Close Menu
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Facebook X (Twitter) Instagram
Sabtu, 15 Agustus 2026
Trending
  • Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan
  • Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026
  • 10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman
  • 5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl
  • Kunjungan ke Pabrik Yamaha, Komunitas XMAX Bali Jelajahi Standar Produksi Global
  • Video Call dengan Bayi: Termasuk Screen Time? Ini Jawabannya
  • Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa
  • Terdakwa Korupsi Rp 300 M Soroti Bukti Kerugian dan Validitas Audit
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok Threads RSS
Indonesia Discover
Login
  • Nasional
    • Daerah
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
    • Hiburan
    • Otomotif
    • Pariwisata
    • Teknologi
  • Olahraga
  • Login
Indonesia Discover
  • Nasional
  • Internasional
  • Ekonomi
  • Politik
  • Hukum
  • Ragam
  • Olahraga
  • Login
Home»Nasional»Ekonomi»Kapasitas Naik 2,5 Kali, Prospek PGEO Masih Cerah di 2026
Ekonomi

Kapasitas Naik 2,5 Kali, Prospek PGEO Masih Cerah di 2026

admin_indonesiadiscoverBy admin_indonesiadiscover16 Mei 2026Tidak ada komentar4 Mins Read
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
Share
Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link

Prospek Kinerja PGEO Tahun 2026 Dinilai Menjanjikan

PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) terus menunjukkan prospek kinerja yang menjanjikan sepanjang tahun 2026. Hal ini didorong oleh ekspansi kapasitas pembangkit listrik tenaga panas bumi dan peningkatan efisiensi operasional. Target perusahaan adalah meningkatkan kapasitas terpasang dari saat ini sebesar 727 megawatt (MW) menjadi 1 gigawatt (GW) pada 2028, lalu mencapai sekitar 1,8 GW pada 2033.

Strategi ekspansi ini sejalan dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034, di mana Indonesia menargetkan tambahan kapasitas listrik sebesar 69,5 GW. Dalam jangka pendek hingga 2028, PGEO akan fokus menggarap proyek-proyek berisiko rendah dengan visibilitas tinggi, seperti Hulu Lais Unit 1 dan 2, Ulubelu Binary, Lahendong Low Pressure Binary, serta Lumut Balai Binary.

Kinerja Keuangan PGEO pada Kuartal I-2026

Dari laporan keuangan, pendapatan PGEO meningkat 14,83% year on year (yoy) menjadi US$ 116,56 juta pada kuartal I-2026. Sedangkan pada kuartal I-2025, anak usaha PT Pertamina (Persero) ini meraih pendapatan US$ 101,51 juta. Laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 43,91 juta per akhir kuartal I-2026. Angka ini meningkat 40,01% yoy dibandingkan realisasi kuartal I-2025 yakni US$ 31,37 juta.

Menurut Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, kinerja PGEO sepanjang 2026 diproyeksikan tetap tumbuh stabil meski mulai memasuki fase konsolidasi. Kenaikan pendapatan tersebut terutama didorong oleh optimalisasi penuh kapasitas Lumut Balai Unit 2 yang mulai beroperasi sejak Juni 2025. Namun, secara kuartalan (qoq), pertumbuhan pendapatan memang relatif landai karena belum ada tambahan kapasitas baru pasca kuartal I 2026.

Efisiensi Operasional dan Positioning Finansial

Efisiensi operasional PGEO dinilai membaik signifikan, terlihat dari peningkatan gross profit margin (GPM) menjadi 58%. Hal ini didukung oleh berkurangnya beban non-rutin seperti biaya Management Employee Stock Ownership Program (MESOP). Selain itu, posisi kas PGEO yang mencapai Rp 12,6 triliun dengan rasio debt to equity ratio (DER) rendah di level 0,46 kali juga menjadi penopang fundamental perusahaan hingga akhir tahun.

Analis Phillip Sekuritas, Helen, dalam riset 10 April 2026 mencatat produksi listrik PGEO meningkat menjadi 2.713 GWh dan produksi uap mencapai 2.382 GWh, sehingga total produksi tahun 2025 mencapai 5.095 GWh atau naik 5,6% YoY. Kinerja kuat ini ditopang oleh rekor produksi tertinggi sepanjang sejarah, didukung peningkatan load factor dan tambahan kapasitas terpasang sebesar 55 MW setelah Lumut Balai Unit 2 mulai beroperasi (COD) pada Juni 2025. PGEO pun menargetkan produksi listrik sekitar 5.255 GWh pada sepanjang 2026 atau tumbuh 3,14% YoY.

