berpikir positif. Demikian pula, seseorang yang mengalami rasa cemas tidak bisa segera menghilangkan kecemasannya hanya dengan mengatakan pada dirinya sendiri bahwa “semuanya akan baik-baik saja”.

Bahkan, permintaan untuk selalu bersikap positif bisa menghasilkan masalah yang baru.

Seseorang mungkin mulai merasa bersalah karena masih merasa sedih.

Ia berpikir, “Seharusnya aku merasa bersyukur.”

Atau, “Orang lain lebih sulit daripada aku, jadi aku tidak boleh merasa demikian.”

Meskipun mengakui bahwa kita sedang merasakan emosi yang tidak menyenangkan bukan berarti menyerah pada situasi tersebut.

Dalam pendekatan psikologis yang saat ini digunakan, kemampuan mengidentifikasi dan menerima perasaan merupakan komponen krusial dalam pengelolaan emosi. Tujuannya bukan untuk membuat seseorang selalu senang, tetapi membantu individu merespons pengalaman batinnya dengan cara yang lebih sesuai.

Kita bisa merasa bersyukur sekaligus sedih.

Kita mampu mencintai anggota keluarga sambil merasa kecewa.

Kita mampu menjalani kehidupan yang cukup baik sambil merasakan rasa cemas.

Perasaan manusia tidak selalu perlu termasuk dalam kategori “positif” untuk dianggap sah.

  1. Orang yang memiliki kekuatan pikiran tidak boleh menangis atau meminta pertolongan

Mitologi ini telah lama ada, namun media sosial sering kali memperkuatnya dalam wujud yang baru.

Kisah seperti “mental kuat berarti tidak mudah terpengaruh”, “jangan mengeluh”, atau “orang sukses tidak punya waktu untuk sedih” membentuk pandangan bahwa ketangguhan psikologis berarti mampu menghadapi segala hal sendirian.

Di dalam psikologi, ketahanan mental tidak berarti tidak pernah mengalami kesulitan batin.

Seseorang yang kuat tetap bisa merasakan ketakutan.

Tetap dapat menangis.

Tetap dapat mengalami kegagalan.

Tetap dapat meminta bantuan.

Bahkan, kemampuan untuk menyadari batasan diri dan mencari bantuan saat dibutuhkan bisa menjadi bagian dari penyesuaian yang baik.

Mengajukan bantuan tidak selalu berarti kelemahan.

Manusia merupakan makhluk yang membutuhkan interaksi sosial. Bantuan dari keluarga, sahabat, lingkungan masyarakat, psikolog, dokter jiwa, atau profesional lainnya bisa menjadi faktor penting dalam menghadapi masa-masa sulit.

 

Kendala yang sering terjadi adalah budaya “harus kuat” yang terkadang membuat seseorang menunda mencari bantuan hingga keadaannya semakin memburuk.

Oleh karena itu, frasa “kamu harus kuat” sebaiknya tidak digunakan untuk menenangkan seseorang yang sedang menghadapi kesulitan.

Terkadang bentuk kekuatan justru adalah dengan berkata:

Saya sedang tidak dalam keadaan baik dan memerlukan bantuan.

  1. Jika seseorang mencintaimu, dia mampu memperbaiki luka batinmu

Konten mengenai hubungan cinta sering menghubungkan pasangan dengan proses pemulihan mental.

Sebagai contoh, muncul pemikiran bahwa pasangan yang sesuai akan “menyembuhkan luka batin”, “mengatasi kecemasan”, atau membuat seseorang tidak lagi memerlukan bantuan dari ahli.

Hubungan yang baik memang mampu memberikan dukungan emosional yang sangat bermakna. Perasaan aman, penerimaan, keakraban, serta dukungan sosial bisa memiliki peran penting terhadap kesejahteraan mental.

Namun, pasangan bukan terapis.

Tidak seharusnya seseorang dianggap bertanggung jawab untuk menjadi satu-satunya pengatur emosi atau “pahlawan” dalam hubungan pasangannya.

Jika seluruh kesejahteraan psikologis seseorang bergantung pada satu individu, hubungan tersebut justru bisa menjadi beban berat bagi kedua belah pihak.

Dalam hubungan yang sehat, pasangan mampu mengungkapkan:

“Aku ada untuk mendengarkanmu.”

Namun ia juga bisa berkata:

Saya ingin mendukungmu, namun masalah ini mungkin memerlukan bantuan ahli.

Perbedaan ini penting.

Dukungan dari pasangan serta bantuan psikologis bukanlah dua hal yang saling menggantikan. Keduanya bisa berlangsung bersamaan.

  1. Segala tindakan negatif muncul dari gangguan kesehatan jiwa

Ini adalah kesalahan yang cukup berbahaya karena bisa menggabungkan penjelasan psikologis dengan pembenaran tindakan.

