Kenaikan Harga BBM Berpotensi Mendorong Inflasi
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp1.000 per liter diperkirakan dapat memengaruhi inflasi hingga 1,1 persen. Hal ini disampaikan oleh ekonom Telisa Aulia Falianty yang menyoroti dampak kenaikan BBM terhadap berbagai sektor ekonomi. Menurutnya, kenaikan harga BBM tidak hanya berdampak pada biaya transportasi dan produksi, tetapi juga berpotensi meningkatkan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Dampak Ekonomi yang Meluas
Dampak kenaikan harga BBM tidak hanya terbatas pada sektor energi. Biaya produksi dan distribusi yang meningkat akan berujung pada kenaikan harga barang dan jasa di pasar. Sejumlah sektor seperti listrik, gas, air, serta konstruksi akan mengalami tekanan akibat kenaikan harga BBM. Selain itu, sektor angkutan darat dan kereta api juga akan merasakan dampak langsung dari kenaikan harga bahan bakar tersebut.
Sektor bangunan juga tidak terlepas dari pengaruh kenaikan BBM karena bahan bakar menjadi salah satu komponen penting dalam kegiatan konstruksi. Dengan demikian, kenaikan harga BBM dapat memberikan tekanan secara bersamaan melalui berbagai kegiatan ekonomi.
Pengaruh pada Konsumsi Rumah Tangga
Bagi masyarakat, kenaikan harga BBM berdampak langsung pada kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan konsumsi. Hasil riset dan pemodelan menunjukkan bahwa kenaikan harga BBM berdampak pada konsumsi rumah tangga, Produk Domestik Bruto (PDB), pertumbuhan PDB hingga lapangan kerja. Artinya, persoalan BBM tidak hanya terkait dengan harga bahan bakar di tingkat konsumen, tetapi juga memengaruhi aktivitas ekonomi di sektor lain.
Dalam simulasi yang dilakukan pada 2022 saat terjadi perang Rusia-Ukraina dan harga komoditas melonjak, dampak kenaikan harga BBM terhadap inflasi juga dihitung berdasarkan jenis BBM. Untuk Pertamax, koefisien magnitude dalam simulasi tersebut mencapai 1,44. Sementara Pertalite memiliki koefisien 0,4 dan solar 0,5.
Perubahan Pola Konsumsi
Telisa mengingatkan bahwa angka-angka tersebut merupakan hasil simulasi pada tahun 2022. Menurutnya, pola konsumsi masyarakat sekarang sudah mengalami perubahan sehingga koefisiennya dapat berbeda. Perhitungan menggunakan input-output dalam simulasi tersebut juga menunjukkan koefisien multiplier sebesar 2,03. Sementara total dampak dengan multiplier eksternal mencapai 1,29.
Menurut Telisa, angka multiplier lebih dari satu menunjukkan efek BBM terhadap sektor lainnya cukup tinggi. Karena itu, kebijakan terkait BBM tidak dapat dilihat secara parsial. Ia menekankan perlunya melihat kebijakan BBM dari sudut pandang jaringan dan framework makroekonomi secara keseluruhan.
Dampak Jangka Pendek dan Panjang
Dari berbagai hasil riset dan pemodelan yang dipaparkan, kenaikan harga BBM disebut memiliki dampak cukup signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan konsumsi rumah tangga. Untuk inflasi, Telisa menjelaskan dampaknya terutama terlihat dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, pengaruhnya terhadap inflasi menjadi lebih marginal.