Prospek Kinerja dan Katalis Eksternal

Prospek kinerja PGEO diperkuat oleh optimalisasi berkelanjutan pada pembangkit eksisting serta pelaksanaan program pemeliharaan yang disiplin sepanjang tahun. Brigita menambahkan, selain ekspansi kapasitas, terdapat sejumlah katalis lain yang berpotensi menopang pergerakan saham PGEO ke depan.

Dari sisi internal, percepatan proyek co-generation dan teknologi binary di wilayah Ulubelu dan Lahendong dinilai membuka peluang penambahan kapasitas tanpa perlu pengeboran sumur baru yang berisiko tinggi. Efisiensi operasional yang berkelanjutan juga berpotensi menjaga margin tetap tinggi di atas ekspektasi pasar.

Dari sisi makro, ketegangan geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi fosil dinilai dapat mempercepat transisi menuju energi baru terbarukan sebagai bagian strategi ketahanan energi nasional. Selain itu, implementasi bursa karbon dan berbagai insentif sektor EBT di Indonesia juga dipandang menjadi katalis jangka panjang yang dapat meningkatkan minat investor berbasis environmental, social, and governance (ESG) terhadap saham PGEO.

Risiko dan Inisiatif Baru

Analis Bahana Sekuritas, Jeremy Mikael, mencermati sejumlah risiko utama yang perlu dicermati, antara lain keterlambatan proyek, biaya kas yang lebih tinggi dari perkiraan, average selling price (ASP) yang lebih rendah dari ekspektasi, capacity factor yang melemah, serta tingginya ketergantungan terhadap satu pembeli utama, yakni PT PLN.

Namun, Jeremy juga mencermati PGEO secara bertahap mulai memperluas bisnis di luar inti panas bumi menuju inisiatif off-grid dan hilirisasi tertentu. Inisiatif tersebut mencakup pengembangan green hydrogen dan green ammonia yang memanfaatkan kapasitas baseload perusahaan, serta aplikasi tahap awal seperti green data center dengan target COD pada 2028 dan kapasitas awal sekitar 5 MW.

Proyeksi Pendapatan dan Rekomendasi Analis

Helen memproyeksi pendapatan PGEO pada sepanjang 2026 dapat meningkat 4,0% menjadi US$ 450,2 juta, dibandingkan dengan realisasi full year 2025 sebesar US$ 432,7 juta. Sejalan dengan itu, laba bersih PGEO juga diperkirakan naik 7,3% menjadi US$ 147,7 juta dari posisi tahun lalu yang US$ 137,7 juta. Helen memberikan rekomendasi untuk buy saham PGEO dengan target harga Rp 1.550 per saham.

Jeremy juga memberikan rekomendasi untuk buy saham PGEO dengan target harga Rp 1.700 per saham. Sementara Brigita memberikan rekomendasi kepada investor untuk hold saham PGEO dengan target harga Rp 1.100 per saham.

Share. Facebook Twitter Email Telegram WhatsApp Threads Copy Link
admin_indonesiadiscover
  • Website

Berita Terkait

Penawaran Umum RANS Ditutup Besok, Jutaan Investor Antre Daftar di Bursa

11 Juli 2026

BEI Evaluasi Aturan Papan Pemantauan Khusus

11 Juli 2026

Bursa Asia Tertekan Selasa (7/7) Akibat Kenaikan Laba Samsung dan Pelemahan Yen

11 Juli 2026
Leave A Reply Cancel Reply

Berita Terbaru

Mentan Amran Gandeng KNPI Untuk Kawal Ketahanan Pangan

2 Agustus 2026

Dua SBU Tercatat Dicabut Sebelum Pemilihan, Surat Rektor UIN SATU Tulungagung Klaim Masih Berlaku hingga 2026

14 Juli 2026

10 Merek Sepatu Wanita Lokal Berkualitas dan Nyaman

11 Juli 2026

5 film superhero flop yang debutnya masih mengalahkan Supergirl

11 Juli 2026
© 2026 IndonesiaDiscover. Designed by Indonesiadiscover.com.
  • Home
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • PT. Indonesia Discover Multimedia
  • Indeks Berita

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?