Contohnya:

IA kasar karena mengalami trauma.

Dia berselingkuh karena masalah ketergantungan emosional.

“Dia manipulatif karena narcissistic.”

Ia melukaimu karena masa kecilnya yang tidak menyenangkan.

Mengerti latar belakang psikologis seseorang bisa membantu menjelaskan mengapa suatu tindakan terjadi. Namun, memahami tidak berarti menyetujui.

Seseorang mungkin mengalami pengalaman masa lalu yang menyebabkan rasa sakit, namun tetap bertanggung jawab dalam cara ia bersikap terhadap orang lain.

Demikian pula, tidak semua tindakan negatif mencerminkan adanya gangguan psikologis.

Kata-kata seperti “narsistik”, “gaslighting”, “bipolar”, “sosiopat”, dan “trauma” sering dipakai di media sosial sebagai istilah untuk menggambarkan seseorang yang tingkah lakunya tidak kita sukai.

Meskipun demikian, penggunaan istilah medis secara asal dapat menimbulkan dua masalah.

Pertama, seseorang yang sebenarnya tidak mengalami kondisi tertentu bisa diberi label yang salah.

Kedua, masyarakat bisa mempunyai kesalahpahaman mengenai seseorang yang benar-benar mengalami gangguan psikologis.

Oleh karena itu, lebih baik menggambarkan perilaku nyata daripada segera memberikan diagnosis.

Daripada berkata, “Dia narsistik,” seseorang bisa mengatakan, “Dia sering mengabaikan perasaanku dan menolak untuk bertanggung jawab atas tindakannya.”

Deskripsi tersebut jauh lebih jelas dan tidak memerlukan pemeriksaan dari jauh.

  1. Satu metode psikologi cocok untuk seluruh manusia

Sosial media mengapresiasi solusi yang efisien.

Lakukan hal ini selama lima menit.

Ketiga hal yang harus ditulis setiap pagi.

Terapkan metode ini untuk mengurangi rasa cemas.

Lakukan cara ini dan luka batin akan pulih.

Jenis konten ini dapat berfungsi sebagai bahan pembelajaran atau langkah awal. Namun, psikologi bukan sekadar kumpulan trik umum yang menghasilkan efek serupa bagi setiap individu.

Setiap individu memiliki latar belakang, kebutuhan, sifat, kondisi sosial, pengalaman hidup, dan tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

Cara yang bermanfaat bagi seseorang mungkin tidak efisien untuk orang lain.

Dalam terapi psikologis, tidak ada satu pendekatan yang secara otomatis cocok untuk semua masalah. Intervensi biasanya harus disesuaikan dengan permasalahan, tujuan, sifat individu, serta situasinya.

Selain itu, terdapat perbedaan antara cara menghadapi stres sehari-hari dan tindakan yang diperlukan untuk gangguan psikologis yang memerlukan bantuan ahli.

Latihan pernapasan bisa bermanfaat bagi seseorang yang sedang merasa kaku. Menulis jurnal mungkin bisa membantu seseorang lebih memahami pikirannya sendiri. Kegiatan fisik bisa berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan secara keseluruhan.

Namun, keberadaan metode tersebut tidak berarti seseorang wajib menggunakannya sebagai pengganti penilaian ahli ketika masalahnya sudah parah atau mengganggu kemampuan beraktivitas.

Mengapa informasi kesehatan mental yang terdapat di media sosial perlu dihadapi dengan kritis?

Masalah utama dalam media sosial bukanlah karena seluruh konten tentang kesehatan mental bersifat negatif.

Justru sebaliknya, banyak materi yang bisa membantu masyarakat memahami permasalahan psikologis, mengurangi prasangka, serta mengetahui saatnya untuk mencari bantuan.

Masalahnya adalah algoritma media sosial cenderung lebih memilih konten yang sederhana, penuh emosi, mudah dipahami, dan gampang disebarkan.

Kalimat seperti:

“7 tanda kamu mengalami trauma masa kecil”

lebih mudah menarik perhatian dibandingkan dengan penjelasan panjang mengenai kompleksitas penilaian psikologis.

Daftar gejala juga menawarkan pengalaman yang terasa sangat pribadi. Seseorang membaca sebuah tulisan dan berkata, “Ini benar-benar aku!” Daftar gejala juga memberikan kesan yang sangat individual. Seseorang membaca suatu materi dan mengatakan, “Ini seperti aku!” Daftar gejala juga menciptakan pengalaman yang terasa sangat personal. Seseorang membaca sebuah artikel dan berkata, “Ini pasti aku!”

Emosi tersebut dapat dianggap sah sebagai pengalaman perasaan, namun belum tentu sah sebagai diagnosis.

Oleh karena itu, literasi kesehatan mental seharusnya tidak hanya terbatas pada pemahaman akan istilah-istilah psikologis. Literasi juga mencakup kesadaran akan batasan dari informasi yang kita terima.

Bagaimana cara menjadi pengguna informasi psikologi yang lebih kritis?

Beberapa pertanyaan mudah yang bisa diajukan saat menemukan materi kesehatan mental di media sosial.

  1. Siapa yang menghasilkan materi tersebut?

Apakah pembuatnya memiliki pengalaman atau latar belakang yang sesuai? Jika tidak, apakah ia dengan jelas menyatakan bahwa isi tersebut merupakan pengalaman pribadi atau pendapatnya?

Pengalaman pribadi tetap bernilai, namun pengalaman seseorang tidak secara otomatis dapat dijadikan bukti ilmiah yang berlaku bagi semua orang.

  1. Apakah klaimnya terlalu mutlak?

Hati-hatilah dengan frasa seperti “pasti”, “selalu”, “100 persen”, “semua orang”, atau “jika begitu berarti kamu sedang mengalami X”.

Psikologi manusia umumnya jauh lebih rumit dibandingkan hubungan satu gejala dengan satu diagnosis.

  1. Apakah sumbernya jelas?

Isi yang menyebutkan penelitian seharusnya memungkinkan pembaca untuk mengetahui sumber informasi tersebut. Jangan menganggap suatu pernyataan ilmiah benar hanya karena menggunakan istilah akademis.

  1. Apakah isi tersebut mendorong diagnosis mandiri?

Jika suatu materi membuat kita percaya bahwa diri kita sendiri atau orang lain mengidap gangguan tertentu hanya karena beberapa gejala, sebaiknya waspada.

Diagnosis merupakan proses yang dilakukan oleh ahli, bukan sekadar permainan di media sosial.

  1. Apakah materi tersebut menawarkan penyelesaian yang terlalu mudah?

Semakin rumit suatu masalah, semakin wajar untuk mencurigai jika jawabannya hanya satu langkah yang diklaim mampu menyelesaikan segalanya.

Penutup: kesehatan mental memerlukan pemahaman, bukan hanya sekadar label

Peningkatan diskusi mengenai kesehatan mental di media sosial secara umum merupakan kemajuan yang baik. Masyarakat semakin terbuka terhadap psikologi dan semakin banyak orang menyadari betapa pentingnya menjaga kesejahteraan mental.

Namun, tingkat kepopuleran suatu istilah tidak selalu menunjukkan bahwa pemahamannya sudah benar.

Trauma bukan hanya istilah untuk setiap kejadian negatif. Depresi bukan sekadar merasa sedih. Kecemasan bukan hanya rasa gugup. Kelelahan bukan hanya kelelahan akibat pekerjaan. Perawatan diri bukan hanya memperhatikan diri sendiri. Dan kesehatan mental bukan sekadar kumpulan label yang bisa kita tempelkan pada diri sendiri maupun orang lain.

Psikologi mengajarkan bahwa tindakan manusia harus dipahami dalam situasi tertentu.

Oleh karena itu, ketika menemukan materi tentang kesehatan mental di media sosial, kita tidak perlu langsung menolaknya, tetapi juga tidak sebaiknya langsung percaya sepenuhnya.

Berhenti sejenak. Periksa sumber informasinya. Pahami situasinya. Pisahkan antara edukasi dengan diagnosis. Dan ketika masalah tersebut mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu untuk meminta bantuan dari ahli yang berkompeten.

Pada akhirnya, tujuan dari literasi kesehatan mental bukanlah membuat kita mampu mendiagnosis diri sendiri atau orang lain.

Tujuan dari ini adalah membantu kita lebih memahami diri sendiri, memahami orang lain, mengurangi prasangka, serta mengetahui kapan harus meminta bantuan. (jpc)

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Terjemahan lirik Studio54 – TOP, bebas hingga luka masa lalu

28 Agustus 2026

15 sunscreen terbaik untuk kulit berminyak dan berjerawat

28 Agustus 2026

Terjemahan lirik MoneyMoneyMoney – Cortis: Uang di Saku Saya

28 Agustus 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

72 Tersangka Karhutla, Mayoritas Petani, Pemodal Utama Masih Mencurigakan

29 Agustus 2026

Akhir Agustus: 6 Zodiak Mudah Atasi Beban Keuangan

28 Agustus 2026

Kesalahpahaman sering muncul dalam diskusi kesehatan mental di media sosial

28 Agustus 2026

Misi John Herman Bawa Timnas Indonesia Juara Piala Dunia ASEAN 2026

28 Agustus 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?